Portal Informasi Generasi Berakhlak Mulia

Nur Khasanah: Menembus Batas Kesulitan Meraih Prestasi

 

Bagi orang-orang bermental juara, kemiskinan bukan menjadi halangan berarti untuk berprestasi. Justru kemiskinan menjadi pemicu semangat untuk terus belajar dan  menaklukan menghadapi masalah yang menghadang.

PENDIDIKAN ISLAM – Sosoknya bisa dibilang menjadi antitesa dari orang-orang yang menyerah kalah terhadap keterbatasan. Terlahir sebagai anak petani dan tukang kayu serabutan tidak menghalangi langkah alumnus pesantren Wathoniyah Islamiyah Cilacap ini menjadi mahasiswi terbaik di salah satu Universitas terbaik di ibu kota, UIN Syarif Hidayatullah.   

Nur Khasanah, demikian nama gadis yang di keluarganya akrab disapa Nur dan di kampus biasa dipanggil Kaha ini. Gadis kelahiran Cilacap,  20 Maret 1987, ini merupakan anak dari dari empat bersaudara dari pasangan Mad Roziqin dan Partini. Lahir dan besar di lingkungan pedesaan yang jauh dari perkotaan dan fasilitas terbatas, membuat alumnus SD Negeri Adimulya 04 itu tumbuh menjadi anak yang gigih. Harus berjalan kaki setiap hari dari rumah ke sekolah yang berjarak cukup jauh karena tak memiliki sepeda dan belum ada angkutan umum, tidak menghalanginya untuk berprestasi di sekolah. Bahkan ia lulus SD dengan meraih NEM (Nilai Ebtanas Murni) tertinggi sehingga dengan ia diterima di SLTP Negeri 01 Wanareja.

Sejak kecil Nur selalu dididik untuk selalu bersikap jujur dalam kondisi apa pun. Ada sebuah kisah menarik tentang kejujurannya ketika Nur berada di tahun pertama belajarnya di MA WATHONIYAH ISLAMIYAH. Nur yang lulusan SMP negeri terkejut dengan banyak mata pelajaran harus ia ikuti di sekolah barunya. Apalagi sebagian pelajaran itu menggunakan bahasa arab gundul dalam buku pegangannya. Nur pun berusaha mengejar ketertinggalannya dengan gigih. Hasilnya, meski masih dalam proses adaptasi dari sekolah umum ke madrasah yang menerapkan kurikulum ala pesantren, siswi yang gemar berorganisasi ini berhasil menyabet peringkat dua di kelasnya saat ujian akhir semester I.

Di semester dua Nur mulai bisa menyesuaikan diri dengan irama belajar di sekolahnya. Meski begitu tak urung ia terkejut juga ketika dalam acara wisuda kakak kelasnya ia diumumkan sebagai juara umum di sekolahnya, dengan perolehan nilai yang cukup fantastis, dan mendapat hadiah utama berupa pengembalian uang SPP selama satu semester. Sepulang sekolah, Nur yang masih belum percaya dengan prestasinya tersebut lalu menghitung nilai-nilai yang diperolehnya. Ternyata dugaannya benar, ada kesalahan dalam penetapannya sebagai juara umum. Nilai rata-ratanya tak sebesar yang disebutkan ketika pengumuman juara umum. Berkali-kali Nur menghitung dan hasilnya tetap sama.

Nur, yang sempat merasa senang karena dapat juara umum, mendadak galau. Ia merasa tidak berhak menyandang gelar tersebut. Ia juga merasa tidak berhak mendapat hadiah berupa pengembalian uang sekolah selama satu semester. Bukan hal yang mudah bagi keluarga yang miskin sepertinya. Diceritakan semua persoalannya kepada kedua orang tua. Awalnya mereka bilang itu bukan kesalahannya, namun Nur bersikukuh bahwa uang itu bukan haknya, dan ia harus mengembalikannya ke pihak sekolah untuk diberikan kepada yang lebih berhak. Akhirnya, orang tuanya memahami jalan pikirannya dan menyetujui untuk melaporkan kesalahan penghitungan nilai raport tersebut kepada sekolah. Sebuah kejujuran yang sangat berharga di negeri di mana kejujuran menjadi barang yang semakin langka.

Beasiswa Santri Berprestasi

Kesalahan ini, kemudian memotivasinya untuk belajar lebih giat lagi. Nur ingin membuktikan kepada dirinya bahwa ia benar-benar mampu meraih juara umum. Hasilnya, dua semester berturut-turut ia bisa meraih gelar tersebut. Nur berharap prestasi itu bisa sedikit mengobati rasa lelah dan penat orang tuanya yang sudah bersusah payah membiayainya. Namun perjuangan belum selesai. Meski prestasi demi prestasi telah digenggamnya bukan berarti Nur bisa bebas melenggang untuk masuk perguruan tinggi. Banyak kendala yang menghadang, salah satunya adalah ekonomi orang tuanya yang sulit diharapkan untuk membiaya kuliahnya

Namun Allah tak pernah menyia-nyiakan jerih payah hamba-Nya. Allah menjawab doa dan harapan Nur. Di tengah kebingungannya mencari biaya kuliah, Kementrian Agama Kanwil Semarang mengirimkan surat pemberitahuan seleksi calon penerima beasiswa PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi). Pimpinan yayasan dan kepala sekolah Nur langsung memanggilnya. Ia dan tiga temannya didaftarkan untuk mengikuti seleksi beasiswa tersebut.

Setelah mengikuti ujian seleksi, dan menunggu dengan harap-harap cemas selama beberapa minggu, akhirnya pengumuman kelulusan dari panitia pun keluar. Dan Nur Khasanan menjadi salah satu dari orang santri dari pesantrennya yang diterima. Tak tanggung-tanggung, ia diterima di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan Program Studi Kesehatan Masyarakat. Ia berhak mendapatkan biaya kuliah gratis dan living cost selama kuliah. Tak terbilang betapa senang dan harunya NUr beserta kedua orang tuanya. Akhirnya cita-citanya untuk kuliah tanpa membebeni orang tua tercapai.

Pada hari yang telah ditentukan. Seluruh santri yang lolos seleksi PBSB pun berkumpul di kampus masing-masing untuk mengikuti matrikulasi. Di Kampus Ciputat, berjumpa dengan belasan santri PBSB lain yang berasal dari berbagai provinsi dengan keunikan masing-masing. Nur senang karena ia bisa belajar menghargai keragaman dan perbedaan.

Tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas yang Allah berikan kepadanya, Nur belajar dengan kegigihan yang luar biasa. Prestasinya terus meningkat sampai berhasil meraih IPK 4 pada semester 3 dan berhak mendapatkan penghargaan dari Kementrtian Agama RI pada pertemuan tahunan seluruh santri penerima beasiswa PBSB. Meski begitu Nur belum puas. Ia ingin sekali menyamai seorang kakak tingkatnya dari IPB yang berhasil mendapatkan hadiah laptop karena berhasil menjadi mahasiswa terbaik selama dua tahun berturut-turut. Dalam hati ia bertekat untuk bisa meraih impiannya.

Semester empat dan lima adalah waktu di mana perkuliahan semakin padat, dengan banyak sekali tugas-tugas praktikum, membuat makalah, tugas lapangan dan sebagainya. Tapi di sela-sela kesibukan perkuliahan, Nur tetap menyempatkan dirinya mengikuti beberapa kegiatan. Diantaranya ikut menjadi pengurus BEM Jurusan Kesehatan Masyarakat sebagai tim riset, pengurus remaja masjid kampus, dan pengurus CSS MoRA (organisasi mahasiswa penerima bea siswa PBSB) cabang UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Nur mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut untuk melatih dirinya agar bisa membagi waktu dengan baik. Meski tidak mendapat nilai sempurna, setidaknya nilainya masih yang tertinggi diantara teman-temannya. Karena kesibukannya yang super padat inilah, ia sempat dirawat di RS karena sakit Typus, bertapatan dengan masa-masa ujian akhir semester. BUkan NUr namanya kalau menyerah pada keadaan. Meski belum pulih ia memaksakan diri mengikuti ujian susulan. Dan hasilnya, tetap saja ia mendapat nilai yang terbaik.

Awal semester enam, Nur terpilih menjadi pengurus CSS MoRA Nasional dan menjadi satu-satunya wanita diantara pengurus tersebut. Periode kepengurusannya cukup lama yaitu dua tahun dan berarti ia akan tercatat sebagai pengurus sampai semester sembilan atau sampai ia lulus kuliah. Ia merasa senang bisa ikut andil memajukan CSS MoRA, karena periode kepengurusannya adalah periode awal-awal organisasi ini berdiri sehingga tantangan besar baginya adalah untuk memantapkan dasar-dasar keorganisasian. Selain itu, Nur juga merasa beruntung menjadi pengurus organisasi ini karena bisa berkunjung ke berbagai daerah seperti Yogyakarta, Semarang, Bandung, Surabaya dan beberapa daerah lain.

Nur benar-benar menikmati dunia perkuliahan ketika masuk ke semester-semester akhir. Kegiatan perkuliahan sudah tidak begitu padat, hanya kegiatan magang dan penyusunan skripsi. Sebagian besar waktunya ia habiskan untuk berbagai macam kegiatan di luar kampus, Bahkan ia terpilih bersama sepuluh teman untuk mengikuti penelitian kesehatan bersama orang perancis di daerah Tangerang selama satu bulan. Ia juga pernah menjadi asisten dosen dan terlibat aktif dalam penelitian-penelitian.

Menjelang kelulusan Nur juga diminta oleh sebuah perusahan katering untuk bekerja di perusahaannya sebagai ahli gizi. Di sela-sela kesibukannya itu Nur juga berhasil menulis buku yang berjudul “ASI ATAU SUSU FORMULA YA?”. Buku tersebut terbit memang bersamaan dengan isu adanya susu formula yang terkontaminasi oleh bakteri.

Dan yang paling membuatnya bangga dan bahagia adalah ketika mampu membawa keluarga ke Jakarta untuk menyaksikan dirinya diwisuda. Ia bersyukur karena saat menjelang lulus Madrasah Aliyah dulu ia sempat merasa pasrah dengan kondisi keuangan orang tuanya yang nyaris tak mungkin cukup untuk menguliahkannya. Tapi, Allah memberi jalan keluar yang tak pernah diduganya dengan membuka jalan beasiswa baginya. Tepat seusai janji-Nya dalam Surah An-Insyirah ayat 5-6 bahwa setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan. Dan yang membuatnya semakin bahagia adalah, ia berhasil mendapatkan hadiah laptop, seperti yang pernah diimpikannya di semester tiga dulu, karena ia lulus dengan memperoleh nilai tertinggi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Salah satu kewajiban yang harus dijalani para penerima beasiswa PBSB setelah lulus adalah kembali ke pesantrennya untuk mengabdi selama beberapa tahun. Begitu juga dengan Nur Khasanah.

Pertama kali kembali ke pesantren, ia mengira bahwa pihak pesantren sudah menyiapkan tugas yang harus dikerjakannya selama masa pengabdian. Ternyata tidak. Pesantren tempatny mengabdi justru masih bingung untuk memberdayakannya. Akirnya mereka justru menyerahkan sepenuhnya kepada Nur untuk merancang sendiri kegiatan pengabdian sesuai kemampuannya. Sambil menyiapkan rencana pengabdian, Nur diserahi tanggung jawab menjadi pengasuh pondok putri pada sore dan malam hari, sementara pagi sampai siangnya ia membantu Tata Usaha di Madrasah Aliyah.

Ia bersyukur, dua bulan setelah ia mengabdi, ada penerima beasiswa PBSB alumni IPB Bogor yang juga mengabdi di pesantrennya. Nur juga bersyukur, selama kuliah mengikuti berbagai kegiatan sehingga ia mempunyai cukup bekal pengalaman untuk menjadi sarjana yang serba bisa yang sangat dibutuhkan pesantren. Kemampuan berorganisasi dan manajemen, kemampuan menulis, kemampuan komputer dan kemampuan-kemampuan lainnya sangat membantunya dalam mengabdi di pesantren. Di samping –tentu saja—pengembangan dari bidang keilmuan yang dimilikinya, seperti memberikan konsultasi kesehatan kepada para ustadz dan santri.

Sebagai gambara, berikut adalah beberapa diantara kegiatan pengabdian Nur Khasanah dan kawannya di pesantren:

  • Up Grading Skill Santri

Kegiatan ini diadakan di asrama putri tiga hari dalam seminggu, dua kali selepas ashar dan sekali selepas maghrib. Materi yang diberikan ada beberapa macam yaitu:

  1. Materi kesehatan dasar: kegiatan ini memberikan tambahan pengetahuan bagi santri seputar masalah kesehatan dan penanggulangannya.
  2. Pengukuran status gizi : melatih santri dalam pengukuran status gizi seperti penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, pengukuran lingkar lengan, penghitungan indeks masa tubuh (IMT)
  3. Pelatihan P3K : mendidik santri untuk melakukan penanganan pertama pada kasus kesehatan, seperti penanganan pada penderita demam, penanganan pada luka, dan lainnya.
  4. Budidaya tanaman holtikultura: mendidik santri agar senang memanfaatkan lahan kosong untuk budidaya tanaman yang bermanfaat seperti tanaman sayuran dan buah. Kegiatan ini dilakukan dengan memanfaatkan lahan kosong belakang asrama untuk ditanam tanaman sayur-sayuran.
  5. Layanan Kesehatan Santri

Selama enam bulan Nur tinggal di asrama banyak keluhan santri-santri tentang kesehatannya. Nur dan divisi kesehatan santri asrama akhirnya menyediakan layanan kesehatan santri. Kegiatan ini berupa menampung keluhan santri seputar kondisi asrama seperti masalah air, sampah dan sebagainya, mencarikan solusi dari masalah tersebut, memberikan obat-obatan kepada santri yang sakit sesuai dengan jenis penyakitnya dan merujuk santri yang sakit ke pelayanan kesehatan terdekat.

  • Bimbingan Belajar (Bimbel) Santri

Bimbingan belajar yang diberikan Nur ditujukan terutama untuk santri asrama putri. Bimbingan diberikan kepada santri yang mengalami kesulitan belajar di sekolah baik pelajaran umum maupun pelajaran agama. Kegiatan ini biasanya dilakukan setiap malam selepas isha sampai jam 10.00/ 11.00 pm. Bimbingan belajar juga sering dilakukan pada santri aliyah yang tidak tinggal di asrama. Bimbingan diberikan di perpustakaan selama jam sekolah. Selain itu bimbingan belajar juga diberikan kepada santri kelas 3 tsanawiyah dan kelas 3 aliyah yang menghadapi ujian akhir sekolah dan ujian nasional.

  • Membantu Penerbitan Majalah Wathoni

Pondok pesantren memiliki majalah yang digunakan sebagai ajang mengasah bakat tulis menulis bagi para santri, ustadz dan alumni. Majalah ini ditujukan untuk para santri, ustadz dan para alumninya di mana pun berada. Majalah ini baru terbit sebanyak enam kali dan jadi masih memerlukan penataan agar menjadi lebih baik. Ketika datang, ia diamanahi untuk membantu sebagai editor. Tugasnya adalah mengedit naskah majalah yang masuk sampai siap cetak. Selain itu Nur juga membantu pemasaran majalah tersebut karena keterbatasan SDM.

  • Bimbingan Santri Berprestasi

Kegiatan ini berupa pemberian bimbingan bagi santri yang mengikuti even atau perlombaan di luar madrasah.

Selain kegiatan di atas, Nur Khasanah kini juga dipercaya menjadi pengajar mata pelajaran Biologi, menjadi wali kelas dan menjadi pembina PMR. Ia juga diminta untuk membantu meningkatkan pelayanan perpustakaan dan merancang layanan perpustakaan digital.

Berdasarkan pengalamannya selama mengabdi, Nur berharap bisa terus ikut memajukan pondok pesantren. Ia juga berpesan kepada para santri dan alumni PBSB untuk kembali ke pondok pesantren setelah lulus, karena mereka sangat dibutuhkan. Jangan pernah mempersalahkan tentang jurusan yang tidak sesuai atau masalah bisyarah atau apapun yang membuat ragu dan malas untuk mengabdi. Meski tidak dipungkirinya ia juga sempat berpikir demikian sebelum kembali mengabdi. Namun ia kemudian merasakan, bahwa setelah dijalani ternyata semua tak seperti yang ditakutkan.

Nur berharap semoga pondok pesantren kedepannya dapat terus berkembang lebih baik lagi yaitu menjadi pondok pesantren yang tetap memiliki ciri khasnya, namun tetap bisa mengikuti tuntutan perkembangan zaman. Bagi Kemenag RI, Nur juga berharap semoga semakin membuka seluas-luasnya akses bagi para santri untuk bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi agar mampu menjadi insan-insan yang berguna terutama bagi kemajuan pondok pesantren.

Leave A Reply

Your email address will not be published.