Portal Informasi Generasi Berakhlak Mulia

Wardatun Nadhiroh: Bermodal Bahasa Asing, Lulus Tercepat Terbaik

 

Berasal dari kampung yang jauh dari geliat pendidikan di kota-kota besar di Jawa, ia tak patah arang. Berbagai proses pendidikan dilaluinya dengan penuh semangat. Belajar di pesantren memberinya perspektif baru tentang kehidupan, yang terinspirasi dari tokoh-tokohnya. Pengalaman yang mengantarkannya pada pencapaian-pencapaian penting dalam hidupnya

 

PENDIDIKAN ISLAM – Wardatun Nadhiroh, akrab disapa Dhiroh, lahir di Banjarmasin pada 14 Juni 1990, dari pasangan Syakir dan Sriyati. Ia adalah adalah alumni tercepat terbaik Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan IPK 3,88.

Ketika berusia 5 tahun, Dhiroh kecil menolak bersekolah di Taman Kanak-kanak, dia bersikeras ingin masuk Sekolah Dasar dan memakai seragam merah putih seperti teman-teman bermainnya. Orang tuanya akhirnya mengalah dan mengizinkan Dhiroh bersekolah di SD. Kebetulan ibunya berprofesi sebagai guru SD. Dhiroh pun mendaftar di SDN Tatah Pemangkih Laut 2, Banjarmasin, tempat ibunya mengajar, sang ibu bisa sekaligus mengawasinya. Sang ayah yang bekerja sebagai tukang ojek sendiri tidak memiliki banyak waktu bersamanya.

Karena umurnya yang masih terlalu muda, dia dianggap sebagai “Siswa Duduk” (anak di bawah umur yang baru ikut-ikutan sekolah) di kelas 1. Wali kelas dan orang tuanya terkejut ketika di akhir tahun ajaran si siswa duduk itu justru menyabet gelar juara dua di kelasnya, dan berhak naik kelas 2. Meski begitu, dengan pertimbangan umur yang masih terlalu muda, dikhawatirkan akan berdampak pada psikologisnya nanti, orang tua Dhiroh memutuskan untuk menunda kenaikannya dengan memindahkannya ke SD lainnya.

Di sekolah barunya, SDN Tatah Pemangkih Laut 1 Dhiroh kecil kembali duduk di kelas 1. Namun hal yang sama terulang, pada saat kenaikan kelas, Dhiroh meraih rangking 1, mengalahkan teman-teman yang lebih tua. Wali kelasnya angkat tangan, tidak bisa menahannya tetap di kelas 1. Demikianlah, tahun demi tahun Dhiroh selalu meraih juara kelas.

Ketika duduk di kelas 3, ibunya dipindahtugaskan mengajar ke SD di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Ayah dan adiknya ikut menemani, sementara Dhiroh terpaksa tetap tinggal bersama neneknya di Banjarmasin, karena saat itu caturwulan ke 2 baru akan dimulai. Baru ketika usai kenaikan kelas 4 ia menyusul orangtuanya dan bersekolah hingga lulus SDN 1 Barabai Timur.

Lulus SD, Dhiroh melanjutkan studinya di MTsN Barabai. Saat di MTsN ini, gadis yang aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka, PMR, dan Pelatihan Leadership ini terpilih sebagai Siswa Teladan Tingkat SLTP/MTs sekabupaten Hulu Sungai Tengah dan Juara Olimpiade Biologi sekabupaten Hulu Sungai Tengah. Dhiroh lulus dengan predikat juara 2 tingkat MTsN Barabai.

Dalam kebingungan hendak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, Dhiroh remaja pun mendaftar ke MAN 2 Barabai. Usai menjalani seleksi administrasi dan menunggu tes tertulis dan lisan, Dhiroh diajak orangtuanya berkunjung ke Pondok Pesantren Rasyidiah Khalidiyah (PonPes RAKHA) Amuntai, pondok pesantren terbesar dan tertua di Kalimantan Selatan yang berlokasi di Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Saat itu RAKHA memiliki dua jenis MA, yaitu MAS (Madrasah Aliyah Swasta setingkat MAN) dan MAK (Madrasah Aliyah Keagamaan) dan Dhiroh diminta orang tuanya mendaftar di MAK NIPI, yang menjadi kebanggaan RAKHA. Di MAK, mata pelajaran yang dipelajari sebagian besar, untuk tidak mengatakan semuanya, adalah terkait keagamaan. Adapun mata pelajaran umum bisa dihitung dengan jari, yakni PPKn, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.

Sungguh merupakan keputusan yang berani, baik bagi Dhiroh maupun kedua orang tuanya yang sama belum pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren, menyuruh anak sulung dan perempuan satu-satunya itu masuk pesantren. Meminta melanjutkan sekolah di RAKHA berarti merelakan anak perempuan satu-satunya untuk tinggal jauh dari rumah. Sedangkan bagi Dhiroh, keputusan melanjutkan studi di MAK berarti harus merelakan cita-citanya menjadi dokter menguap dalam angan-angan. Namun Dhiroh yakin, dengan ridho orang tua, jalan kehidupannya pasti baik-baik saja.

Kehidupan di asrama pesantren bagi setiap santri baru pasti awalnya terasa berat. Begitu pula dengan Dhiroh yang beradaptasi dengan rutinitas yang terjadwal, makanan yang seadanya, dan kegiatan ekstra yang padat. Dhiroh sempat jatuh sakit selama kurang lebih sebulan. Namun untuk selanjutnya, Dhiroh mampu mengikuti alur kehidupan di pondok dengan baik.

Selama tiga tahun tinggal di pondok pesantren, Dhiroh banyak mendapat pengalaman berharga: bergaul dengan teman-teman yang unik dengan beragam sifat, menata suasana hati ketika teman sekamar berlaku kurang menyenangkan, indahnya berbagi ketika mendapatkan rejeki lebih kiriman dari orang tua, dan masih banyak lagi. Ketika kegiatan padat sudah menjadi makanan sehari-hari, maka ketika kegiatan menjadi longgar ataupun santai, Dhiroh malah sering jatuh sakit. Agak aneh memang.

Alumni Luar

Satu hal yang menjadi kenangan tersendiri dan menjadi pemicu bagi DHiroh untuk tetap melanjutkan pendidikan di RAKHA, terus maju dan bersaing secara fair adalah ketika bersama teman-teman sekelas. Sebagai alumni “luar” (bukan lulus dari MTs RAKHA), Dhiroh merasa terasingkan dan terakesan inferior di mata kawan-kawan yang merupakan alumni MTs RAKHA. Hal ini bisa dimaklumi karena sebenarnya kurikulum MAK saat itu merupakan tindak lanjut dari kurikulum MTs RAKHA sehingga mereka yang lulusan “dalam” lebih menguasai materi pelajaran daripada alumni luar.

Pada awalnya Dhiroh pun sempat merasa minder, apalagi ketika ia mendapat nilai jelek ketika diadakan latihan Nahwu. Karena sebagai alumni MTS Negeri, Dhiroh tidak pernah mendapatkan pelajaran Nahwu kecuali sedikit saja ketika belajar Bahasa Arab. Menjadi bahan tertawaan di kelas, Dhiroh pun bertekad untuk “membungkam” mereka dengan mengungguli mereka semua. Dan ini terbukti pada saat pembagian rapor di semester pertama, hingga semester-semester selanjutnya.

Menjelang kelulusan MAK sebelum nilai akhir diumumkan, Dhiroh mulai bingung untuk menentukan program studi selanjutnya yang akan dimasuki. Fakultas Kedokteran yang pernah diimpikannya saat MTs hampir tidak mungkin lagi dimasuki karena bekal yang kurang memadai.

Suatu saat Dhiroh beserta 3 teman lainnya dipanggil oleh Kepala Sekolah, Drs. H. Munadi, dan disodori Program Beasiswa Santri Berprestasi dari Kemenag. Ia mendapat kesampatan meraih beasiswa santri berprestasi untuk menempuh studi lanjutan di perguruan-perguruan tinggi ternama di Indonesia seperti ITB, UNAIR, ITS, IPB, UGM, UIN Jakarta, UIN Jogja, UIN Surabaya, UIN Malang, dan IAIN Semarang. Syaratnya selalu rangking dan nilai rata-rata di atas 7. Setelah berdiskusi dengan orang tua, Dhiroh memutuskan untuk mencobanya. Dhiroh memilih UIN Yogyakarta dengan satu pertimbangan: Yogyakarta adalah kota pelajar dimana perguruan tinggi bertebaran dan mahasiswa dari seluruh Indonesia berdatangan untuk menuntut ilmu.

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya saat pengumuman tiba. Diroh menjadi salah satu dari ratusan santri yang lolos beasiswa PBSB. Tiba-tiba keraguan untuk mengambil beasiswa tersebut muncul saat ia mendengar isu bahwa UIN Yogyakarta menyebabkan banyak kasus pemurtadan dan menjadi basis Islam Liberal. Karena kuatnya hembusan isu tersebut –bahkan– sampai ada teman putri sesama santri yang dinyatakan lulus seleksi PBSB tidak jadi mengambilnya karena kekhawatiran keluarganya. Di sela kebingungan tersebut, Dhiroh akhirnya mengikuti SNMPTN dengan pilihan jurusan pertama Kedokteran (Dhiroh masih berharap untuk menjadi dokter), pilihan kedua Hukum, dan pilihan ketiga Sastra Inggris. Dan saat pengumuman Dhiroh dinyatakan lulus pada pilihan kedua, yaitu fakultas Hukum.

Skripsi Berbahasa Inggris

Setelah meminta banyak pertimbangan dari para guru, berdiskusi panjang dengan orang tua, dan melakukan shalat Istikharah untuk memantapkan hati, akhirnya Dhiroh memilih mengambil juga beasiswa PBSB dengan beberapa pertimbangan. Pertama, jurusannya masih linier dengan MAK, yaitu Tafsir Hadis. Kedua, UIN Yogya salah satu PTAIN tertua dan terkemuka di Indonesia yang dari segi keilmuan pun sudah terpercaya. Ketiga, dari segi geografis terletak di Pulau Jawa, memungkinkan bergaul dengan beragam suku di Indonesia. Keempat, setelah dipelajari permasalahan murtad ataupun Liberal sebenarnya kembali pada pribadi masing-masing yang bersangkutan, tidak bisa digeneralisasi hanya karena ada segelintir orang saja. Dan masih banyak pertimbangan lagi.

Pada akhirnya, Dhiroh berangkat untuk mengikuti masa orientasi selama seminggu sebelum resmi berkuliah di UIN Yogyakarta. Para peserta orientasi saat itu adalah para santri dari pondok pesantren seluruh Indonesia yang dinyatakan lulus sebagai Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) dari Kemenag. Selama orientasi, Dhiroh dan sesama santri penerima beasiswa saling mengakrabkan diri. Dimasa pengenalan, perasaan minder muncul, ketika mengetahui berbagai latar belakang pendidikan dan prestasi teman-teman barunya.

Sungguh perasaan minder itu terasa sekali dalam hati Dhiroh. Dhiroh hanya mengenyam pendidikan pondok pesantren selama 3 tahun, terlebih lagi RAKHA bukanlah pondok salafi yang menekankan pada penguasaan Kitab dan alatnya secara mendalam. Namun Dhiroh tetap sangat bersyukur sekali, karena walaupun tidak bisa menonjol di salah satunya, Dhiroh tetap dapat mengikuti semua alur dengan baik. Dengan kata lain, teman-temannya speaking English, “so do I (meskipun terpatah-patah)“. Teman-temannya takallam bil-Arabiyah,Istatha’tu walau qalilan”. Diminta baca kitab pun, alhamdulillah bisa walaupun terbata-bata.

Selama kurang lebih 4 tahun, Dhiroh menjalani suka duka menjadi penerima beasiswa sekaligus mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sungguh suatu mimpi bisa kuliah tanpa membebani orang tua. Apalagi dengan segala fasilitas dan kebutuhan yang terpenuhi berkat dana beasiswa tersebut. Dhiroh sangat senang karena mampu membuat orang tua bangga. Namun tak urung kelebihan tu sempat menimbulkan kecemburuan sosial diantara mahasiswa lain yang tidak menerima beasiswa tersebut. Baik di lingkungan kampus maupun di pondok tempat Dhiroh dan teman-temannya ditempatkan selama 4 tahun.

Menjelang akhir masa perkuliahan, berbagai konflik dialami Dhiroh, mulai dari masalah keluarga, romantika anak muda, dan lain-lain. Walaupun masa seminar proposal dilalui dengan baik, proses penyelesaian skripsinya agak molor dari yang ditargetkan. Dhiroh yang saat itu ingin menulis skripsi dalam bahasa Inggris, karena menganggapnya sebagai suatu hal yang menantang, ditentang oleh Dosen Penasehat Akademiknya. Karena Dhiroh bersikeras, akhirnya izin didapatkan juga dengan syarat DPA tidak akan bertanggung jawab jika ada masalah di kemudian hari.

Di tengah proses tersebut, Dhiroh merasa kewalahan karena bahan skripsi berbahasa Arab dan harus dianalisa kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris. Saat itu Dhiroh ingin mengangkat isu pernikahan beda agama berdasarkan pandangan Rasyid Ridha, melalui kitab tafsirnya al-Manar. Sifat keras kepala Dhiroh untuk menaklukan tantangan tersebut membuatnya tidak mau menyerah, jika teman-temanku mampu kenapa aku tidak, pikir Dhiroh. Saat itu memang beberapa teman sesama penerima beasiswa ada yang menulis dalam bahasa Inggris dan beberapa dalam bahasa Arab.

Tercepat Terbaik

Akhirnya dengan tekad kuat, proses revisi terus menerus dan konsultasi dengan Dosen Pembimbing, skripsi berjudul Interfaith Marriage on Tafsīr al-Manār (A Descriptive Analytical Study of Rasyīd Ridhā’s Interpretation) berhasil diselesaikan. BUkan hanya selesai, ia juga berhasil mempertahankannya hingga dinyatakan lulus dengan predikat A, dan berhasil meraih IPK akhir 3,88. Dengan nilai IPK setinggi itu Dhiroh dinyatakan sebagai lulusan terbaik-tercepat untuk fakultas Ushuluddin, bahkan se UIN Sunan Kalijaga, di wisuda periode III tahun ajaran 2010/2011. Seungguh kebahagiaan yang luar biasa bagi Dhiroh: mendapat beasiswa penuh untuk kuliah S1, lalu menjadi lulusan terbaik dan tercepat se UIN Sunan Kalijaga. Atas prestasi tersebut, Kedaulatan Rakyat, sebuah media massa lokal di Yogyakarta pun menulis profilnya.

Dhiroh telah membuktikan, bah kuliah gratis dibiayai oleh negara tidak membuatnya terlena dan bersantai-santai, justru menjadi motivasinya untuk bisa berprestasi lebih daripada yang lain. Kebahagiaan itu tidak hanya selesai sampai di situ. Sebagai salah satu lulusan terbaik-tercepat, maka Dhiroh berhak memperebutkan 3 kursi beasiswa dari Rektor UIN Sunan Kalijaga untuk melanjutkan studi ke Program Magister. Bersama sekitar 17 orang wisudawan terbaik, Dhiroh menjalani tes wawancara berbahasa Asing di rektorat UIN. Saat pengumuman, Dhiroh dinyatakan lolos sebagai salah satu dari 3 penerima beasiswa studi lanjut dari Rektor tersebut.

Sambil menempuh S2 di pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Dhiroh juga menyempatkan diri untuk mengabdikan ilmunya di Ponpes Ali Maksum Yogyakarta sebagai pembimbing santri putri, menjadi pengajar TPQ di daerah Bantul dan juga pengajar Tafsir al-Qur’an di Rumah Tahfidz Dar al-Qur’an Putri di Janturan Yogyakarta. Dan kini, setahun setelah dinyatakan menyandang gelar Magister Humaniora (M.Hum), berbekal pengalaman yang didapatkan selama menempuh S1 dan S2 di Yogyakarta, Dhiroh kembali ke kampung halamannya. Tak tanggung-tanggung ia langsung diminta menjadi salah satu dosen luar biasa di Fakultas Ushuluddin dan Humaniora IAIN Antasari Banjarmasin.

Dhiroh juga menjadi dosen Bahasa Inggris di Pusat Bahasa di kampus tempatnya mengabdi. Walaupun tidak pernah mengenyam pendidikan bahasa Inggris secara resmi, berbekal pembelajaran otodidak dan pengalaman menulis skripsi berbahasa Inggris, Dhiroh tetap mampu berbagi keilmuan di bidang satu ini. Di sela kegiatan mengajar, Dhiroh juga aktif di Divisi Syari’ah Lembaga Hukum dan Bisnis.

Sepanjang perjalanan hidup Dhiroh selama ini, kehidupan dan karir akademik Dhiroh bisa terbilang mulus dan harus selalu disyukuri. Berkat beasiswa dari Kemenag Dhiroh bisa mendapatkan pendidikan gratis, bertemu dengan keluarga dan teman-teman baru, menimba ilmu dari dosen-dosen yang hebat, mempunyai kesempatan untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi secara gratis juga. Ia tetap mengingat, bahwa semua itu berawal dari Pondok Pesantren RAKHA yang mengantarkannya dan beasiswa Kemenag yang memfasilitasinya. Tidak terkira Dhiroh sampaikan rasa syukur dan terima kasih untuk pondok tercinta dan Kemenag. Semoga semakin banyak lagi santri-santri yang mendapatkan masa depan yang cerah melalui beasiswa Kemenag

Leave A Reply

Your email address will not be published.