Portal Informasi Generasi Berakhlak Mulia

Muhamad Saleh Sofyan: Penggembala Kambing Ke Negeri Sakura

Orang tua mana yang tidak menginginkan anaknya bisa sekolah setinggi-tinginya. Orang tua mana yang tidak sedih jika himpitan ekonomi menghalangi cita-citanya. Orang tua mana yang tidak bangga anaknya bisa kuliah, bahkan bisa ke luar negeri tanpa biaya.

PENDIDIKAN ISLAM – Keadaan ini yang dirasakan Muhamad Saleh Sofyan, santri asal pedalaman NTB. Dan Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kemenag RI memenuhi harapan itu: memberikan kesempatan bagi para santri untuk kuliah di perguruan tinggi ternama tanpa perlu memikirkan uang kuliah, bahkan kebutuhan sehari-hari selama masa perkuliahan.

Dan Sofyan adalah salah satu dari penerima beasiswa Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pontren, Kementerian Agama RI. Ia akhirnya bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi Islam yang menjadi tujuan para santri, IAIN Walisongo Semarang. Bersama santri dari penjuru Nusantara, Sofyan menempa ilmu yang tergolong langka, Ilmu Falak.

Awalnya Sofyan ini tidak pernah membayangkan bisa menikmati pendidikan hingga perguruan tinggi, mengingat ekonomi keluarga yang serba kekurangan, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari pun masih sulit. Harapannya tiba-tiba tumbuh ketika ia mendengar informasi tentang PBSB. Sofyan pun mencoba mencari keberuntungan dengan menjadi salah satu dari lima teman se pesantrennya yang mendaftar seleksi PBSB.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sofyan menjadi salah satu dari sekian ratus santri yang lulus dalam seleksi PBSB. Dengan beasiswa itu, sofyan tak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun sejak mulai menginjakkan kaki keluar rumah sampai selesai kuliah dan menyandang gelar sarjana di perguruan tinggi pilihannya, karena semuanya sudah ditanggung oleh Kementerian Agama.
Sofyan lahir 22 tahun silam, 27 Oktober 1992, di sebuah dusun yang jauh dari keramaian, desa Dakung, kecamatan Praya Tengah, kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Untuk menuju desa kelahiran Sofyan, siapa pun harus melewati medan yang cukup terjal. Jalan yang dilewati untuk mencapai desa Dakung, hanya bisa dilalui kendaraan pada musim panas.

Sementara pemandangan yang terlihat pada musim hujan, jalan umum ke rumah alamat seperti sawah yang siap ditanami padi. Bungsu dari 10 bersaudara anak pasangan Amaq Nurmini (Akmar) dan Johariyah ini lahir dan tumbuh dalam kondisi ekonomi keluarga menengah kebawah.
Pendidikannya dimulai di Sekolah Dasar Negeri Jorong pada tahun 1999. Berjarak sekitar satu setengah kilometer dari rumah, perjalanan itu ditempuh bocah berumur 7 tahun itu dengan berjalan kaki menyusuri pematang sawah. Sudah tentu, ketika musim hujan tiba harus berjuang melawan medan yang berlumpur untuk bisa tiba di sekolah.

Mencari Rumput
Dengan segala keterbatasannya sebagai anak seorang petani yang berpenghasilan tidak menentu, Sofyan kecil baru memakai sepatu ke sekolah saat duduk di kelas empat SD Itu pun sepatu bekas pemberian saudaranya yang sudah tak terpakai. Bocah itu gembira, setidaknya sepatu itu cukup untuk melawan dinginnya embun pagi yang bagai air es di atas pematang sawah. Aturan sekolah yang melarang muridnya memakai sandal, membuat Sofyan sebelumnya harus pergi ke sekolah tanpa alas kaki.

Tidak seperti anak-anak zaman sekarang yang sepulang sekolah bebas bermain dengan teman sebaya, walaupun usianya masih belia, Sofyan sudah harus mengembala dan memberi makan kambing-kambing peliharaannya. Sudah menjadi rutinitasnya sepulang sekolah, ia harus mengumpulkan rumput untuk memenuhi kebutuhan kambing hingga hari esoknya. Harapannya, anak-anak kambing itu nanti bisa dijual untuk meringankan beban kebutuhan sekolah saya. Meskipun harus berjuang sedemikian berat, namun itu tak membuat Sofyan bermalas-malasan. Tak pernah sehari pun, di luar hari libur, ia tidak masuk sekolah. Entah apa yang memotivasi dirinya hingga Ia menjadi rajin belajar.

Lahir dan tumbuh dengan kondisi alam yang berat dan ekonomi yang serba pas-pasan serba kekuangan, Sofyan patah semangat. Kesulitan hidup itu justru memacunya untuk terus berprestasi. Alhasil, selama enam tahun duduk di bangku SD (1999-2005), hampir setiap caturwulan / semester ia selalu menempati peringkat pertama.

Selepas SD, pencarian ilmunya berlanjut ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Praya Tengah (2005). Perjuangan di jalan inipun tidak kalah menantang. Tiap hari, ia harus kuat berjalan sejauh lima kilometer menyusuri pematang sawah dan semak-semak liar, melawan sengatan matahari pada musim kemarau dan medan berlumpur pada musim hujan. Dengan medan seperti itu tak heran jika sepatu merk apapun hanya bisa bertahan setahun. Sementara membelinya, butuh perjuangan yang lain lagi. Karena itu agar bisa bertahan dan tetap bersih, setidaknya untuk satu tahun, maka Sofyan dan teman-temanya seringkali memilih menenteng sepatunya dan baru dikenakan setelah tiba di sekolah.

Ia masih ingat betul ledekan tetangga melihat kelakuan Sofyan yang kerapkali menenteng sepatu ke sekolah. Dengan nada sedikit mencibir salah seorang ibu mengatakan pada anaknya, “lihat tu nak, Sofyan nenteng sepatu ke sekolah,” kenangnya.

Berkah Dari Pesantren
Keyakinan yang dengan kuat tertanam di hatinya bahwa hanya ilmu lah yang bisa mengubah nasib dan meningkatkan taraf hidupnya, menyulut semangat Sofyan untuk melawan tantangan seberat apapun. Semangat itu pula yang membawanya pada prestasi-prestasi gemilang di SMP. “Alhamdulillah setiap semester saya selalu di peringkat pertama. Bahkan hasil ujian nasional, menempatkan saya sebagai lulusan terbaik di SMPN 3 Praya Tengah,” kata Sofyan penuh syukur

Sejak kecil, keinginan membahagiakan orang tua telah tertanam kuat. Meskipun kasih sayang dan pengorbanan mereka tak mungkin terbalas, namun setidaknya Sofyan ingin membuat orang tuanya bangga telah mengorbankan banyak hal buat anaknya. Ia juga ingin meyakinkan mereka bahwa anaknya juga sangat menghargai pengorbanan mereka. Tekad ini terus tertanam, bahkan memuncak ketika lulus dari SMP dan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi.

Perjuangan dan pengorbanan orang tuanya kian terasa ketika Sofyan melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Al-Ishlahuddiny, Kediri, Lombok Barat (2008). Meski tinggal di rumah berlantai tanah, tapi selalu saja ada jalan yang mereka lakukan untuk dapat membuat anaknya melanjutkan sekolah. Keinginan Sofyan untuk membuat kedua orang tua dan kakak-kakanya senyum bangga pun makin menggebu.

Karena setiap kali berhasil meraih prestasi di pesantren, Sofyan selalu menceritakan kepada kedua orang tuanya agar mereka ikut bangga dan merasa perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Baik prestasi akademik maupun non akademik. Ketika masih di pesantren, Sofyan memang sering menjadi delegasi pesantrennya dalam perlombaan antar pondok pesantren. Ia pernah memborong dua piala sekaligus: juara satu lomba Diskusi Aktif dan juara dua lomba Baca Kitab Kuning, dalam perlombaan antar pondok pesantren se-kabupaten Lombok Barat.

Dari pesantren Sofyan belajar banyak hal: kesederhanaan, ketulusan dan keikhlasan, juga akhlakul karimah yang merupakan kekhasan pesantren di samping pemahaman mendalam tentang agama. Tak hanya nilai kognitif, nilai afektif bahkan menjadi prioritas materi pengajaran pesantren. Inilah yang memikat hatinya untuk mengikatkan diri lebih lama dengan pesantren.
Rencana dalam hatinya telah bulat, ia ingin melanjutkan pendidikan setelah lulus Madrasah Aliyah di pondok pesantren yang sama, Al-Ishlahuddiny. Karena itu awalnya ia menolak ketika ditawari ikut seleksi PBSB dari Kementerian Agama. Tapi, para ustadz di madrasahnya justru terus mendorongnya untuk memikirkan lagi tawaran itu. Hatinya baru luluh, ketika ia menceritakan pada orang tuanya dan keduanya langsung mendukung, merestui dan memerintahkan sofyan untuk mengikuti seleksi beasiswa tersebut.

Orang tuanya meminta Sofyan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan –untuk sementara– mengurungkan niatnya melanjutkan pendidikan di pesantren. Ada tapi satu pertanyaan dari ibunya yang membuatnya tertegun lalu berubah pikiran, “apa yang kamu harapkan ketika melanjutkan sekolah, Nak?” Sofyan kembali tersadar bahwa usaha mati-matiannya selama ini untuk selalu berprestasi di sekolah tidak lain kecuali untuk membuat bangga kedua orangtuanya. Maka dengan harapan semakin membahagiakan kedua orang tuanya, sofyan pun akhirnya memutuskan mengikuti tes seleksi PBSB dari Kementerian Agama RI.

Pertukaran Pelajar
Berkat doa dan restu kedua orang tua serta para gurunya di pesantren, Sofyan kemudian menjadi salah satu dari empat santri dari NTB yang lulus seleksi PBSB. Beasiswa dari Kementerian Agama ini telah mengantarkan anak petani dari kampung di pelosok Lombok Tengah, berkesempatan menghirup udara perguruan tinggi. Beban orang tua untuk menanggung biaya kuliah dan kebutuhan hidup selama belajar, ditanggung sepenuhnya oleh program ini. Kabar gembira lulus tes seleksi PBSB di IAIN Walisongo, membuat orang tuanya tersenyum bangga dan – tentu saja– lega.

Lebih dari tiga perempat waktu tempuh belajar normal telah Ia lalui di IAIN Walisongo. Banyak hal menarik telah terlampaui. Keakraban bersama teman, kesibukan menyelesaikan tugas kuliah sampai kegalauan belebaran di pondok. Sofyan menyadari, kalau hanya mengandalkan perkuliahan di kelas, tanpa membaca buku dan menggali pengalaman di luar, maka perkuliahan selama empat tahun akan datar dan tidak berkesan. Maka tanpa mengabaikan perkuliahan di kelas, Sofyan pun selalu meyibukkan diri mencari pengalaman di luar. Setiap ada even nasional maupun internasional ia berupaya ikut ambil bagian.

Beberapa even yang pernah ia ikuti sampai saat ini antara lain : Akademi Merdeka workshop: Global Warming and the Human Right di Dafam Hotel Semarang; Forum Indonesia Muda 16, “Character Building and Leadership Lifeskill Training: Pemuda Penggerak Perubahan” di Taman Rekreasi Wiladatika, Cibubur. Awal tahun 2014 ini ia juga berkesempatan menjadi salah satu delegasi mahasiswa Indonesia yang berkunjung ke Jepang melalui program Jenesys 2.0. atau Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youth, merupakan program pertukaran mahasiswa dan pemuda Jepang-Asia Timur. Program ini dibiayai oleh Japan International Cooperation Center (JICE) dan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia berkerjasama dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta.

Siapa yang menyangka, bocah yang tadinya penggembala kambing di pedalaman NTB bisa menginjakkan kaki di Jepang, dengan menyingkirkan lebih dari dua ribu mahasiswa pesaing. Sofyan sang penggembala kambing menjadi salah satu dari 96 mahasiswa –dan menjadi satu-satunya yang berasal dari almamaternya, IAIN Walisongo– yang beruntung berkunjung selama sepuluh hari di negeri Sakura.

Apa yang didapat oleh sofyan, tentu tidak serta merta hasil usahanya sendiri. Harapan dan usahanya yang gigih serta niatnya yang tulus membanggakan orang tua bertemu dengan kesempatan emas Program Beasiswa Santri Berprestasi. “Saya berharap, semua santri bisa ikut merasakan beasiswa PBSB Kemenag,” tutur Sofyan mengakhiri.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.