Portal Informasi Generasi Berakhlak Mulia

Memutus Mata Rantai Kegagalan Negara

PENDIDIKAN ISLAM –  Isu kesenjangan pendapatan nasional antarnegara di era modern menjadi problema yang berkelindan. Masalah ini senantiasa menganga dalam perdebatan konsep negara gagal (failed state) dengan pelbagai indikator yang mengiringinya. Budaya, iklim, posisi geografis, serta kebodohan menjadi deretan indikator yang dianggap melahirkan ketimpangan antara negara kaya dan miskin.

Dalam rangka menjawab persoalan itu, buku langka ini hadir dengan jawaban yang begitu bernas dan berbeda. Ternyata, pelbagai faktor itu tidak ada kaitannya dengan kesenjangan sebuah negara. Hasil penelitian lima belas tahun dari Daron Acemoglu dan Robinson ini, memaparkan dengan lugas bahwa faktor yang sangat menentukan kesuksesan atau keterpurukan ekonomi suatu negara ditentukan oleh institusi politik-ekonomi ciptaan manusia. Institusi ekonomi politik mengejawantah menjadi kunci utama suatu bangsa untuk menggapai kemakmuran.

Karya dari profesor ilmu pemerintahan di Harvard University ini cukup mencengangkan. Teori budaya, iklim, geografi, bukanlah faktor definitif yang menentukan takdir suatu bangsa. Robinson memberikan tamsil Korea Utara dan Korea Selatan yang memiliki kesamaan budaya, iklim dan geografis. Namun anehnya, rakyat Korea Utara termasuk yang termiskin di dunia. Keadaan itu berbanding arah dengan rakyat Korea Selatan yang menjadi salah satu negara termakmur di dunia. Begitu juga dengan Bostwana yang mampu meraih predikat salah satu negara termaju di dunia. Sementara negara-negara yang lain di Afrika seperti Zimbabwe, Sierra Leone dan Kongo masih terkatung-katung dalam jurang kemiskinan.

Dalam konteks pengonstruksian konsep suatu negara, Acemoglu dan Robinson begitu jeli dalam melihat intervensi pemerintah untuk kepentingan kemanusiaan. Negara-negara yang gagal dalam membawa rakyatnya sejahtera secara sendirinya terperangkap dalam label negara penjahat (rogue state). Dengan kata lain, negara itu tanpa menyadari tengah menyusun rencana menuju kegagalan dan penghancuran kreativitas.

Dalam setiap lembaran buku ini, kita akan menemukan jawaban dari penyebab negara-negara miskin. Penyebab yang paling mencolok karena dikuasai oleh kaum elite yang mengorganisir masyarakat demi keuntungan kelompoknya sendiri namun mengorbankan rakyat. Kekuatan politik terkonsentrasi pada segelintir orang dan hanya dimanfaatkan untuk mengeruk kemakmuran bagi para pemangku kekuasaan. Mengenai hal ini, Robinson mengulas cukup tuntas tentang kisah pilu rakyat Mesir, disparitas Nogales di Arizona dan Nogales di Mexico, kolapsnya negara adidaya Uni Soviet, hingga berkembangnya negara-negara kaya seperti Amerika dan Inggris. Negara-negara seperti Inggris dan Amerika Serikat bisa menjadi makmur dan kaya karena rakyatnya bangkit menggulingkan kelompok elite yang menggenggam kekuasaan, lalu menciptakan sebuah masyarakat berkeadilan dengan hak-hak politik yang merata bagi segenap warga.

Yang menarik dari temuan buku ini adalah takdir kehidupan sebuah bangsa sejatinya bertali-temali dalam rangkaian kekuasaan yang akan menuai dua kemungkinan: kemakmuran atau kemiskinan. Untuk menuju kemakmuran, negara harus lolos dari jeratan kemiskinan dalam rangka meraih institusi ekonomi yang kuat. Negara juga harus mempunyai sistem dari institusi politik yang terbuka untuk memungkinkan semua rakyatnya berkompetisi mendapatkan suara-suara politiknya. Selain itu, negara harus hadir bukan dalam wajah represif namun merangkul segala hal.
Sementara di sisi lain, rezim yang buruk akan memanen kemiskinan. Faktanya, rendahnya tingkat pendidikan rakyat di negara miskin disebabkan oleh institusi ekonomi yang tidak menawarkan insentif kepada orang tua untuk menyekolahkan anaknya, atau akibat politisi yang gagal mendesak pemerintah untuk membiayai pelbagai lembaga pendidikan.

Dalam analisis Robinson, untuk memutus mata rantai disparitas yang menganga lebar di kedua sisi tapal batas pembeda antara kemakmuran dan kemiskinan sebenarnya bisa diatasi dengan satu hal yaitu kebijakan. Negara dalam kondisi apapun harus menyusun kebijakan yang futuristik untuk dinikmati dalam jangka panjang menuju tangga kemakmuran.

Buku ini memaparkan pelbagai perkara besar dalam sejarah peradaban manusia. Dengan analisis komprehensif dari kajian sejarah, ilmu politik dan ekonomi, karya ini akan mengubah cara pandang siapapun terhadap etos kerja pembangunan bangsa dan negara. Buku ini wajib dibaca sebagai warisan pengetahuan dalam merangsang inovasi berpikir untuk berkontribusi sekecil apapun untuk bangsa dan negara. [Wildani Hefni]
Judul : Mengapa Negara Gagal: Awal Mula Kekuasaan, Kemakmuran dan
Kemiskinan
Penulis : Daron Acemoglu & James A. Robinson
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : II, Januari 2015
Tebal : 582 halaman

Leave A Reply

Your email address will not be published.