Syafiq Hasyim saat berada di Jerman.

Oleh Syafiq Hasyim
–Banyak anak Indonesia yang ingin melanjutkan jenjang perguruan tinggi di Jerman, baik untuk S1, S2 dan S3. Secara pribadi saya menganjurkan sebaiknya sekolah di Jerman untuk jenjang S2 dan S3. Mengapa, karena jenjang S1 terlalu berat dan pada kenyataannya, menurut informasi tidak resmi yang saya terima, kegagalan mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan S1 di Jerman relatif cukup tinggi yaitu lebih 50 persen. Setiap tahun ada sekitar 700-an anak Indonesia yang melanjutkan S1 namun sekitar 350 sampai 400 yang dipulangkan kembali ke Indonesia karena gagal, baik gagal mendapatkan universitas maupun gagal di tengah studi mereka. Meskipun kegagalannya sangat tinggi, minat untuk jenjang S1 yang tertinggi. Hal ini disebabkan karena sekolah di Jerman gratis dan juga iming-iming lembaga jasa pengiriman sekolah yang seringkali terlalu manis di depan dan pahit setelah sampai di Jerman.

***

Kali ini saya ingin menuliskan soal S2 dan S3 saja. Saya mulai tulisan ini dari jenjang doktor (S3). Bagi mereka yang berminat untuk melanjutkan studi doktor di Jerman harus menamatkan dulu jenjang strata 2 terutama yang menulis tesis. Jika lulus S2 tanpa tesis, maka nanti akan menimbulkan persoalan sendiri bagi calon S3 tersebut karena pihak universitas dimana mereka akan diterima untuk jenjang S3 tersebut akan mensyaratkan S2 dengan tesis. Indek Prestrasi Komulatif (IPK) harus bagus, namun demikian, ada saja profesor yang lebih mengutamakan pada riset proposal sang calon doktor tersebut. Meskipun demikian, bukan berarti kita menganggap remeh soal IPK, namun IPK bagus tidak menjadi jaminan. Yang terbaik adalah baik IPK maupun proposal studi sama-sama bagus.

Selain itu, tentu saja calon mahasiswa S3 harus mempersiapkan kecakapan berbahasa. Ada 2 bahasa yang umumnya biasa dipakai di dunia akademik Jerman untuk studi doktoral yaitu bahasa Inggris dan Jerman. Kenapa saya tulis pada umumnya, karena di beberapa universitas di Jerman, seseorang bisa menulis di luar 2 bahasa tersebut –Arab dan Prancis- dengan catatan pembimbing (supervisor) yang ada pada universitas tersebut menguasai bahasa si kandidat doktor tersebut.

Apapun jenus pilihan bahasanya levelnya harus tinggi. Sekarang hampir rata-rata universitas di Jerman menerapkan score 600 untuk TOEFL dan 7 untuk IELTS bagi mereka yang ingin menempuh studi tingkat doktoral. Lebih tinggi lebih baik. Bagi mereka yang dulunya mengambil S2 di negara yang berbahasa Inggris atau di kampus yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar studinya ketika di tingkat S2, maka persyaratan TOEFL atau IELTS bisa ditangguhkan. Untuk bahasa Jerman, mereka juga harus memiliki sertifikat kefasihan (proficiency) bahasa Jerman yang memadai untuk menulis disertasi S3. Mereka harus mendapat sertifikat Test Deutsch als Fremdsprache, ujian bahasa Jerman standar untuk non-Jerman. Test DAF ini bisa diambil di sekitar 95 negara, termasuk di Indonesia.

Persoalan yang sering muncul adalah apakah proficiency bahasa asing tersebut sebagai segala-galanya untuk diterima di bangkau S3? Bagaimana jika ide riset kita bagus, tapi bahasa asing kita kurang. Perlu diketahui bahwa seorang profesor yang berminat atas riset kita, bisa saja menerima mereka yang ide risetnya menarik, namun masih kurang dalam persyaratan bahasa. Itu semua bisa terjadi dan tapi ini sangat jarang. Kenapa jarang? Karena si profesor tidak mungkin menolong terus menerus mahasiswanya. Penguasaan bahasa tidak hanya berguna bagi penulisan disertasi tapi juga sosialisasi riset kita. Si profesor yang mau menerima mahasiswa yang kurang syarat bahasanya biasanya berasumsi jika nanti si kandidat doktor bisa diperbaiki bahasa Inggris atau Jerman selama proses belajar dan menulis disertasi.

Lalu dimana letak peran Admission Office (kantor penerima) di sini? Untuk mahasiswa S3, Admission Office sangat mendengarkan apa yang direkomendasikan oleh sang profesor. Di Jerman, profesor memiliki posisi penting dalam menerima atau menolak kandidat doktor. Admission Office biasanya meneliti persyaratan yang bersifat administratif dan prosedural, misalnya kelengkapan dokumen-dokumen yang dibutuhkan oleh universitas untuk jenjang doktoral. Dalam bidang life sciences dan natural sciences, peran menentukan si profesor lebih terlihat karena biasanya mereka akan merekrut mahasiswa doktoral yang dekat dengan riset yang sedang mereka kerjakan. Di Jerman, mahasiswa S3 pada dasarnya adalah asisten riset profesor mereka.

Apakah semua mahasiswa S3 akan melakukan proses yang sama? Perlu diketahui bahwa jenjang doktoral ini (promotion, dalam sebutan Jerman) bisa ditempuh lewat dua jalur. Pertama, studi doktoral yang bersifat individual dan kedua studi doktoral yang terstruktur. Mayoritas mereka yang mengambil doktoral di Jerman adalah menempuh jalur ini, tak terkecuali kebanyakan mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa dari DAAD (Der Deutsche Akademische Austauschdienst). Mereka yang memilih jalan ini harus mencari supervisor atau investigator yang bergelar profesor universitas. Perlu saya ingatkan jika tidak semua mereka yang bergelar profesor akan bisa menjadi pembimbing, hanya mereka yang bergelar profesor universitaslah yang diizinkan merekrut mahasiswa. Lama studi doktoral model ini tergantung dengan kontrak mereka dengan profesor, tapi biasanya berkisar 3 sampai 5 tahun. Kelebihan “individual doctoral studies” adalah mereka bisa mengerjakan doktoralnya pada universitas, pada kantor riset dan pada sektor industri.

Mereka yang menempuh cara kedua –sistem terstruktur— akan mengambil kelas yang terstruktur. Cara ini diadopsi dari model Anglo Saxon sebagai konsekwensi dari Bologna Agreement yang ditandatangani 29 negara di Eropa tahun 1999 tentang pendidikan tinggi di Universitas Bologna, Italia. Salah satu kandungan Bologna Agreement adalah model penjenjangan pendidikan tinggi menjadi S1, S2 dan S3. Mereka ini biasanya bergabung di Graduate School dan dibimbing oleh sekumpulan profesor yang membentuk tim. Karakter umum dari Graduate School adalah kurikulum yang sudah ditentukan atau didiskusikan dengan mahasiswa dan pendekatannya yang interdisipliner dan multidisipliner (lihat: https://www.daad.de/deutschland/promotion/doktoranden/en/14754-two-ways-to-do-your-phd/) Di sini biasanya, rektrutmen mahasiswa doktoral ditentukan oleh tim profesor dari Graduate School tersebut.

Meskipun profesor memiliki pengaruh yang kuat dalam proses admission, namun ada kasus juga dimana seorang profesor sudah setuju menerima, namun universitas menolak dengan alasan tertentu, biasanya adalah alasan nomenklatur. Sebagai misal, mereka yang bergelar S2 dalam bidang pertanian, sangat sulit untuk diterima untuk belajar di bidang sosiologi di Jerman meskipun profesor menyepakatinya.

Bagaimana supaya studi doktoral kita dibiayai? Banyak lembaga-lembaga Jerman yang memberikan beasiswa pada studi S3 dan semua informasi ini bisa didapatkan dari DAAD, DFG, BMBF dan masih banyak lagi. Di samping lembaga Jerman, pemerintah Indonesia kini, lewat Dikti dan LPDP juga menyediakan beasiswa. Jadi, sekarang kemungkinan mendapat kesempatan belajar di Jerman lebih terbuka dibandingkan keadaan sepuluh tahun lalu.

Jika anda punya semua persyaratan, maka mulailah mencari kesempatan dan juga berkorespondensi dengan profesor-profesor di Jerman yg sesuai dengan arah riset dan kajian anda. Jika sudah ketemu profesor yang cocok, nyatakan kepadanya anda ingin S3 dengannya dan minta dia mengeluarkan surat rekomendasi. Biasanya profesor akan bertanya soal beasiswa, selain soal topik penelitian. Katakan padanya, beasiswa akan dicari ke DAAD atau DIKTI. Ini terjadi untuk “individual doctoral studies.” Jika surat rekomendasi keluar, gunakan surat ini juga untuk mencari kemungkinan beasiswa dari sumber lain. Ada yang bilang, beasiswa yang sumber dari lembaga Jerman lebih keren dari pada beasiswa dari negara kita sendiri. Saya tidak sepenuhnya setuju anggapan itu, meskipun saya peraih beasiswa dari German Research Foundation, namun kelemahan utama beasiswa dari negara kita terutama Dikti (Kementerian Pendidikan Nasional) adalah tidak dimasukkannya komponen biaya keluarga (istri dan anak) ke dalamnya. Beasiswa dari Jerman pada umumnya memberikan tunjangan pada keluarga. Namun saya dengar sekarang pemerintah Indonesia juga mulai memikirkan untuk memberi tunjangan pada anak.

Apakah bisa pakai uang sendiri untuk PhD? Bisa sekali, untuk sekolah di Jerman, setelah kita mendapatkan admission letter kita harus punya uang ± 8.300 euro pertahun untuk disimpan di bank-bank Jerman. Bukti penyimpanan ini lalu dibawa ke kantor perwakilan Jerman (Kedutaan Jerman) di Indonesia sebagai salah satu syarat untuk mengajukan visa. Duit kita gunakan untuk hidup selama setahun dan itu cukup. Angka tersebut untuk biaya hidup satu orang saja. Pada dasarnya, sekolah pasca sarjana di Jerman hampir gratis. Kenapa saya katakan hampir, karena kita hanya berkewajiban membayar sekitar 70 Euro uang semester dan sekitar 200 Euro untuk tiket semester per 6 bulan.

***

Sekarang saya akan sedikit singgung soal program S2. Langkah pertama, persiapkan segala persyaratan akademik untuk mendapatkan surat penerimaan. Pilihan studi untuk S2 juga sudah banyak yang menggunakan bahasa Inggris, namun lebih banyak lagi yang menggunakan bahasa Jerman. Ada dua jalan yang disediakan untuk menempuh jenjang S2 di Jerman; pertama, melalui sekolah kejuruan tinggi dan kedua, melalui universitas. S2 yang dilakukan di Sekolah Kejuruan (university of applied sciences) untuk mereka yang berorientasi pada dunia kerja. Sementara S2 di universitas untuk mereka yang berorientasi pada dunia akademik. Dulu lulusan S2 Sekolah Tinggi kejuruan tidak bisa melanjutkan S3, namun sekarang pintu terbuka bagi mereka dengan persyaratan tertentu. Jika anda sebagai dosen atau berencana menjadi dosen, sebaiknya ambil S2 di Universitas, supaya nanti lebih aman utk mengambil S3 nya.

Fenomena S2 sendiri adalah hal baru bagi sistem pendidikan Jerman, dulu S1 & S2 menyatu, lulusannya diberi gelar diplom, masa pendidikan juga lama dan ini merupakan konsekwensi dari Bologna Agreement di atas. Dalam perjanjian ini, sistem diplomsecara pelan-pelan dihapus, dan Jerman mengikuti kesepakatan tersebut dengan mengadakan sistem S2.

Jerman adalah negara raksasa pendidikan Eropa yang agak lambat menerima model ini, atau melakukannya secara selektif dan pelan. Saya tidak tahu alasannya apa, namun model penjejangan tersebut adalah benar-benar mengadopsi model Amerika. Apakah kesan “pelan” terkait dengan ini? Pada satu sisi model S2 adalah lebih irit, namun pada sisi lain, model ini dianggap kurang mendalam. Apapun kritiknya, nyatanya sekarang seluruh universitas di Jerman menyediakan jenjang S2. Semua pendidikan S2 dalam bahasa Jerman hampir gratis, namun ada yang bayar juga, jika kuliah diselenggarakan dalam bahasa Inggris.

Beda dengan S3 dimana seorang profesor (doktorvater) memiliki peran tinggi, S2 tidak demikian halnya. Bahkan surat rekomendasi dari profesor tidak selalu menjadi syarat. Untuk S2 yg dibiayai oleh DAAD mereka mendapat kursus bahasa Jerman lebih dahulu. Demikian halnya dengan S3.

Lalu sejak kapan kita resmi menjadi mahasiswa? Untuk tahu apakah seseorang sudah diterima S2 di Jerman itu bisa dibuktikan dengan adanya “immatrikulations-bescheinigung” (certificate for registration). S2 harus daftar di permulaan semester (winter & summer), namun S3 bisa mendaftar nanti di saat disertasi sudah selesai. Meskipun sudah mengikuti model S2 di Amerika, namun masa tempuh S2 di Jerman sangat lama, bisa saja 5-6 tahun, terutama yang memakai bahas Jerman. Ini tidak untuk menakuti-nakuti, tapi saya melihat banyak kenyataan seperti ini. Apabila S3 butuh derai airmata, S2 di Jerman butuh ketabahan.

***

Terakhir, bagaimana dengan keluarga kita? Jika ingin keluarganya ikut, tidak ada kesulitan sama sekali untuk peraih beasiswa Jerman. Ada sedikit upaya lebih untuk peraih beasiswa dalam negeri, tapi biasanya mereka bisa, meskipun melalui tahap sulit. Hukum Jerman menjamin penuh family reunion (penyatuan kembali keluarga) sebagai hak setiap orang. Atas dasar ini, jika persyaratan keuangan dipenuhi, kemungkinan besar visa untuk keluarga kita dikeluarkan dan berkumpullah kita dengan keluarga. Sekolah anak-anak kita gratis dan istri atau suami yang ikut serta bisa ikut kursus bahasa Jerman yang disediakan untuk para imigran. Semoga bermanfaat.

Syafiq Hasyim, Meraih gelar Dr Phil dari Berlin Graduate School Muslim Cultures and Societies, Freie Universitat (FU), Berlin atas biaya Germany Research Foundation.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here