Siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma'arif Wonokasihan, Jambu, Kabupaten Semarang, menyulap kentang dan jeruk nipis menjadi sumber energi alternatif.
Siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma'arif Wonokasihan, Jambu, Kabupaten Semarang, menyulap kentang dan jeruk nipis menjadi sumber energi alternatif. Photo: Kompas.com

SEMARANG, PENDIDIKANISLAM.ID – Sekelompok siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif Wonokasihan, Jambu, Kabupaten Semarang dapat mengubah kentang dan jeruk nipis sebagai suber energi alternatif.

Kentang yang kaya akan karbohidrat, setelah diteliti lebih dalam lagi, ternyata mengandung larutan elektrolit yang dapat menghantarkan arus listrik. Sedangkan jeruk nipis mengandung asam yang merupakan bahan aktif bermuatan ion positif.

Kentang, jeruk nipis, uang logam, paku dan kabel di tangan empat siswa kelas VI MI Ma’arif Wonokasihan ini, setelah dirangkai, ternyata bisa menjadi baterai yang menyalakan lampu light-emitting diode (LED).

“Kentang sama jeruk ini sebagai alternatif penghasil listrik. Buat nanti kalau misalnya mati lampu kan nggak usah pakai lilin, pakai ini juga bisa,” ungkap Silpa Septi Rahmadhani (12), salah satu anggota tim sains MI Ma’arif Wonokasihan, Senin (15/2/2016).

Silpa menerangkan, agar bisa mengalirkan listrik arus lemah, maka uang logam dan paku harus ditancapkan ke dalam kentang dan buah jeruk nipis. Uang logam diposisikan sebagai kutub positif, sedangkan paku menjadi kutub negatif.

Selanjutnya, kentang dan jeruk nipis ditempatkan berselang-seling di dalam kotak kayu bersekat dan dirangkai secara serial menggunakan kabel.

Sepintas, rangkaian ini menyerupai rangkaian baterai. Aliran listrik arus lemah inilah, menurut Silpa, yang mampu menghidupkan lampu LED.

Semakin banyak rangkaian kentang dan jeruk nipis, maka semakin kuat pula tenaga listrik yang dihasilkan.

“Kalau bisa ini nanti disempurnakan dan bisa dikembangkan sehingga bisa bermanfaat sebagai energi alternatif,” ibuh Silpa.

Sementara itu Gus Tiam, salah satu guru pembimbing tim sains MI Ma’arif Wonokasihan menjelaskan, inovasi para siswanya tersebut tidak terlepas dari suasana belajar mengajar yang menyenangkan.

Menurut Gus Tiam, setiap anak mempunyai kreativitasnya masing-masing dan tugas guru adalah membimbing dan mengarahkan sehingga kreativitas itu menjadi hal positif.

“Dalam pembelajaran setiap hari itu kita kembangkan dengan cara yang menyenangkan, jadi anak-anak itu bisa lebih kreatif. Kita beri kebebasan yang seluas-luasnya kepada anak, kita hanya membimbing dan memfasilitasi saja,” kata Gus Tiam.

Ia menambahkan, salah satu karya siswanya tersebut merupakan purwarupa yang masih butuh disempurnakan. Diharapkan, inovasi tersebut nantinya menjadi teknologi yang lebih aplikatif dan bisa digunakan secara luas oleh masyarakat.

Sumber: Kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here