Kunjungan Jajaran Ditjen Pendis Kemanag ke Harian Kompas

Jakarta, PENDIDIKANISLAM.ID – Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) tengah meluncurkan kurikulum baru yang diberi nama Kurikulum Pendidikan Islam Rahmatan Lil’alamin sebagai sebuah revisi dari kurikulum sebelumnya, Kurikulum Pendidikan Karakter dan Kurikulum 2013.

Kurikulum baru itu menekankan pada pemahaman Islam yang damai, toleran, dan moderat di madrasah maupun sekolah di lingkungan Kementerian Agama. Upaya Kemenag ini sebagai tindakan konkrit atas paham-paham radikal dan ekstrim yang beberapa diketahui telah menyusup di sekolah-sekolah, melalui buku dan materi ajar. Hal ini menjadi perhatian Kemenag karena terkait langsung dengan keutuhan Indonesia sebagai sebuah bangsa.

“Menjaga keberagaman Islam Indonesia, hal itu menjadi tugas utama lembaga-lembaga pendidikan dan kami di Kementerian Agama,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin ketika mengadakan kunjungan ke Redaksi Harian Kompas, Senin (21/3) di Jakarta bersama Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Mohsen Alaydrus dan Sekretaris Ditjen Pendis Mohammad Isom Yusqi seperti diberitakan Harian Kompas, Selasa (22/3).

Menurut Kamaruddin, saat ini kurikulum baru itu tengah dujicobakan ke sebagian kecil sekolah maupun madrasah. Para gurunya pun tengah menjalani pelatihan sebagai persiapan pelaksanaan kurikulum anyar tersebut.

“Sesegera mungkin kurikulum baru ini dipakai di semua sekolah. Buku-bukunya juga berubah karena kita ingin pemahaman agama menjadi instrumen yang transformatif dan pemhaman Islam yang lebih baik tidak mengarah pada ekstrimisme dan radikalisme” terang Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Mohsen Alaydrus menambahkan, sebenarnya nilai-nilai dan praktik pemahaman Islam rahmatan lil’alamin yang terinci dalam kurikulum baru itu sudah dilakukan oleh para santri dan murid di pesantren dalam perilaku sehari-hari.

“Sebab itu, kuriklum baru tersebut akan lebih efektif jika diaplikasikan di sekolah-sekolah yang berasrama karena perkembangan murid akan terpantau,” jelas Mohsen.

Namun demikian, menurutnya, kurikulum ini dapat diaplikasikan di sekolah umum meski durasi pendidikan agama hanya tiga jam setiap minggunya. “Jika waktunya dirasa kurang, pendidikan bisa ditambah melalui kegiatan seperti pesantren kilat,” ujarnya.

Di lingkup Kemenag ada 76.000 madrasah dengan jumlah 9 juta murid, 30.000 pesantren, dan 700-an perguruan tinggi yang akan melaksanakan kurikulum baru tersebut. (Red: Fathoni Ahmad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here