Peringatan Hari Santri 22 Oktober 2015. Photo: viva.co.id
Peringatan Hari Santri 22 Oktober 2015. Photo: viva.co.id

Oleh: Nur Khalik Ridwan

Kaum muda Nahdliyin yang ada di kota-kota besar saat ini, umumnya bisa disebut santri urban, berpindah dari desa ke kota. Oleh sebagian NU sendiri, eksistensi mereka dikritik karena dianggap tidak peduli dengan pesantren, bahkan berbeda dengan khazanah-khazanah pesantren sendiri. Pikiran-pikirannnya yang kritis, kadang malah berbenturan dengan dunia pesantren.

Apakah sesederhana itu santri urban “dihakimi”? Ataukah sepicik itu jati diri kalangan santri urban? Menurut penulis, fenomena santri urban bukan suatu yang mudah dan sederhana untuk dihadapkan dengan desa/pesantren, hanya dengan bendasarkan kekesalan pada pikiran-pikiran mereka yang kritis, atau dianggap tidak lagi peduli dengan dunia pesantren.

Dalam hal ini, santri urban sendiri perlu dipahami bahwa memang mereka pernah dididik di pesantren dan berasal dari desa. Kalau tidak benar-benar dari desa, mereka berasal dari pinggiran kota, yang juga tetap pernah dididik di pesantren ataupun langgar. Ketika di kota besar mereka bermetamorfosis dalam dunia politik praktis (PKB,PPP, dan sejenisnya), NGO, dan profesi lain yang tidak terwadahi dalam keduanya.

Sebagai santri urban yang hidup di kota tetapi asal usulnya dari desa/pesantren,dalam dirinya tentu mengalami pergolakan batin dua dunia. Pergolakan batin ini, satu sisi mewadahi pertarungan dalam dirinya yang berasal dari desa yang agraris. Sisi lain, santri urban mengalami tantangan hidup di kota, pengetahuannya ditambah dari pendidikan tinggi dan pencarian-pencarian otodidak lain. Percampuran antara ta’limul muta`alim, dan khazanah pesantren lain, dengan bacaan teori-teori sosial kritis semacam marxisme, hermeneutika, teori globalisasi dan lain-lain, bukan suatu yang mudah untuk disintesakan.

Jauh lebih sederhana dari itu, sebenarnya pergolakan batin yang rumit dan keengganan kembali ke pesantren dan desa, juga disebabkan oleh kecenderungan didikan zamannya Soeharto yang mempengaruhi santri urban dalam bidang tani. Pada masa Soeharto, desa dan pertanian menghasilkan didikan bahwa menjadi petani itu hina, tidak cukup untuk hidup layak, dan harus ditinggalkan untuk mencari peruntungan di kota-kota besar.

Imajinasi orang-orang tua santri urban kadang juga mempersulit pengambilan posisi santri urban. Pada umumnya, orang-orang tua mereka lebih melihat bahwa “keberhasilan” ketika mereka pergi ke kota adalah menjadi semacam PNS, pulang harus membawa mobil, dan sejenisnya. Ini telah menyulitkan ruang santri urban untuk mengabdikan ilmunya di desa, meskipun sangat bisa dipahami karena orang tua berharap anaknya berhasil.

Di tengah situasi itu, hanya ada pilihan terbatas bila ingin kembali ke desa dan bisa diperhitungkan di dalam formasi social desa: membentuk pesantren juga, dan ini suatu yang tidak mudah baik dari sisi imajinasi kritis ataupun dari sisi kontestasi dengan pesantren yang hampir ada di setiap desa; membentuk NGO lokal, yang tentu tidak semua santri urban bisa melakukannya, baik karena alasan substansi gerakan atau jaringan, yang berarti ruang arenanya juga kecil; dan kalau tidak demikian, adalah kembali dengan sebuah keberhasilan sebagai pengusaha, dan pilihan dilematis lain.

Di tengah pilihan yang terbatas itu, bagi mereka yang hanya pernah dididik di pesantren, dan bukan bagian dari keluarga pesantren, jauh lebih sulit untuk kembali ke desa/pesantren. Kembali ke pesantren/desa, akan dengan jelas mempengaruhi kontestasi sosial justru dengan kiai-kiai pesantren dan kiai-kiai langgar, yang notabene adalah guru-guru mereka sendiri. Ada kesungkanan; ada persepsi di kalangan desa bahwa bukan keluarga darah biru pesantren tidak cukup banyak didengarkan suaranya; pikiran-pikiran kritis, meskipun disesuaikan dengan keadaan desa sekalipun, akan banyak berbenturan dengan kalangan pesantren sendiri.

Lagi-lagi, ini semua mempengaruhi pergolakan batin santri urban: antara mau kembali dan mewakili murni pesantren dan desa, ataukah tetap hidup di kota dengan konteks sosial di kota dan tantangan yang juga kompleks. Satu sisi, idealnya memang untuk memberdayakan Nahdliyin, harusnya berawal dari memberdayakan desa dan pesantren,dan itu berarti santri urban perlu ke desa dan kembali ke pesantren. Sisi lain, pertimbangan-pertimbangan yang telah disebutkan di atas menjadi titik krusial tersendiri.

Dengan krusial yang demikian, imajinasi bahwa di kota lebih banyak memberikan peluang, terutama bagi mereka yang sedikit memiliki kemampuan professional, tentu akan dilihat lebih menjanjikan. Santri urban jenis ini tidak memiliki harapan untuk kembali ke desa sebelum menunjukkan “keberhasilan” di kota. Mereka akan memilih jalan lain, yaitu menjadi elit menengah jenis lain di kalangan Nahdliyin selain elit kiai, yaitu elit muda.

Meski begitu harus diakui bahwa di kota yang menjadi pusat-pusat NGO, sumber-sumber (eksploitasi) ekonomi, pusat politik, dan pusat mobilitas sosial, bukan berarti pertarungan santri urban di kota menjadi mudah. Santri urban harus berhadapan dengan kelompok kepentingan lain yang jauh lebih kompleks daripada formasi sosial di desa: dengan kalangan santri non-NU yang bertradisi di kota; kalangan sosialis yang tradisi intelektualnya sudah diberikan landasan oleh para sesepuhnya sejak dahulu; kalangan nasionalis, dan kelompok-kelompok lain. Tapi bagi kaum muda ini menjanjikan dan menantang.

Di sinilah titik masalah akan muncul. Tantangan di kota yang kompleks itu, berarti santri urban tidak mungkin ngotot hanya berbasiskan khazanah pesantren. Ditambah pengetahuan yang didapatkan dari pendidikan tinggi, belajar otodidak, pertarungan sosial, dan konteks sosial di kota, jelas mensyaratkan adanya kemampuan yang harus melampui khazanah murni pesantren. Lalu, muncullah pikiran-pikiran kritis dari santri urban, yang sebagiannya digelisahkan oleh kalangan pesantren sendiri.

Perbenturan antara santri urban dengan dunia pesantren, kadang-kadang cukup tajam,terutama dalam soal pemikiran, meskipun tujuan mereka sama-sama ingin mengangkat derajat kaum Nahdliyin. Perbenturan itu diperparah karena kurang adanya saling percaya satu sama lain: mereka adalah sama-sama ingin mengembangkan dan membangun peradaban Nahdliyin.

Kalau santri urban dan pesantren bisa memahami kelebihan dan kelemahannya tentu perbenturan itu justru akan menimbulkan kreatifitas yang saling mengisi. Sebaliknya kalau keduanya tidak bisa memahami kelebihan/kekurangannya, hanya menghasilkan perbenturan tanpa kebijaksanaan: yang satu mengatakan konservatif, yang satunya mengatakan telah keluar dari pikiran Nahdliyin. Padahal mereka yang dianggap keluar itu, dalam bahasa Kang Thohari, yang penulis temui pada Mei lalu di Purwokerto ia menyebutkan: “mereka keluar dari Nahdliyin menuju Nahdliyin yang lain.”***

Nur Khalik Ridwan, pengarang buku NU dan Neoliberalisme dan beberapa buku lain, anak dari buruh tani NU di Banyuwangi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here