Khamami Zada
Khamami Zada

Potret pesantren di Indonesia sejak dekade terakhir menampilkan coraknya yang lebih beragam. Fenomena ini tentu saja seiring dengan potret gerakan Islam di Indonesia mutakhir yang sangat kaya dengan polarisasi. Sejak dahulu, Islam sudah menunjukkan wajahnya yang beraneka ragam. Jika ditarik dari label yang inheren di dalam komunitas Islam, banyak sekali memunculkan nama/label. Ada Islam tradisionalis, Islam modernis, Islam abangan, Islam puritan, Islam skripturalis, Islam substantif, Islam literal, Islam ekstrem, Islam militan, dan lain sebagainya. Kentalnya polarisasi ini menunjukkan semakin berkembangnya gerakan Islam di Indonesia.

Hal ini tentu saja membenarkan polarisasi yang pernah dibuat oleh Martin Van Bruinessen (1995) bahwa pesantren sebagai institusi keagamaan yang memiliki “great tradition” (tradisi agung) untuk mentransmisikan Islam di Indonesia mengalami polarisasi ke dalam pola tradisional, modernis, reformis dan fundamentalis mengikuti aliran-aliran Islam yang berkembang. Karena itulah, pesantren sudah bukan lagi menjadi karakter khas kelompok tradisional yang selama ini memiliki jaringan pesantren terbesar di wilayah Nusantara. Kini, pesantren sudah dimiliki oleh setiap aliran keagamaan (Islam) di Indonesia, baik yang tradisional, modernis, dan bahkan yang berhaluan radikal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here