ujian nasional

Ujian Nasional (UN) tahun 2016 tinggal menghitung hari. Untuk tingkat SMA/MA/SMK, ujian nasional utama akan dilaksanakan pada 2-6 April 2016, sedangkan untuk SMP/MTs dilaksanakan 25-28 April 2016 mendatang. Ini belum teramsuk jadual UN perbaikan dan UN susulan. Sejak 2014 hingga kini, sistem UN dilakukan melalui dua cara, berbasis kertas dan komputer, yakni ujian nasional berbasis komputer (UNBK) atau Computer Based Test (CBT).

Namun, tulisan ini tidak bermaksud mengulas UN 2016, tetapi mengulas dan mengingat kembali ujian nasional di masa lalu dengan berbagai peristiwa dan laku. Jika sekilas refresh ke belakang, sejak tahun 2003 silam, ujian kelulusan secara nasional (istilah dulu: Ujian Akhir Nasional, UAN) digunakan oleh pemerintah sebagai alat evaluasi. Dari mekanisme ini, poin pentingnya yaitu adanya standarisasi. Siswa dinyatakan lulus apabila telah memenuhi standar yang telah ditetapkan secara ketat dan mengikat. Namun demikian, mekanisme dan standar kelulusan dari tahun ke tahun mengalami perbaruan.

Dengan standar yang ketat dan mengikat, Ujian Nasional (UN) sering menjadi momok bagi setiap siswa di Indonesia. Siswa dikerahkan untuk mengikuti pelajaran tambahan hingga sore hari. Tambahan jam pelajaran ini dilakukan oleh siswa dengan guru sebagai instrukturnya agar siswa memahami secara ‘teknis’ dalam mengerjakan soal-soal ujian. Dengan kata lain, semua itu dilakukan dengan tujuan supaya siswa dapat menaklukan soal-soal ujian nasional. Bukan untuk mengarahkan pada cara berpikir yang baik dan sistematis dalam menghadapi persoalan. Di titik inilah, 3 tahun bersekolah seakan ditentukan oleh 3 hari dalam ujian nasional. Meminjam nomenklatur Benyamin S Bloom, praktis UN hanya bersifat cognitif center, dua aspek penting lain seperti afektif (kecerdasan laku) dan psikomotor (skill, keterampilan gerak) sadar atau tidak telah mengalami degradasi.

Kendati demikian, perbaruan mekanisme ujian nasional beberapa tahun belakangan dirasa tak sesulit pada tahun-tahun awal diterapkannya UN yang jika siswa tidak lulus, praktis tidak bisa mengulang. Saat itu, kelulusan 100 persen ditentukan oleh nilai mata pelajaran yang diujinasionalkan. Sedangkan ujian sekolah dan nilai rapor dinafikan. Lain dulu lain sekarang, dengan komposisi UN sebesar 60 persen dan US 40 persen dalam hal mempengaruhi kelulusan. Artinya, nilai UN dapat terangkat oleh nilai US.

Perkembangan terakhir terkait dengan masa-masa kelulusan ini, para siswa tetap mengejar nilai UN tinggi agar lebih mudah masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN) favorit. Karena nilai UN tinggi ditunjang dengan nilai rapor yang memadai akan membuat siswa memperoleh beasiswa full dari pemerintah sebagai salah satu persyaratan. Di Kemdikbud ada Beasiswa Bidik Misi, sedangkan di Kementerian Agama ada Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB). Fasilitas ini yang tidak didapatkan oleh siswa generasi UN awal (2003-2007). Bahkan pada zaman itu, UN benar-benar menjadi momok menakutkan sebagai syarat mutlak kelulusan siswa dan nilai tinggi ujian nasional pun seolah tak ada artinya karena saat itu tetap harus berjuang maksimal melalui tes agar bisa masuk PTN.

Impact ujian nasional

Dengan kondisi psikologis siswa yang dari zaman ke zaman mengalami perubahan, juga dengan kemudahan mekanisme dan standar ujian nasional, nampaknya UN tak banyak mempengaruhi siswa secara psikologis yang masih mengalami depresi, stres, dan lain-lain. Ini terjadi ketika posisi UN masih menjadi momok bagi siswa untuk lulus. Dari gejala psikologis ini, akhirnya siswa melakukan banyak hal untuk mereduksi kondisi tersebut mulai dari perilaku irrasional yaitu mencari kemudahan melalui ‘orang pintar’ hingga yang religius seperti berdoa bersama atau beristighotsah, bahkan ada yang melakukan ritual pensil UN-nya minta didoakan sehingga mengerjakan soal serasa lebih mudah.

Sebagai sebuah usaha tentu tidak ada salahnya jika seorang siswa meyakini akan kebenarannya, minimal dengan nalarnya sendiri. Jika nalarnya berpikir bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat meminta, mintalah kepada Tuhan atau orang-orang yang berafiliasi dengan Tuhan seperti ulama atau kiai yang benar-benar wara’ dan bersahaja. Dengan hal yang demikian, tentu kita tidak memposisikan seorang Kiai adalah tempat meminta, melainkan sebagai wasilah (perantara) kepada Yang Maha Memberi yaitu Tuhan.

Di titik ini timbul pertanyaan, apakah Tuhan tidak mendengarkan doa kita sehingga perlu perantara? Tentu sangat mendengar, bahkan dari keinginan hati manusia yang tersembunyi sekalipun. Sekarang pertanyaannya dibalik kepada diri kita, apakah doa seorang yang fakir seperti kita yang laku kehidupannya jauh dari Tuhan, lalai, bahkan lebih banyak tidak tunduknya, kemudian Tuhan akan mengabulkan atau dengan cepat akan mengabulkan permohonan kita?

Tentu perantara orang baik secara sosial dan spiritual, sholeh, taat, dan tunduk kepada Tuhannya sangat diperlukan untuk menjadi wasilah yang akan membawa doa-doa kita menuju ke Haribaan-Nya. Manusia yang dekat dengan Tuhannya, akan menjadi kekasih-Nya, wali kalau istilah sekarang. Semua hijab di dunia dibukakan oleh Tuhan sehingga hal-hal yang bersifat ghaib yang tidak nampak di mata manusia biasa, tetapi dalam pandangannya semua nampak jelas. Itulah karomah atau keistimewaan sehingga apakah kita masih meragukan bahwa peran wasilah orang-orang sholeh sangat penting untuk kita yang masih fakir?

Artinya, dekatlah dengan orang-orang sholeh agar kita mendapatkan kemudahan dari Tuhan yang memang dekat dengan mereka. Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh siswa dengan beristighotsah, menghadirkan guru atau kiai untuk mendoakan sangatlah penting. Banyak nilai-nilai religius yang bisa kita raup, selain menghadirkan optimisme, energi spiritual akan tumbuh dan tali kasih sayang sesama manusia pun (silaturrahim) akan semakin erat. Apakah Tuhan menyukainya? Tentu sangat menyukai.

Laku spiritual: sebuah pengalaman

Pengalaman penulis artikel ini di tahun 2005 hingga 2007, di setiap tes atau ujian penulis selalu mengalami first shock dalam mengerjakan soal. Apalagi yang dikerjakan mata pelajaran eksak terutama matematika. Gejala gemetaran, takut tidak bisa menyelasaikan soal, tidak pede sehingga timbul rasa khawatir jika nanti sudah menganalisis soal dengan cara yang begitu panjang tapi tidak ketemu juga jawabannya, grogi, dan lain sebagainya membuat penulis nyata-nyata kesulitan dalam mengerjakan soal-soal ujian.

Itu tes sekelas ujian semester, apalagi tingkatan ujian nasional yang saat itu memang mekanismenya jika nilai UN dari tiga mata pelajaran tidak mencapai standar kelulusan, maka siswa harus mengulang lagi satu tahun. Ketika itu memang tidak ada mekanisme ujian ulang, jika pun ingin mendapatkan ijazah, pemerintah memeperkenankan untuk ambil pendidikan kesetaraan, paket C.

Setiap bakda shalat maghrib hingga malam, memang penulis bersama 4 orang teman mengaji al-Qur’an dan kitab ulama klasik kepada seorang kiai dan kegiatan mengaji ini sudah penulis jalani selama 3 tahun. Kita berlima setiap hari tak jarang berkonsultasi persoalan kehidupan tak terkecuali masalah UN yang beberapa minggu lagi akan kita hadapi saat itu. Kami memang hanya sekadar meminta doa karena dia merupakan seorang ulama yang begitu alim dan wara’ di desa kami.

Ketika itu kami belum memahami hal ihwal wasilah, kami hanya berpikir bahwa dia adalah orang soleh dan baik, tentu merupakan hal yang baik pula untuk minta doa kepada orang baik. Ternyata tak sekadar mendoakan, dia juga memberikan amalan doa yang dianjurkan untuk dibaca setiap habis shalat wajib dan shalat malam. Artinya, doa ini makbul jika kita tidak melalaikan shalat. Hiden education yang luar biasa. Penulis sendiri memang berusaha tirakat dengan secara rutin berpuasa sunah senin-kamis walaupun tujuan puasa itu selama menjadi pelajar sedikit beraroma pragmatis.

Ketika hari H ujian nasional tiba, penulis merasakan kemudahan dan ketenangan dalam mengerjakan soal-soal UN. Bahkan matematika yang selama ini terasa menjadi momok bagi penulis, berhasil dengan tenang, mudah dan mengalir dapat penulis kerjakan dengan jawaban yang sangat meyakinkan saat itu. Sebuah pengalaman yang belum pernah dirasakan sebelumnya, karena setiap menghadapi soal matematika dan ilmu eksak lain, penulis selalu merasa tidak tenang dan grogi. Itulah kemungkinan besar yang membuat setiap siswa praktis kesulitan secara psikologis dalam mengerjakan soal. Padahal kondisi psikologis yang tenang dan rileks sangat dibutuhkan untuk berpikir.

Kemudahan dan ketenangan dalam mengerjakan soal-soal UN, penulis sadari bahwa semua ini didapatkan berkat kontemplasi (persemedian, tirakat, berdoa, dan berusaha) yang selama ini dilakukan. Dekat dengan seorang kiai, mendapatkan doa-doanya, dan menjalani amalan-amalan yang diberikannya berupa doa dan ajuran ketundukan kepada Tuhan. Penulis sadar betul bahwa harus ada ikhtiar pribadi untuk melegitimasi kesungguhan hati dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan. Tentu bukan sekadar untuk kepentingan pragmatis dalam memperoleh kesuksesan di ujian nasional. Selamat menempuh ujian nasional!

Fathoni Ahmad, Pengajar di STAINU Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here