Dunia anak-anak hari ini sesungguhnya benar-benar mengkhawatirkan. Dari penelitian UNICEF tahun 2013 disebutkan bahwa 79 persen anak-anak sudah mengakses internet, dan ironisnya mayoritas tanpa pendampingan, sehingga ditemukan sebagian besar anak telah terpapar pornografi.

Satu tahun sebelumnya, 2012, South East Asian Nutrition Survey (SEANUTS) melakukan riset terhadap 2.558 anak berusia 6-12 tahun di 25 provinsi dan hasilnya tidak kalah mencengangkan: 55,2% anak menghabiskan waktunya menonton televisi, bermain komputer ataupun game lebih dari 2 jam setiap harinya. Sedangkan Kompas Agustus 2015 juga melakukan penelitian di  12 kota, yang di antara hasilnya mengatakan mayoritas anak-anak menonton televisi 1-6 jam per-hari. Dan lebih dari 50 % tidak menerapkan aturan waktu bagi anak

Padahal penelitian oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Ikatan Sarjana Komunikasi (ISKI) pada Juni 2015 di 9 kota menegaskan bahwa program siaran televisi masih di bawah standar. Khusus program acara anak-anak, Indeks kualitas adalah 3,03, masih di bawah angka 4 (berkualitas) yang ditetapkan oleh KPI.

Jika kita menilik perkembangan rasio dan psikologis yang belum matang menjadikan anak adalah kelompok paling rentan dari eksploitasi industri televisi. Siaran penuh kekerasan, gosip, dan eksploitasi tubuh perempuan utamanya adalah ancaman bagi tumbuh kembang anak.

Hak-hak anak di televisi kerap diabaikan. Pengabaian ini di antaranya bisa dilihat dari minimnya proporsi tayangan anak. Riset Remotivi menunjukkan bahkan beberapa stasiun televisi lebih mengutamakan tayangan mistik dan gosip ketimbang program anak.

Meskipun ada beberapa stasiun televisi yang memiliki lebih banyak program anak ketimbang mistik dan horror, namun program anak yang tayang di televisi belum tentu aman dikonsumsi anak. Beberapa tayangan anak terbukti mengandung kekerasan. Contoh terakhir adalah keluarnya sanksi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) atas program Dragon Ball di Global TV yang dinilai banyak mengandung muatan kekerasan. Global TV pun pada akhirnya menuruti himbauan KPI untuk menghentikan tayangan film kartun tersebut. Fakta ini adalah tanda bahwa banyak tayangan yang dikonsumsi anak sesungguhnya tidak aman.

Di Indonesia, mengacu pada catatan Remotivi, semenjak 2006 hingga tahun ini setidaknya ada 8  kasus kekerasan anak yang diakibatkan oleh tayangan televisi.  Pada 2006, tayangan “Smack Down” dihentikan setelah banyak anak yang menjadi korban akibat menonton dan menirukan adegan di dalamnya. Sedikitnya ada tujuh kasus kekerasan yang ditengarai akibat tayangan “Smack Down” telah dilaporkan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Kasus Ke 8 melibatkan seorang anak laki-laki berusia 12 tahun di Jakarta Pusat. Anak tersebut ditemukan tergantung di ranjangnya yang bertingkat. Menurut keterangan orang tua korban dan saksi lainnya, diketahui bahwa ia gemar meniru aksi seorang pesulap di televisi. Setiap selesai menyaksikan tayangan “Limbad The Master”, korban mempraktikkan adegan yang ditontonnya.

Tentu jika kita mau membuka file-file berita berkaitan kekerasan anak akan berderet berbagai kejadian dan peristiwa yang mencengangkan dan membuat kita miris. Bagaimana anak-anak kita bisa melakukan hal-hal yang demikian. Kekerasan dan kekerasan anak terjadi bahkan pada level yang menggiriskan.

Karena itu tidak bisa tidak orang tua, guru, dan keluarga harus kembali mengasuh, mendampingi, dan mendidik anak-anak yang ada di rumah masing-masing. Apa yang ia baca, ia akses, dan ia lihat harus benar-benar membawa dampak positif bagi anak. Jangan biarkan anak-anak berselayar di dunia maya yang antah berantah dengan segala sampah. Atau menonton televisi yang sesungguhnya tak layak konsumsi.

Agama telah mengajarkan, baik buruknya anak tergantung orang tua. Mau dia menjadi kafir atau mukmin, menjadi bodoh atau pintar, menjadi bijak atau pecundang, menjadi bermanfaat atau merusak, semua tergantung orang tua.

Demikian pula guru harus menjadi teladan bagi setiap anak didiknya. Jangan sampai berulang ulah guru yang menggegerkan karena perilaku biadabnya. Sampai guru menjadi pelaku dari sesuatu yang ia wanti-wanti dijauhi oleh murid-muridnya. Jadilah guru yang benar-benar guru.

Dan kita semua, saudara, tetangga dan lingkungan yang menjadi wilayah di mana anak-anak itu tumbuh dan berkembang, sayangilah anak-anak seperti anak-anak sendiri. Bantulah mereka mendapatkan pendidikan terbaik, pengalaman berharga, dan ilmu yang bermanfaat. Karena dengan kerjasama kita semua, masa depan anak-anak yang gilang gemilang bukanlah sesuatu yang sulit. Sebab anak-anak itu adalah anak-anak kita juga, yang akan memegang negeri ini di masa yang akan datang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here