KH.-Abdul-Wahid-Hasyim
KH. Abdul Wahid Hasyim

PendidikanIslam.id – 

Pada masa pendudukan Jepang, A Wahid Hasyim mewakili ayahandanya, KH Hasyim Asy’ari, sebagai Kepala Shumubu atau Jawatan Urusan Agama Pusat. Posisi yang sangat strategis pada tahun 1942. Suatau saat, Wahid mengundang Ketua Pemuda Anshor Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, Saifuddin Zuhri bertemu dengannya di Jakarta.

Akhirnya bertemulah keduanya di Hotel Des Indes, hotel kelas satu di Jakarta, yang sebelumnya hanya pembesar-pembesar Belanda yang menempatinya. Wahid banyak bicara situasi politik saat itu, termasuk mengajak Saefuddin untuk bertemu Muhammad Yamin, salah satu tokoh pergerakan.

“Malam ini tentu akan ada rencana baru. Betul kan, bahwa saya telah mengadakan hubungan dengan berbagai golongan? Alhasil, kita kaum santri sedang diperlukan oleh semua golongan. Kita juga memerlukan mereka. Kita saling memerlukan dalam rangka perjuangan besar memerdekakan bangsa kita dari penjajahan yang manapun,” kata Wahid sambil mengikat sepatu, bersiap ke kediaman Yamin.  Mengenakan celana dan kemeja, penampilannya sedikit berubah yang sebelumnya memakai kain sarung.

Wahid berdiri, bercermin sebentar membetulkan letak dasinya. Lalu mengambil peci hitamnya. Ditentengnya peci itu, lalu mengajak Saefuddin keluar dari kamar hotel. Di luar telah tersedia sebuah mobil Fiat hitam. Wahid mengemudikan sendiri mobilnya, sementara Saefuddin duduk di sampingnya.

Malam itu, kira-kira pukul 21.00, jalan-jalan di Jakarta tampak sepi. Terlihat beberapa delman dan orang naik sepeda berlalu lalang. Mobil-mobil tidak begitu banyak, itu pun cuma dinaiki TuanTuan Dai Nippon.

“Ini mobil dinas Gus?” Tanya Saefuddin mengalihkan pembicaraan.

“Bukan! Mobil dinas cuma di waktu kantor. Itu pun jarang aku pakai. Saya diberi mobil dinas pakai tanda militer Jepang, saya tak mau pakai. Saya tak mau memakai mobil militer Jepang. Sebab itu, saya membeli sendiri mobil Fiat ini,” jawabnya.

Saefuddin cukup terkejut mendengar jawaban Wahid.

“Bagaimana caranya bisa membeli mobil sendiri di zaman begini?” Tanya Saefuddin penasaran. Pasalnya zaman itu tidak ada orang sipil yang memiliki mobil.

“Ya Allah, kalau soal mobil saja tidak bisa memecahkannya, bagaimana bisa memecahkan persoalan rakyat?” jawab Wahid tegas.

Ia menjelaskan, “Mobil adalah suatu alat bepergian, juga alat berjuang. Banyak di antara kawan-kawan kita yang sudah tergolong pemimpin, kadang-kadang persoalan rumah tangga saja tidak bisa memecahkannya, bagaimana bisa memecahkan masalah umat yang jauh lebih besar dari sekedar masalah rumah tangga.” (Fathuri SR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here