Sohih-Bukhori

Siapa yang tidak kenal dengan Imam Bukhari, ahli hadist paling terkemuka, di mana kitab hadistnya, yang dikenal Shahih Bukhari menjadi kitab hadist paling top, paling shahih di antara kitab-kitab yang lain. Nama lengkap beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari al-Ju’fi. Beliau dilahirkan di Bukhara selepas shalat Jumat. Tepatnya pada tanggal 13 Syawal tahun 194 H.

Sejak kecil, cikal bakal ulama serta bakat keilmuannya telah tampak. Pada usia enam belas tahun, beliau telah hafal kitab karangan Imam Waqi’ dan Ibnul Mubarak. Kemudian menginjak usia tujuh belas tahun, beliau telah dipercaya oleh salah seorang gurunya, Muhammad bin Salam Al-Baikandi, untuk mengoreksi karangan-karangannya. Pada usia yang sama, beliau telah menjadi sumber rujukan hadits bagi tokoh-tokoh agama di Bashrah.

Di dalam kitab Siyar ‘Alamin Nubala, Hasyid bin Ismail dan seorang temannya mengisahkan, “Pernah Abu Abdillah Al-Bukhari pergi belajar bersama kami kepada ulama-ulama Bashrah. Saat itu ia masih sangat muda dan ia tidak pernah mencatat. Hingga satu ketika kami menegurnya, “Sesungguhnya engkau pergi belajar bersama kami, namun engkau tidak pernah mencatat, apa saja yang engkau kerjakan?”

Enam hari setelah kejadian itu ia berkata kepada kami, “Sesungguhnya, kalian berdua telah berulang kali menegurku, sekarang tunjukkanlah apa yang telah kalian catat.” Kami pun menunjukkan catatan kami kepadanya, dan ia justru menambahkan lima belas ribu hadits lagi pada catatan kami, kemudian membacakan seluruh hadits-hadits tersebut dengan hafalannya. Sehingga justru kami mengoreksi catatan kami (sebelumnya) dengan merujuk kepada hafalannya. Ia berkata kepada kami, “Apakah menurut kalian aku pergi untuk sesuatu yang sia-sia dan aku menyia-nyiakan hari-hariku?” Kami pun tersadar, tidak ada seorangpun yang mampu mengunggulinya.”

Tentang kehebatan daya hafalnya ini, sepuluh ulama Bashrah pernah sengaja mengujinya. Masing-masing mereka melemparkan pertanyaan kepada Imam Bukhari tentang sepuluh hadits yang telah dibolak-balikkan sanad dan matannya. Sehingga semuanya berjumlah seratus hadits. Ternyata beliau mampu mengembalikan sanad serta matan hadits masing-masing ulama tersebut sesuai urutannya yang benar, hanya dengan sekali dengar. Sebagaimana yang beliau akui, bahwa beliau mampu menghafal dua ratus ribu hadits shahih, serta dua ratus ribu hadits yang tidak shahih berikut sanad-sanadnya tanpa keliru sedikitpun. (Fathuri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here