Amir bin Syurahbil Asy-Sya’bi lahir dan dibesarkan di kota Kufah. Ia mendapat kesempatan untuk bertemu sebanyak kurang lebih 500 sahabat yang mulia. Ia meriwayatkan dari sahabat-sahabat utama seperti Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqash, Zaid bin Tsabit, Ubadah bin Shamit, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Sa’id al-Khudri, Nu’man bin Basyir, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Adi bin Hatim, Abu Hurairah, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anhu dan lain-lain.

Tatkala tampuk khilafah ada di tangan Abdul Malik bin Marwan (685 – 705 M), khalifah kelima Bani Umayyah, ia menulis surat kepada gubernurnya di Irak, Hajjaj bin Yusuf: “Hendaknya engkau mengirim kepadaku seorang yang mahir dalam hal agama dan dunia, yang akan aku jadikan sebagai teman dan pendampingku.”

Lalu diutuslah Asy-Sya’bi dan Amirul Mukminin berkenan menjadikannya sebagai pendamping dan memanfaatkan ilmunya ketika menghadap kesulitan, memakai pandangannya setiap kali membutuhkan dan menjadikan dia sebagai utusannya untuk bernegosiasi dengan raja-raja di muka bumi.

Suatu kali asy-Sya’bi diutus untuk urusan penting menemui Justinian kaisar Romawi. Setibanya beliau di Romawi dan setelah memberikan keterangan, Kaisar Romawi kagum akan kecerdasan dan kelihaiannya, serta takjub akan keluasan wawasan dan kekuatan daya tangkapnya. Dia bahkan meminta kesediaan asy-Sya’bi untuk memperpanjang kunjungannya sampai beberapa hari, sesuatu yang tidak pernah dilakukan Kaisar terhadap para utusan yang lain.

Ketika asy-Sya’bi mendesak agar segera diizinkan pulang ke Damaskus, Justinian bertanya, “Apakah Anda dari keturunan raja-raja?” Beliau menjawab, “Tidak, saya seperti umumnya kaum muslimin.”

Inilah keulamaan Asy-Sya’bi yang diakui oleh kawan maupun lawan. Namun di luar itu semua, ia adalah sosok yang tawadlu. Ia tidak suka jika ada yang menyebutnya sebagai alim (orang yang berilmu) atau faqih (ahli ilmu agama). Pernah salah seorang dari kaumnya berkata, “Jawablah wahai faqih, wahai alim!” beliau berkata, “Janganlah memujiku dengan apa yang tidak ada padaku. Orang yang faqih adalah orang yang benar-benar menjauhi segala yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang alim adalah orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manalah aku termasuk ke dalamnya?”

Asy-Sya’bi tidak segan-segan menerima ilmu dari orang-orang yang masih pemula kendati beliau sendiri telah masyhur akan keutamaan, ma’rifah, dan hikmah-hikmahnya.

Pernah suatu ketika ada orang dusun yang selalu rajin mendatangi majlisnya, tetapi orang ini banyak diamnya, sehingga suatu kali asy-Sya’bi menegurnya, “Mengapa engkau tak pernah bicara?”

Dia berkata, “Ketika aku diam maka aku selamat, ketika aku mendengar maka aku mendapat ilmu. Hasil dari telinga akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan hasil lisan akan berpindah ke orang lain.” Sejak itu kalimat orang dusun tersebut selalu beliau ulang-ulang dalam hidupnya.

Demikianlah Asy-Sya’bi, seorang alim yang belajar kepada siapa saja, tetap rendah hati meski diakui tinggi keulamaannya. [Fathuri SR]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here