Home Inspirasi Sosok Pohon Pintar Suprihatin Jadi Tiket ke Finlandia

Pohon Pintar Suprihatin Jadi Tiket ke Finlandia

33
0

Banjarnegara (Kemenag) — Pohon seukuran tanaman Bonsai dengan tinggi tak lebih dari 60 centimeter dan berdiameter keseluruhan sekitar 40 centimeter per segi, bertengger di sebuah ruang kelas sekolah Raudhatul Athfal di perbatasan Kabupaten Banjarnegara dengan Kabupaten Prubalingga Jawa Tengah. Sekolah untuk anak-anak usia dini tersebut, berdiri sejak tahun 1982 lalu, kini berhasil menarik perhatian anak-anak untuk semangat belajar.

Peserta didik tampak antusias belajar setelah melihat sebuah pohon pintar dengan buah berwarna-wani tersebut. Syifa, salah satu siswa yang selalu mengacungkan jari telunjuknya saat guru bertanya. Semula, guru hanya menanyakan warna buah yang ada di gambar sebuah kertas karton. Namun hingga akhirnya, guru menanyakan jumlah buah yang berwarna tersebut dan meminta untuk menghitungnya.

Dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan, guru yang dibantu dengan alat mainan peraga pembelajaran, setidaknya mampu mengajarkan para siswa yang rata-rata berusia 5 hingga 6 tahun bisa menghitung bilangan hingga angka 10, sekaligus mengenali bentuk angka-angkanya. Metode pembelajaran bagi anak usia dini ini, tergolong efektif karena alat peraga yang digunakan memikat minat kepada siswa untuk bermain sekaligus belajar.

Suprihatin, adalah sosok guru dibalik pohon yang dijadikan sebagai alat peraga pembelajaran tersebut. Wanita kelahiran 23 Juli 1978 di Banjarnegara, memiliki ide pembuatan Pohon Pintar saat melihat buah dari pohon di sekitar rumahnya berjatuhan, lalu buah tersebut dipungut sambil dihitung satu per satu. Tidak disangka, aktivitas memungut buah yang jatuh tersebut kerap dilakukan oleh anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya sambil bersenang-senang.

Tak membutuhkan waktu lama untuk merangkai ide, Suprihatin memanfaatkan pipa-pipa bekas untuk dibentuk menyerupai pohon. Lalu di ujung tangkai yang terbuat dari pipa bekas tersebut, digantung sebuah bola-bola mainan dan diberi angka.

Setelah karyanya bisa digunakan, Suprihatinpun tak mau ketinggalan untuk mengikutsertakan alat peraga tersebut dalam sebuah perlombaan di tingkat Kabupaten. Namun karya ciptaannya tak mampu menarik dewan juri untuk memenangkannya.

Suami dari Suprihatin yang sangat mendukung kemauan sang istri, memberikan saran agar alat peraga yang dibuat oleh istrinya lebih interaktif. Kasbu Pramudya adalah suami Suprihatin, pekerja serabutan yang sering dimintai bantuan oleh tetangganya untuk mendekorasi panggung. Namun latar belakang pekerjaan tersebut, sekedar bisa membantu karya istrinya jauh lebih menarik dari segi penampilan. Sehingga untuk bisa mendesain secara teknis agar alat peraga tersebut lebih interaktif, maka Suprihatin merancangnya sendiri.

Tak lama berselang, Suprihatin menginginkan agar bola-bola yang dianggap sebagai buah dari pohon-pohonan itu bisa jatuh saat tombol dipencet. Pramudyapun mendesain ulang pipa-pipa bekas agar di dalamnya ditanami benang yang kuat sebagai penghubung tombol dan tangkai bola.

“Saya senang melihat kemauan istri saya yang begitu getol agar anak didiknya senang belajar, meski istri saya hanya guru wiyata bhakti dengan gaji yang tak seberapa, namun saya merasa bangga jika para siswa di sekolahannya sangat senang belajar dengan karya yang kami buat”, ungkap Pramudya.

Tepat pada perlombaan yang diadakan di tingkat Provinsi Jawa Tengah, Suprihatin mengajukan kembali alat peraga pembelajaran yang sudah ia desain ulang. Dan saat diumumkan sebagai pemenang juara satu di tingkat Provinsi, Suprihatinpun terpilih sebagai Guru Berprestasi tingkat nasional pada tahun 2016 oleh Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Agama.

“Yang terpenting bagi kami ya bagaimana caranya agar para siswa yang memang sedang masa-masanya senang bermain ini juga senang untuk belajar. Perkara saya menang juara lomba dan diberi kesempatan untuk meraup pengalaman hingga ke Finlandia itu buat saya nomer ke sekian yang memang patut saya syukuri,” tutur Suprihatin.

Suprihatin yang juga memiliki dua anak ini, merasa bersyukur dengan almamater yang selama ini menjadi perjuangan hidupnya. Sekolahan yang berlabel Raudhatul Athfal Al Fatah tersebut, telah banyak memberikan kontribusi nilai-nilai pendidikan yang sangat dasar dalam hidupnya.

“Selama saya menjadi pengajar di RA, banyak hal yang sangat bermanfaat dalam mendidik anak-anak kami di rumah. Misalkan di RA kan tidak hanya mengajarkan anak supaya pintar, namun nilai-nilai akhlak, perilaku yang baik juga sudah bisa ditanamkan kepada anak-anak kami sejak berusia dini,” kata Suprihatin.

Prestasi luar biasa bagi guru dari pelosok desa di Punggelan Danakerta tersebut, sempat membuat para orang tua wali murid bangga. Pasalnya sebagai orang desa dengan keseharian berkomunikasi berbahasa ngapak, ternyata mampu bersaing dengan sekian banyak orang se Indonesia. Yuni Hasanah salah seorang wali murid, mengetahui anaknya semakin nurut dan disiplin sejak anaknya belajar di RA.

“Tak hanya memiliki sistem pembelajaran yang baik, namun keberadaan ibu Suprihatin yang sekarang jadi Kepala di RA ini juga mampu merangkul para orang tua wali murid untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran. Misalnya di RA ini diterapkan jadwal piket merapikan dan membersihkan tempat belajar itu dibebankan kepada wali murid untuk ikut serta,” pungkas Hasanah. (Humas.Pendis/Zahirul).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here