Apa yang lebih membahagiakan dibanding kehidupan yang serba nyaman dan mapan? Hampir setiap orang mengidamkan hal itu.  Tapi Zahril tidak. Secara sengaja ia memilih menjadi penduduk di sebuah desa terpencil, minim akses pendidikan, fasilitas rendah, dan pasti menghadapi masyarakat baru yang belum tentu menerimanya. Zahril merintis lembaga pendidikan, bergerak, dan pelan- pelan melakukan perubahan. Jerih payahnya berbuah. Keadaan yang semula memprihatinkan berangsur membaik signifikan.

Pria kelahiran 31 Desember 1977 tersebut adalah guru aktif di sebuah madrasah di Dusun Salukue, Desa Kolanding, Kecamatan Sampaga, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Ada dua madrasah yang sementara ini berhasil ia dirikan, yakni Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maarif Nahdlatul Ulama dan Madrasah Aliyah (MA) Maarif Nahdlatul Ulama. Untuk ukuran lembaga pendidikan rintisan, perkembangan kedua lembaga ini tergolong menakjubkan. Sudah enam piala kejuaraan yang sudah diraih. Keenam piala yang hampir semua peringkat 1 tersebut merupakan buah keringat siswa dalam berbagai ajang kompetisi tingkat Kabupaten Mamuju.

Tentu pertumbuhan pesat itu tak terjadi secara sulapan. Ada sederet tahap membentang: dari kesulitan ekonomi hingga kultur tak mendukung yang kadung “membatu” di masyarakat. Jelas peran Zahril di sekolah itu lebih dari sekadar pengajar. Dialah yang bersusah payah mendirikan madrasah itu di tengah masyarakat dengan tingkat kesadaran yang sangat rendah akan pendidikan.

Mengatasi Keterbatasan

Banyak faktor yang memicu masyarakat di Desa Kolanding bersikap acuh terhadap pendidikan. Secara geografis desa ini tergolong pelosok, terletak kawasan di ujung sisi barat Pulau Sulawesi. Ada sejumlah keterbatasan yang mesti mereka “nikmati” sehari-hari, salah satunya adalah kualitas infrastruktur yang buruk andalan warga Desa Kolanding terletak di wilayah kecamatan, sekitar 15 kilometer dari desa kaum tani ini. Bagiamana mereka mau bersekolah jika jalanan dalam kondisi tak memadai sementara angkutan umum belum memenuhi hajat warga.

Penyebab lain adalah soal ekonomi. Mayoritas penduduk mengandalkan penghasilan sehari-hari dari hasil bertani. Menjadi petani coklat dan petani padi di sawah. Ada juga beberapa yang menjalani profesi sebagai buruh tani, dan profesi pelayanan jasa lainnya. Sebagaimana petani Indonesia pada umumnya, proses bertani masih dilakukan dengan cara-cara tradisional dan lebih banyak menggantungkan pada tenaga manusia. Keadaan ini menjadi pertimbangan para petani Kolanding tentang keputusan kemana semestinya anak mereka. Kebanyakan mereka berpikir, akan lebih “masuk akal” bila anak-anak ikut membantu pekerjaan orang tua di kebun atau sawah ketimbang berseragam sekolah, lalu menyusuri jalan menuju kecamatan yang sangat merepotkan. Lagi pula tak setiap penduduk Kolanding berekonomi mapan. Bantuan sang anak akan menjadi energi tambahan dalam meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.

Merangkul Masyarakat, Mendirikan Madrasah

Soal pendidikan, warga setempat seperti sudah puas dengan pendidikan seadanya di daerah tersebut. Kegiatan mengaji di mushala-mushala sudah cukup lama eksis meskipun sekolah dalam pengertian formal karena dikelola seadanya, pelajaran tak berdasarkan susunan kurikulum yang sistematis. Tenaga pengajarnya pun berasal dari siapa yang “kepergok” pintar mengaji, dan—yang paling penting—tak menuntut imbalan lebih dari proses pengajarannya itu. Lagi-lagi, ini didorong oleh kesadaran yang sempit akan pentingnya pendidikan bagi anak. Secara umum wawasan keagamaan masyarakat masih minim dan guru ngaji yang tersedia masih kualahan mengahadapi situasi ini.

Zahril yang berasal dari Makassar resmi hijrah ke Mamaju setelah ia menikah dengan gadis idamannya di kampung tersebut pada tahun 2008. Di sana ia termasuk orang yang mudah beradaptasi. Dalam waktu singkat, Zahril sadar akan kondisi memprihatinkan di lingkungannya, terutama di sektor pendidikan. Anak- anak Desa Kolanding lebih gemar berdiam di rumah atau membantu perekonomian keluarga ketimbang menempuh pendidikan di sekolah. Tak ada lembaga pendidikan apapun pada jenjang menengah yang menampung proses belajar remaja kampung, kecuali di ujung kecamatan yang jauh itu. Kondisi lebih runyam ketika para orang tua pun tidak mendorong secara maksimal atas “kegemaran” anak-anaknya ini. Apalagi, kondisi alam dan keterbatasan moda transportasi memberi alasan kuat atas ketertinggalan ini.

Zahril memulai usaha penyadaran pendidikannya dengan membuka lembaga taman pendidikan Al-Qur’an (TPA) lalu madrasah diniyah (Madin). Sambutan cukup antusias. Secara berangsur santri bertambah, dan menunjukkan peningkatan kualitas pendidikan agama di daerah setempat. Pengalamannya sebagai santri menjadi bekal baginya untuk melakukan improvisasi di dunia pendidikan. Dengan melatih peserta didiknya bermain rebana dan kasidah, misalnya. Materi baca Al- Qur’an dan bahasa Arab tentu menjadi bahan ajar pokok di lembaga pendidikan yang masih seumur jagung ini.

Visi Zahril menyorot jauh. Melihat tak ada sekolah menengah pertama di Kolanding mengharuskannya mendirikan madrasah tsanawiyah. Tepat pada tahun 2009, pria yang sehari-hari menjadi petani coklat ini bersama istri dan tokoh masyarakat mendirikan Madrasah Tsanawiyah Maarif Nahdlatul Ulama. Respon penduduk cukup bagus. Mereka berbodong-bodong mengumpulkan kayu dan membangun madrasah itu sekaligus rumah bagi Zahril secara suka rela. Ini bukti bahwa apresiasi masyarakat sangat kuat dengan kerja keras Zahril di Desa Kolanding selama ini. Seperti kecambah tersiram hujan, kesadaran pendidikan yang semula layu berangsur tumbuh segar, meski tak semua begitu.

Zahril bercerita, awalnya dirinya ragu bisa mendirikan madrasah ini. Sebab, untuk mengambil bahan baku pembuatan gedung dan fasilitas belajar mengajar dibutuhkan keterlibatan banyak orang yang dimulai dari proses penebangan pohon, mengangkut meterial berat, hingga proses pembuatan fasilitas belajar mengajar yang harus dilakukan secara manual. Ternyata semua itu teratasi secara tak terduga dengan banyaknya atensi dan kerja sama dari warga.

“Pengalaman paling menarik bagi saya adalah semua kami kerjakan dengan cara gotong-royong dan swadaya,” tutur Zahril. Ia mengaku belum mendapatkan bantuan apa-apa dari pemerintah dalam usahanya ini.

Beberapa warga masih apriori dengan kehadiran madrasah yang hanya beralas tanah dan berdinding kayu itu. Seperti susah percaya bahwa sekolah baru tersebut akan memberikan harapan lebih bagi mereka, termasuk legalitas ijazah. Tentu hal ini wajar, karena semula gerakan pendidikan yang dilakukan Zahril berupa madrasah diniyah yang memang tak menjanjikan sertifikat apapun. Bagi Zahril tantangan itu tak seberapa jika dibandingkan dengan ketika ia harus bersinggungan dengan elite lokal. Para pemimpin atau tokoh yang khawatir terampas pengaruhnya atau para petani coklat kaya yang “rewel” bisa menjadi sandungan berat bagi proses pengabdian Zahril sebagai orang baru alias pendatang. “Orang kalau sudah punya duit, orang maunya kan boleh ngomong apa aja,” ujar Zahril.

Awal pendirian MTs Maarif NU diisi hanya oleh dua guru, Zahril dan istrinya; sementara sekarang telah bertambah menjadi enam orang. Meski cuma dua pendidik, periode awal relatif bisa diatasi karena jumlah murid saat itu sembilan orang. Kini MTs Maarif NU Kolanding memiliki 42 siswa, dan telah mewisuda beberapa siswa. Selain dari Desa Kolanding, para murid berasal dari Desa Tanambuah, Desa Tembes, dan Desa Pantaraan. Hanya Zahril dan istrinya guru yang berasal dari Kolanding, sementara sisanya dari desa-desa tetangga.

Dibukanya sekolah menengah pertama di Desa Kolanding secara otomatis mengurangi kebiasaan anak-anak kampung setempat putus sekolah begitu mereka lulus dari sekolah dasar. Mereka tak perlu lagi khawatir capek karena jarak sekolah yang jauh, atau menghabiskan waktu lama lantaran sulitnya mencari kendaran umum yang menuju ke sana. Lalu bagaimana nasib kelanjutan studi para remaja itu setelah lulus MTs? Pertanyaan ini sudah diantisipasi lama oleh Zahril. Tanpa berpikir panjang, ia bersama warga mendirikan sekolah jenjang selanjutnya bernama Madrasah Aliyah Maarif Nahdlatul Ulama pada tahun 2012. Sembilan siswa angkatan pertama berasal para lulusan MTs sebelumnya. Sekarang secara keseluruhan MA Maarif NU Kolanding memiliki 22 peserta didik dari berbagai desa dan latar belakang ekonomi. Tahun ini MA Maarif NU akan meluluskan angkatan pertama.

Dibandingkan MTs, MA Maarif NU Kolanding relatif sederhana dari segi bangunan fisik. Bangunan memang sudah terdiri dari tiga kelas. Namun ia berasal dari satu bagunan. Ia merupakan rumah panggung adat Bugis yang semula milik warga kemudian dibeli. Jumlah siswa SMA yang sedikit juga menggambarkan betapa kesadaran akan pendidikan tingkat ini juga masih minim. Jika pendidikan jenjang menengah pertama saja masih acuh tak acuh, apalagi sekolah menengah atas. “Padahal, anak-anak di sini memiliki potensi yang sangat bagus. Sayang jika tidak digali dan dikembagkan.”

Biaya Nol, Prestasi Pol 

Kedua madrasah tersebut diselenggarakan secara gratis alias tanpa penarikan biaya SPP. Selain meringankan warga secara ekonomi, kebijakan ini menjadi bagian dari strategi menyedot minat warga agar mau menyekolahkan anaknya ke situ. Keduanya berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama, lembaga yang membidangi urusan pendidikan formal di jenjang sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah atas di NU. Sekolah-sekolah yang berada di bawahnya memiliki ciri khas pendidikan keagamaan yang kuat dan pengutamaan pada pendidikan karakter. Hal ini pula yang hendak dikembangkan Zahril.

Ia mengaku mengadopsi sistem “semi pesantren” sebagai model pembelajaran murid. Jika pagi hari peserta didik menjalani proses belajar di madrasah, maka sore atau malam hari mereka mengaji dengan sejumlah materi seperti hafalan al-Qur’an dan pelajaran-pelajaran ala madrasah diniyah lainnya. Suasana ini sengaja diciptakan Zahril karena dulu ia memang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Madinah Makassar selama tiga tahun. Meski ngaji sore atau malam tidak wajib, dengan menerapkan model pendidikan semacam ini, ia berharap terjadi penguatan wawasan keagamaan pada maasyarakat sekitar. Desa Kolanding termasuk kampung yang tak cukup beruntung memperoleh pendidikan agama secara memuaskan.

Salah satu efek konkret dari pengalaman Zahril adalah adanya kegiatan ekstrakurikuler berupa pelatihan hadrah. Hingga ia yang pernah belajar rebana saat nyantri berhasil membawa anak didiknya pada tingkat “piawai” sehingga percaya diri mengikuti sejumlah kompetisi. Keterampilan ini juga mendapat sambutan positif di masyarakat yang sebenarnya asing dengan seni hadrah sebelumnya. Para pemusik hadrah sering diundang pada acara-acara tertentu, misalnya pernikahan, khitanan, forum-forum pengajian, dan sejenisnya.

Prestasi yang pernah ditorehkan MTs Maarif NU Kolanding bisa dilihat dari piala kejuaraan yang merekah raih dalam sejumlah ajang perlombaan di tingkat kabupaten. Dalam lomba Qasidah Modern tingkat Kabupaten Mamuju, anak didik Zahril mendapatkan juara I. Selain hasil dari lomba kasidah, di lemarinya kini juga sudah berjejer lima piala lainnya, yakni juara I lomba pidato bahas arab, juara I Kemah Bakti Pramuka, juara harapan 1 lomba qori’ (MTQ) remaja, juara I lomba sari tilawah al-Quran, juara I lomba pamulasaraan jenazah. Keenam piala tersebut diraih oleh pelajar tingkat tsanawiyah. Sebagai madrasah rintisan, prestasi cukup menakjubkan, dari remaja dengan perhatian minimalis dalam hal pendidikan sampai menjadi pelajar kebanggaan tak hanya bagi Desa Kolanding yang terpencil itu, tapi juga Kabupaten Mamuju secara umum.

*Disadur dari buku “Keteladanan : Sosok Para Guru Madrasah Inspiratif”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here