M. Itqon Alexander - Featured
M. Itqon Alexander - Featured

[tps_header]M. Itqan Alexander: ‘Ensiklopedi’ Peta Dunia Termuda Indonesia[/tps_header]

[tps_title]Raih Rekor MURI sebagai Pembaca Peta Dunia Termuda[/tps_title]

Pada usia 5 tahun Mohammad Itqan Alexander (11), siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pandanaran Yogyakarta, tampil menghobohkan di salah satu stasiun televisi swasta. Anak kecil ini bisa menghapal bendera negara-negara di dunia sekaligus ibu kotanya dan petanya.

M. Itqon Alexander
M. Itqon Alexander

Tidak hanya peta, ia hafal nama dan lambang partai politik beserta nomor urutnya. Plat nomor polisi kendaraan juga ia hafal setelah beberapa kali membacanya di buku RPU.

Alex kemudian mendapat anugerah rekor MURI sebagai Pembaca Peta Dunia Termuda: umur 5 tahun hafal bendera dan ibukota negara dengan jumlah terbanyak. Piagam diberikan oleh Menpora Adhyaksa Dault bersama Ketua MURI Jaya Suprana di gedung Bentara Budaya Kompas-Gramedia Jakarta, 7 Mei 2009. Alex lalu diundang shooting rekaman di Kick Andy Metro TV pada 4 Nopember 2009. Kemudian Pada 11 Maret 2011 Alex diundang tampil di Acara Hitam Putih TRANS7.

Menurut ayahnya. M. Ichwan, dari hasil tes IQ sementara saat masih balita (4 tahun) skor Alex 128. Lalu dites lagi ketika kelas II SD, skor IQ-nya 152. Oleh penguji, Lembaga Psikologi Universitas Negeri Semarang, skor tersebut termasuk very superior.

“Ingatan Alex  cukup kuat. Selain ingat dari penglihatannya, juga dari pendengarannya. Dongeng yang diceritakan guru TK atau orang tuanya bisa ia ceritakan kembali hampir persis sempurna. Kalimat gurunya di SD juga mudah dia ingat dan bisa dikatakan ulang seperti pita kaset,” kata Ichwan bangga.

Alhamdulillah, tanggal 6 Juli 2012 Alex telah khitan. Dia minta dikhitan mumpung liburan sekolah. Dan RCTI rupanya memberi dia hadiah khitan berupa tampil di episode Cinta Uya yang shotingnya pada Selasa, 17 Juli 2012,” kata Ichwan menambahkan ceritanya.

Ia adalah anak pertama dari empat saudara. Ayahnya Ichwan bercerita, Alex masuk SD dalam usia kurang dari 6 tahun. Sebenarnya tidak ideal dan tidak memenuhi syarat menurut aturan Dinas Pendidikan Kota Semarang.

“Tapi karena dianggap mampu, Alex boleh masuk SD Negeri dekat rumah. Lalu ketika akan naik kelas II, Alex diminta oleh Yayasan Pendidikan Islam Nasima untuk masuk SD Nasima secara gratis. Beasiswa penuh dengan syarat, prestasi akademik bisa rangking I, II atau III. Syukur kepada Allah, Alex bisa memenuhi hal itu hingga 2012 naik kelas IV,” katanya.

Keluarga Alex tinggal di Semarang. Selepas lulus Sekolah Dasar, Alex bercerita, ibunya menyuruhnya untuk menimba ilmu di Pondok Pesantren Pandanaran di Yogyakarta sambil mengikuti pendidikan formal di Madrasah Tsanawiyah (MTs). Dengan diiming-imingi pesantren itu enak dan sebagainya, akhirnya Alex bersedia untuk mondok. Ibunya juga keluaran dari Komplek 2 Pondok Pesantren Pandanaran pada tahun 2002.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here