[tps_title]Sang Pemimpin[/tps_title]

Selepas lulus SD ia semula nyantri di pondok pesantren tahfidz qur’an di daerah Jawa Timur, namanya Ma’had Al-Muqaddasah. Karena dilanda sakit-sakitan, masa belajar Sa’idah hanya di pesantren hafalan al-Qur’an ini hanya berlangsung empat bulan. Selanjutnya pindah ke Jakarta dan melanjutkan studi di MTsN 34.

Awalnya Madrasah menolak karena memang jumlah murid sudah melebihi kapasitas. Namun kebijakan itu berubah ketika pihak sekolah membaca SKHUN (Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional) milik Sa’idah, di situ tercatat nilai UN Sa’idah yang membanggakan, nilai matematikanya sempurna alias 10. Ia mencintai semua pelajaran yang disajikan, meskipun dalam beberapa bidang ia menemukan kesulitan.

MTsN 34 Jakarta telah menyiapkan dirinya dengan manajemen dan strategi yang matang untuk meciptakan lulusan SDM yang unggul, tangguh, dan populis di masyarakat. Modal status terakriditasi “A” (2009), status Rintisan Madrasah Standart Nasional “RMSN” (2010), serta dukungan kompetensi para pemangku kebijakan (Kepala, Komite, Guru, TU, danKaryawan), membuatnya siap berkompetisi dengan perkembangan zaman. Madrasah yang berdiri pada 2006 ini juga menyediakan banyak kesempatan bagi Sa’idah untuk mengembangkan potensinya, misalnya dengan program ekstrakurikuler yang ada. Sa’idah memanfaatkan peluang ini dengan masuk dalam beberapa ekskul, di antaranya Science Club yang belakangan berubah nama menjadi KIR (Karya Ilmiah Remaja). Ia juga aktif di English Club, di samping pernah mengikuti ekskul kesenia seperti Gambang Kromong dan Tari Saman. Di kelas IX kali ini ia masuk kembali KIR. “Kami sering sekali melakukan sebuah action dan penelitian. Alhamdulillah selalu berkah. Hehehe.”

Kegiatan ektra yang diikuti Sa’idah hanyalah sebagian dari sekian program MTsN 34. Madrasah ini memang menekankan pentingnya peningkatan standar kompetensi lulusan non-akademik dengan menggiatkan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), program ekstrakurikuler; pramuka, paskibra, palang merah remaja (PMR), marawis, paduan suara (PADUS), kelompok cinta bahasa Indonesia (KCBI), Gambang Kromong, pencak silat, bola voli, futsal, basket, English Club, Science Club, Matc Club, dan Arabic Club. Keaktifan Sa’idah menurun ketika ia harus mempersiapkan diri untuk mengikuti berbagai macam lomba, dan puncaknya saat terpilih menjadi ketua OSIS.

Tak seringan membalikkan telapak tangan, Sa’idah dipercaya mempin OSIS setelah melalui proses yang cukup selektif. Dimulai dari tes untuk menjadi pengurus OSIS melalui LKO (Latihan Kepemimpinan Organisasi). Ketika itu LKO diadakan di daerah puncak Mega Mendung, tepatnya di Villa Hakuna Matata depan Pondok Pesantren ar-Rahman. Dari acara pembinaan organisasi inilah proses seleksi berlangsung. Beberapa guru melihat Sa’idah memiliki keterampilan memimpin (leadership skill), seketika itu juga ia dipilih untuk menjadi calon ketua OSIS bersama dua teman lainnya. Tahapan-tahapan menuju pemilohan berlangsung seru. Poster-poster bergambar yang bertuliskan visi-misi dan prestasi masing masing kandidat terpampang. Alhasil, pemungutan suara pun dimulai, hasilnya Sa’idah meraup 75 persen suara dari jumlah seluruhnya. Baginya, di titik ini perjuangan baru dimulai. Tentu senang dan terharu, tapi ia sadar semua ini adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan kelak.

Menurutnya, perempuan pantas menjadi pemimpin. Kaum Hawa juga harus bisa menunjukan bahwa perempuan layak dan dapat mengemban amanah sebagai seorang pemimpin selama hal tersebut tidak melanggarkan syariat dan ketentuan Islam. Adakah perasaan segan saat berhadapan dengan laki-laki? “Tentu saja ada. Namun, hadapi saja dengan pikiran yang positif. Jika kita tidak merasa sombong, atau tahu diri maka orang lain pun akan menghormati kita bahkan dari pihak lawan jenis sekalipun. Menegur dan mengingatkan dengan cara yang baik,” ujarnya. Sa’idah memiliki prinsip quulil haqqa walau kaana muuran atau katakanlah yang benar walaupun pahit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here