[tps_title]Penghafal al-Qur’an[/tps_title]

Dengan aktivitas di madrasah yang padat tersebut, sulit terbayangkan bagaimana Sa’idah mampu menyisihkan waktunya untuk menghafal al-Qur’an. Tapi inilah keistimewaannya. Ia sanggup menata jadwal aktivitasnya dengan rapi, dari sebelum hingga selepas sekolah. Dia bahkan menuliskannya lalu ditaruh di cermin kamarnya. “Tidak ada kata untuk bermain. Semuanya harus selesai sesuai jadwal kecuali jika Allah memberikanku sakit, maka prioritasku hanyalah beristirahat,” tuturnya. Sebagaimana anak-anak sebayanya, Sa’idah juga tentu saja juga aktif di media sosial sebagai sarana bersilaturahim serta belajar. Ia mengaku tak jarang mendapatkan ilmu-ilmu agama lewat akun dakwah dakwah Islam yang dikelola para mubaligh dan mubalighah.

Sa’idah mengatakan menghafal al-Qur’an itu mudah dan harus dianggap mudah, tapi jangan disepelekan. Sebab mengapa mudah? “Yaa, anak kecil saja menghafalkan sebuah lagu utuh tidak perlu memakan waktu yang lama mereka sudah bisa menghafalnya. Loh, kita menghafal ayat suci Allah harus lebih mudah daripada menghafalkan lagu tersebut,” katanya. Dia mengaku kesulitannya terletak pada usaha menjaga hafalannya tersebut, karena memang harus sering diulang-ulang (muraja’ah). Kesulitan bertambah tatkala tidak ada yang mengoreksi proses pembacaan ulang itu. Namun demikian, ia merasakan ketenangan jiwa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here