Curhat via Medsos

atih Agnityas Wulandari (kanan) dalam sebuah acara bersama para guru
Ratih Agnityas Wulandari (kanan) dalam sebuah acara bersama para guru

Ratih pun tak kehilangan akal. Setelah usaha kerasnya “membentur” dinding birokrasi, ia pun mencurahkannya ke media sosial yang dimilikinya. “Waktu saya berkeluh kesah di Facebook, beberapa hari kemudian saya diwawancarai wartawan. Akhirnya, termuat di media online dan cetak,” tutur Ratih.

Rupanya, kejutan demi kejutan dialami Ratih. Dengan sekejap, kehidupannya berubah. Ia di caci-maki oleh panitia POPDA dan teman-temannya. “Saya dianggap lancang dan kurang ajar karena berani mengungkap kasus ini,” kata alumnus PGMI IAIN Walisongo Semarang ini.

Lima hari setelah tayang di media cetak, banyak tamu yang berkunjung di madrasah untuk menemuinya. “Dari berbagai media cetak hingga Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Pati,” ujar guru enerjik bernama lengkap Ratih Agnityas Wulandari ini.

Pasca-kunjungan anggota dewan, lanjut Ratih, dirinya dipanggil di kantor UPT Disdik Kecamatan tayu, tepatnya pada 12 Desember 2015. Meski perihal di suratnya tertulis membahas POPDA 2016, tetapi ia justru dimaki oleh ketua panitia Popda. “Puas. Sudah puas ya membuat begini,” ungkap Ratih menirukan mereka.

Ratih mengaku, dirinya bahkan ditunjuk-tunjuk oleh Ketua K3S. “Pokoknya saya diintimidasi. Tapi saya tersenyum aja, tidak membalas beliau-beliau yang lagi emosi,” tandas guru muda yang nekat ini.

Ditanya tentang siapa yang mendorong dan memotivasi dirinya berani mendobrak birokrasi untuk memperjuangkan anak didik, Ratih menjawab dirinya tidak tahan atas perlakuan diskriminatif bagi madrasah. “Saya modal nekat aja. Apapun rintangan yang menghadang,” tegasnya.

Setelah mereka puas bicara di forum tersebut, tibalah saatnya mereka membuat perhitungan. Ratih ditawari sebuah solusi. Yaitu, siswanya akan dijadikan wakil kecamatan melaju ke kabupaten tanpa seleksi. Dan permasalahan dianggap selesai.

Rupanya, Ratih tidak terpukau iming-iming tersebut. Ia keukeuh menolak solusi tersebut. “Bagiku belum selesai. Karena tujuan saya berjuang bukan untuk siswa saya saja. Tapi untuk anak-anak MI semua,” tegasnya.

Ratih hanya minta supaya tahun depan, MI diikutsertakan dengan syarat yang tidak memberatkan. Awalnya mereka tidak menyepakati permohonan Ratih. “Tapi ketika saya tetap nggak mau penawaran mereka, baru mereka berubah,” ujarnya bangga.

Akhirnya, perjuangan Ratih berbuah manis. Faza yang mendapat gelar Juara II “Sampang Cup” di Madura Oktober 2015 silam itu berhak melaju ke POPDA tingkat kabupaten pada Februari 2016. Anak kelas V MI ini juga memboyong piala Juara I “Bupati Cup” pada turnamen yang dihelat pada 28-30 Desember 2015 lalu. [Musthofa Asrori]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here