Maslakul HudaPondok Pesantren Maslakul Huda (PMH) Putra yang terletak di Polgarut Utara Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, merupakan peninggalan Almaghfurlah KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh yang pernah memimpin Nahdlatul Ulama dan Majelis Ulama Indonesia. Beliau meneruskan kepemimpinan pesantren ini dari paman dan ayahnya.<>

Rintisan cikal bakal PMH dapat dipastikan sudah muncul sekitar tahun 1910-an. Waktu itu, Kiai Mahfudh Salam (ayah Kiai Sahal Mahfudh) selesai menimba ilmu dari Makkah. Ia lalu menyempatkan diri tabarukan (belajar ulang) sebentar kepada Hadratusy Syeikh KH M Hasyim Asy’ari Tebuireng.

Saat itu, Kiai Mahfudh sudah diberikan kesempatan mengajar oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Ketika ia minta diri pulang kampung untuk merintis pesantren di Kajen, beberapa santri yang dulu menjadi muridnya di Tebuireng mengikutinya dan menjadi santri pertama di Maslakul Huda.

Dalam perjalanannya, pesantren ini mengalami tiga kali pergantian pengasuh. Setelah KH Mahfudh Salam wafat, lalu digantikan adiknya, KH Ali Mukhtar. Kemudian, kendali pesantren dipegang KH MA Sahal Mahfudh.

Kiai Sahal dikenal melalui sejumlah karyanya sebagai ulama ushul (ahli Ushul Fiqh). Kiai nyentrik ini merupakan satu dari sedikit ulama yang memberi perhatian khusus bagi perkembangan Ushul Fiqh.

Hal tersebut terlihat dari dua karyanya di bidang Ushul Fiqh: al-Bayanul Mulamma’ ‘An Alfadzil Luma’ yang merupakan catatan tambahan (hasyiah) atas kitab al-Luma’ karya Imam al-Syairazi (w. 476 H) dan kitab Thariqatul Hushul ‘ala Ghayatil Wushul. Karya kedua ini merupakan hasyiah atas kitab Ghayatul Wushul karya Syeikh Zakariya al-Anshari (w. 926 H).

Selain menelurkan dua karya penting di bidang Ushul Fiqh tersebut, Mbah Sahal juga giat menggalakkan pendalaman ilmu ini bagi civitas pesantren. Dalam pelbagai makalahnya yang dibukukan dalam “Nuansa Fiqh Sosial”, misalnya, sangat jelas menunjukkan bahwa bagi pemerhati Fiqih, mendalami Ushul Fiqh merupakan keniscayaan untuk menjaga agar hukum Fiqih tetap dinamis dan kontekstual.

Tanpa Ushul Fiqh, lambat laun Fiqih akan jatuh ke jurang rigiditas dan kejumudan. Melalui Ushul Fiqh dimungkinkan kontekstualisasi dalam melakukan istinbath dan ilhaq hukum Fiqh. Ushul Fiqh merupakan salah satu disiplin ilmu pokok dalam konstelasi keilmuan Islam, khususnya di bidang hukum Islam atau hukum syariah.

Melalui pendalaman ilmu Ushul Fiqh, diyakini mampu membangun konstruksi pemikiran hukum fiqh secara benar, sistematis, dan utuh. Pasalnya, dalam ilmu Ushul Fiqh dikaji landasan-landasan hukum Fiqih, metodologi penggalian hukum (istinbath al-hukm) dan standarisasi elemen-elemen yang terlibat dalam pengambilan hukum Fiqh.

Tidak hanya berkarya soal Ushul Fiqh, Kiai Sahal tiap pengajian Ramadhan juga membaca kitab-kitab Fiqh, misalnya, al-Asbah wa al-Nadzair di bidang Qawaid Fiqhiyah, sebagai perangkat utama mengkaji Fiqh. Para santri sangat antusias menyimak pembacaan kitab tersebut tiap tahunnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here