[tps_title]Perkembangan Dayah Mudi Mesra[/tps_title]

Semenjak kepemimpinan Abon, pesantren MUDI Mesra kian bertambah muridnya terutama dari Aceh dan Sumatera. Dari segi sarana dan prasarana pun mengalami perkembangan. Asrama santri yang semula layaknya barak darurat dibangun menjadi asrama semi permanen berlantai dua yang dapat menampung 150 santri.

Asrama Putra MUDI Mesjid Raya Samalanga
Asrama Putra MUDI Mesjid Raya Samalanga

Tahun 1989 pasca-wafatnya Abon, kepemimpinan dayah ditetapkan melalui kesepakatan alumni dan masyarakat. Forum musyawarah mufakat lalu mempercayakan tongkat estafet kepemimpinan dayah kepada Teungku Haji Hasanoel Bashry bin Haji Gadeng (Abu MUDI), salah seorang menantu Abon yang juga santri senior yang dibanggakan.

Di masa kepemimpinan Abu MUDI, dayah tersebut kian maju pesat. Jumlah santri terus berdatangan dari seluruh penjuru Aceh dan juga dari luar daerah bahkan dari negeri tetangga, Thailand dan Malaysia.

Atas ide Abu MUDI, didirikanlah Yayasan Pendidikan Islam al-Aziziyah (YPIA): sebuah lembaga kemasyarakatan berbasis dayah salafiyah MUDI Mesra Samalanga. Wacana awal pendirian YPIA adalah bagaimana menyeragamkan lembaga pendidikan dayah yang merupakan cabang dayah MUDI Mesra ke dalam satu kesatuan nama dan visi-misi.

“Dari diskusi yang kami gelar, disepakati bahwa dayah-dayah cabang diberi nama di ujungnya dengan label al-Aziziyah seperti MUDI Mekar menjadi MUDI Mekar al-Aziziyah. Cabang yang ada diperkirakan sekitar 220 unit,” papar Abu MUDI.

Meski demikian, para santri baru tetap mendaftar di MUDI Mesra sebagai pusatnya. Hingga kini, MUDI Mesra mengelola beberapa unit kegiatan. Mulai TK al-Aziziyah, TPQ Muhazzabul Akhlaq al-Aziziyah, Madrasah Tsanawiyah, SMPI Jabal Rahmah, Paket C, Balai Pengajian dan Majelis Ta’lim al-Aziziyah, hingga Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) al-Aziziyah.

Abu MUDI telah lama bermimpi mengelola seluruh unit pendidikan yang terpadu di bawah bendera al-Aziziyah. Di beberapa sudut pesantren tampak pembangunan gedung terus berlangsung.

“Itulah mengapa para santri tetap mendaftar ke sini. Santri kami sekarang berjumlah lebih dari 3000 orang. Meski sudah ada cabang, namun mereka tetap ingin kemari. Ada yang bilang, kalau mencari ilmu, carilah di MUDI Mesra,” ujar Abu MUDI menutup bincang pagi di ruang tamu pesantren. (Musthofa Asrori)

2 COMMENTS

  1. Salah satu dayah (pesantren) terbesar di Aceh saat ini adalah MUDI Mesra. Nama resminya Lembaga Pendidikan Islam Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah Mesjid Raya yang lebih dikenal dengan sebutan LPI atau Dayah MUDI Mesra. Santri dan masyarakat senang dayahnya disebut Mesra. Pasalnya, selain satu lokasi dengan Mesjid Raya, kemesraan sang Abu MUDI dalam mengajar selalu menjadi cerita dan kenangan.

  2. Menurut sejarah, Dayah MUDI Mesra telah didirikan seiring pembangunan Mesjid Raya yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Dayah ini berlokasi di Desa Mideun Jok, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Pimpinan pertama dayah ini bernama Faqeh Abdul Ghani. Sayangnya, khazanah ini tidak tercatat berapa lama ia memimpin dayah, dan siapa pula penggantinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here