Imran menuturkan, banyak orang terkejut melihat model kantin MI Al-Fauzain. Sebut saja Amir Siregar, mantan RT di lingkungan kompleks Pondok Indah. Ketika menjenguk cucunya yang sekolah di madrasah ini, ia menjuluki koperasi ini dengan “Warung Kejujuran”.

Menurut Wakil Kepala MI Al-Fauzain Iis Supriatin, pernah ada seorang pemantau dari Australia yang kaget seraya mengatakan, “Kok ini pelajar belanja sendiri dan bayar sendiri lalu mengambil uang kembalian sendiri?”

Murah Meriah

Soal tarif aneka jajanan, pelayan koperasi cukup memberitahukannya di awal. Selebihnya para murid sudah terbiasa dan berjalan dengan sendirinya. “Kalau lupa harganya, satu dua dari mereka mendatangi kami, bertanya,” ujar Imran.

Pengumuman tentang mekanisme kantin kejujuran
Pengumuman tentang mekanisme kantin kejujuran

Imran tak segan mencegah siswa yang terlalu banyak jajan pada satu jenis tertentu. Ia memerhatikan kesehatan murid dalam hal ini. Ia pernah menegur murid yang berulang kali dalam amatannya membeli es. “Jangan jajan es melulu, nanti sakit,” kata dia kepada salah satu muridnya.

Menurut dia, umumnya pengunjung madrasah tidak terlalu ngeh dengan pola kantin MI Al-Fauzain. Mereka hanya datang sekilas. “Tetapi bagi ibu-ibu yang mengantar dan menunggui muridnya, mereka mengerti betul.”

Sebenarnya, pola pendidikan jujur dan terbuka seperti ini amat baik kalau diterapkan juga di madrasah lain. Di Kelompok Kerja Madrasah (KKM), kita belum sosialisasi. Kita berharap madrasah lain mendidik jujur para murid melalui bentuk konkrit.

Pengawasan menjadi masalah mudah. Wali murid pun tahu. Mereka yang mengantar dan menunggui anaknya ikut mengawasi kantin. Kalau ada anak yang curang, mereka melaporkannya ciri-ciri dan identitas kelasnya. “Mereka ikut pantau dan lapor. Kami cukup kasih peringatan aja ke murid yang bersangkutan. Mereka agak jera kalau dikasih peringatan,” ungkap Imran.

Imran mengakui kejujuran di lingkungan MI Al-Fauzain belum sepenuhnya terwujud. Yang diharapkan memang belum terjadi. Hanya saja 90% lebih sudah tercapai. Kalau pun ada yang curang, paling satu dua anak saja.

“Tugas kami para dewan guru hanya memberikan kepercayaan kepada para murid. Sebab kata orang, selain kesehatan, jujur dan kepercayaan jadi barang mahal di zaman sekarang apalagi di kota besar,” pungkas Imran. (Red: Musthofa Asrori)

Sumber: NU Online (20 November 2015)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here