Markas para Pejuang Kemerdekaan

Pesantren Al-Hamdaniyah didirikan sejak 1787 oleh KH Hamdani, ulama besar asal Pasuruan. Kini usia ponpes ini telah mencapai usia 228 tahun atau dua abad lebih. KH Hamdani sendiri merupakan seorang ulama keturunan Rasulullah SAW, yakni silsilah ke-27.

“Daerah ini dulu asalnya rawa. Lalu beliau (KH Hamdani) berdoa kepada Allah SWT, semoga tanah yang asalnya rawa bisa menjadi tanah,” cerita Gus Hasyim.

Pondok ini memiliki bentuk bangunan yang masih asli dan unik. Terutama keunikan bangunan “gothakan” para santri. Berdinding anyaman bambu dan diberi jendela pada setiap kamarnya serta bangunan yang disangga dengan kaki-kaki beton, membuat asrama santri ini nampak seperti rumah Joglo. Bahkan ada beberapa asrama santri yang kondisinya sangat memprihatinkan. Namun, pengasuh pondok masih mempertahankan keunikan pondok tertua di Jawa Timur ini.

Salah satu bangunan Pesantren Al-Hamdaniyah2
Salah seorang kiai melintasi bangunan kuno Pesantren Al-Hamdaniyah

Setiap asrama dibagi dalam beberapa kamar yang diisi dua hingga tiga santri dengan ukuran ruangan 2 x 3 meter. Di dalam kamar kecil itulah para santri belajar dan beristirahat.

“Selain mengajarkan berbagai ilmu agama, pondok ini pernah menjadi saksi sejarah perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia. Menjadi tempat pertemuan antara Presiden Soekarno, Bung Hatta, Bung Tomo yang pada akhirnya melahirkan Laskar Hizbullah,” kata Agus Muchlis Asyari, wakil pengasuh pesantren.

Sayangnya, keunikan pondok yang juga sebagai kunci sejarah dan warisan kebudayaan tertua ini belum mendapat perhatian pemerintah maupun pihak-pihak terkait. Harusnya, pondok tertua seperti Ponpes Al-Hamdaniyah dilestarikan dan dijaga keasliannya.

Menurut riwayat, pada waktu KH Hamdani membangun pondok, ia datangkan kayu dari daerah Cepu Jawa Tengah dengan dinaikkan kapal. Namun, di tengah jalan perahunya pecah berantakan. Akan tetapi, Allah Maha Besar. Kayu-kayu tersebut berjalan sendiri melewati sungai dan berhenti persis di depan area pondok.

Di pondok ini, dulu juga sering dibuat pertemuan tokoh-tokoh Nasional pada Zaman Revolusi, di antaranya Bung Karno, Bung Hatta, KH Wahab Hasbullah, KH A Wahid Hasyim, KH Idham Chalid, Buya Hamka, Bung Tomo, dan tokoh-tokoh besar lainnya.

Berikut ini urutan para pengasuh pondok dari masa ke masa:

Periode II: KH Ya’qub dan KH Abd Rohim (Putra dari KH Hamdani)

Periode III: KH Hasyim Abd Rohim dan KH Khozin Fahruddin

Periode IV: Kiai Faqih Hasyim, KH Sholeh Hasyim, dan KH Basuni Khozin

Periode  V: KH Abdullah Shiddiq dan KH Hayyi Asmu’i

Periode  VI: KH Rifa’i Jufri, KH Abdul Haq, dan KH Asmu’i

Periode VII: Hingga Tahun 2013 KH Asy’ari Asmu’i, KH Mastur Shomad, KH Abdurrahim Rifa’i, dan Agus Taufiqurrahman R. (Musthofa Asrori)

 Sumber: NU Online (Rabu, 25 November 2015)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here