Lolos ke WMI

Amiril Haq Tengah (lima dari kiri) meraih medali di Korea Selatan
Amiril Haq Tengah (lima dari kiri) meraih medali di Korea Selatan

Hanya berselang seminggu dari ujian kenaikan kelas di MTs Bustanul Ulum, Haqi mendapatkan kabar lolos sebagai salah satu peserta World Mathematics Invitational (WMI) yang diadakan oleh Korean Gifted Students Evaluation Association (KGSEA).

Bayang-bayang akan bersaing dengan 700 peserta dari 12 negara peserta, makin membulatkan tekad bahwa ajang WMI bukan sekedar ajang antar-siswa. WMI oleh Haqi ditetapkan sebagai ajang mempertaruhkan nama baik Indonesia.

“Saya menetapkan diri sebagai duta madrasah dan duta Indonesia. Saya makin percaya diri, bahwa saya bisa,” ucap Haqi.

Selain giat belajar, sejatinya Haqi mengaku memikirkan biaya keberangkatannya ke Korea Selatan. Kabar bahwa keberangkatannya ke Korea Selatan tidak dibiayai negara membuatnya sempat gundah. Bayang-bayang gagal berangkat ke Korea Selatan diakuinya sempat menghantui.

Untungnya, biaya keberangkatan ke Korea Selatan sudah ditegaskan oleh pihak madrasah, bahwa akan ditanggung madrasah tempat ia menimba ilmu. Semangat yang sempat pudar kembali membuncah di hatinya. Selama tiga bulan lebih, Haqi terus berkutat dengan rumus-rumus matematika.

Pandangan sebelah mata terhadap siswa madrasah, diakui Haqi sempat dirasakan saat baru dimondokkan ke Bustanul Ulum. Teman sejawatnya di SDN I Rongtengah diakui Haqi sempat menanyakan apa cita-citanya melanjutkan pendidikan ke madrasah. Bahkan, guru semasa di SDN Rongtengah juga sempat menanyakannya.

Namun, pertanyaan yang bernada sangsi dari teman sejawat dan sebagian gurunya di SDN I Rongtengah berubah total setelah Haqi lolos ke ajang WMI. Teman sejawatnya yang semula sering mempertanyakan, ikut mendukungnya dan mengaku bangga. Bahkan, Haqi makin semangat untuk mengkampanyekan madrasah sebagai sekolah terbaik membaca sejarah tokoh muslim yang jadi ahli Matematika.

“Ibnu Sina, Aljabar, dan beberapa tokoh muslim lainnya banyak yang ahli matematika. Cikal bakal matematika adalah di madrasah. Makanya, kami makin bangga dengan madrasah. Itu lah yang sering saya sampaikan pada teman-teman yang sekolah di sekolah umum,” ulas Haqi.

Panitia WMI kala itu, menyajikan sebagian soal dengan bahasa lokal Korea Selatan. Kondisi itu diakui Haqi sempat membuatnya panik. Bahkan, rasa kecewa sempat hadir ketika membaca soal-soal yang disajikan.

Meski harus dihadapkan dengan sebagian soal yang menggunakan Bahasa Lokal Korea Selatan, Haqi ternyata mampu menjawab tantangan dengan baik. Haqi mampu menjadi salah satu peserta yang berhasil meraih medali perunggu. Haqi mampu menjadi salah satu yang terbaik dari 700 peserta yang berasal dari 12 negara.

Haqi memang patut berbangga. Sebab, raihan medali perunggu di ajang World Mathematics Invitational (WMI) yang diselenggarakan oleh Korean Gifted Students Evaluation Association (KGSEA) menjadi simbol keberhasilan siswa madrasah di bidang sains.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here