Lingkungan Baru, Tantangan Baru

MAN IC dibangun dalam bentuk boarding school atau madrasah berasrama. Para peserta didik di pagi hari menjalani rutinitas belajar formal di kelas-kelas hingga pukul sekitar 15.00 WIB. Di samping kultur religius yang begitu kental, di madrasah ini yang terasa adalah kompetisi akademik sesama siswa. Sebagaimana siswanya, guru-guru juga terdiri dari orang-orang pilihan hasil seleksi ketat dari berbagai daerah.

Di MAN IC Serpong, Tita bertemu dengan orang-orang dengan latar belakang ekonomi dan budaya yang beragam. Ia mesti bergaul dengan teman-teman baru yang mungkin tak selaras dengan gaya hidupnya selama ini. Di luar hubungan pertemanan, suasana berbeda juga dirasakannya dari berbagai kebijakan institusi sekolah yang ia singgahi.

Kebiasaan Tita sebagai “anak mama di rumah” membuatnya sedikit terkejut dengan suasana baru MAN IC yang mengharuskannya jauh dari rumah. Sempat terbesit perasaan tidak kerasan. Lebih-lebih beberapa rekannya yang berasal dari berbagai daerah pelan-pelan meminta pulang selamanya dari asrama karena tidak betah. Pulang dari asrama berarti keluar dari MAN IC. Putus belajar di tengah jalan semacam ini terjadi rutin tiap tahun di MAN IC. Karena didorong komitmennya untuk serius belajar, Tita berusaha tak merengek dan secara bertahap ia mulai beradaptasi.

Ketegarannya melawan ketidakerasanan sukses. Rasa penat berubah menjadi nikmat. Memang, sebelum masuk madrasah aliyah favorit ini, ia tidak sereligius sekarang. Ngaji di rumah hanya ia lakukan sesekali sehabis maghrib dan dilakukan sering tanpa pendampingan guru. Shalat dan serentetan ritual ibadah lainnya juga berlangsung longgar. Tapi justru di MAN IC lah ia menemukan oase baru, dan karenanya ia merasa senang dan tercerahkan.

Belum lagi ia mendapatkan kesempatan-kesempatan hebat di MAN IC ini, seperti KBS (Klub Bidang Studi) yang memungkinkan dirinya lebih fokus pada keahlian bidang tertentu, atau bahkan mengikuti kontes sains tingkat nasional maupun internasional. Di sekolah ini, Tita juga belajar melancarkan bahasa asing, terutama Arab dan Inggris. Setiap Rabu, Kamis, dan Jumat, seluruh pelajar di MAN IC Serpong diwajibkan berkomunikasi degan dua bahasa asing tersebut, di bawah pengawasan organisasi siswa intra sekolah (OSIS). Yang melanggar akan mendapat hukuman, biasanya dengan public speaking atau penampilan lain yang mendidik dan menantang.

Mendapatkan peringkat satu di MAN IC Serpong, bagi Tita tak semudah lagi ketika ia di MTs. Persaingan nilai tajam karena mesti berhadapan dengan para siswa di atas rata-rata. Standar belajar pun otomatis meningkat drastis dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Inilah mengapa Tita tak lagi juara 1 di kelas MAN IC, tapi cukup puas dalam 20 nilai teratas. Sebuah tantangan yang tak hanya memotivasinya untuk giat beribadah tapi juga kian rajin dan tekun berlipat-lipat dalam belajar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here