Keteladanan

Saat memimpin Madrasah Istiqlal, Hj Nibras OR Salim menekankan kepada para guru bahwa pendidikan adalah sebuah sistem yang harus terintegrasi antara aspek yang satu dengan aspek yang lain. Nilai-nilai kehidupan beragama yang meliputi kecerdasan spiritual dan emosional yang berintikan pada rukun Iman, rukun Islam dan Ihsan merupakan aspek pokok yang harus selalu terintegrasi dalam setiap kegiatan pembelajar.

Ditekankan bahwa anak didik tidak hanya hanya diarahkan untuk pandai dari segi intelektual. Anak didik diarahkan pada tujuan akhir pendidikan yaitu siap menghadap Allah SWT, inna lillahi wa inna ilahi roji’un yang merupakan tujuan hidup yang hakiki dari setiap manusia beragama.

Direktur Madrasah Istiqlal, H Sodikin, juga tidak melupakan satu pesan penting Hj Nibras. Bahwa pendidikan adalah perjuangan dan ibadah yang harus disertai dengan keikhlasan. Ia menanamkan kesederhanaan. Para pendidik tidak boleh mengejar materi. “Kalau ingin uang jangan ke Madrasah Istiqlal, ke (pasar) Tanah Abang saja,” pesan Hj. Nibras.

Dalam memimpin dan mengelola lembaga pendidikan, ia disegani dan dihormati oleh semua bawahannya. Semua yang terlibat dianggap penting. Semua menjalankan tugas masing-masing.

Ia juga tidak segan-segan turun langung untuk membenai hal-hal yang tidak beres. Ia pernah memprotes petugas kebersihan di Madrasah Istiqlal karena kamar kecil kurang bersih. Ia singsingkan lengan baju, mengambil sikat, lalu memanggil petugas kebersihan. “Pak Amin kalau bersihin WC itu begini loh,” kata Hj Nibras.

Dalam mengambil satu keputusan atau kebijakan, Hj Nibras menginginkan semua yang terlibat untuk berpartisipasi aktif. Ia sangat demokratis. Ia menampung ide dan mempersilahkan semua pengelola madrasah menyampaikan usulan. Ini juga merupakan cara untuk mendidik para kadernya agar berfikir, agar ide-ide kretatif tidak tersumbat.

Hampir di setiap kegiatan di luar madrasah, misalnya ketika berbicara di forum seminar, ia mengajak seorang guru. Maksudnya agar para guru terbuka wawasannya, tidak hanya monoton di dalam madrasah. Beberapa kesempatan berbicara di forum diberikan kepada guru lain dan Hj Nibras sendiri hanya diam mengamati. Kepala Madrasah KB dan RA Istiqlal Nita Rosdewita juga mempunyai pengalaman seperti itu. Ia dipersilakan bicara didepan forum. Setelah selesai bicara di luar forum, Hj Nibras baru memberikan catatan bahwa yang disampaikannya barusan kurang begini dan begitu.

Terakhir, jika madrasah memperoleh prestasi, maka ia tegaskan di hadapan semua guru dan pengelola madrasah bahwa prestasi yang didapat bukan milik satu dua orang, tapi milik semua orang. Beginilah antara lain cara Hj. Nibras OR Salim menanamkan kebesamaan. (A. Khoirul Anam)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here