Ibu Jetty Maynur di ruang kerjanya

12 Jetty MaynurAwalnya ia adalah seorang ustazah, memberikan pengajian kepada ibu-ibu di komplek perumahan yang ia tinggali. Kemudian atas permintaan jamaahnya, ia mendirikan TK Islam. Dua tahun kemudian ia mendirikan Madrasah Ibtidaiyah. Tahukah Anda, saat ini madrasah yang ia dirikan menjadi salah satu sekolah termahal. Ibu ustazah yang gigih dan ulet ini bernama Jetty Maynur.

Sikapnya sopan. Gaya komunikasinya cukup bagus dan enerjik. Ia mudah akrab. Bicaranya lancar sekali. Beberapa kali terucap kata “Subhanallah” ibu dua anak ini cukup bersemangat berbagi pengalamannya dari A sampai Z.

Ia mulai menceritakan awal mula ia merintis sekolah TK Islam dan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Bermodal dana dari ibu-ibu pengajian ia merintis sekolah Islam untuk anak-anak. Sampai kini rintisannya menjadi salah satu sekolah swasta favorit di provinsi Banten dan mendapatkan penghargaan nasional.

Jetty Maynur diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan berikutnya ia ditugaskan di MIN Cempaka Putih Ciputat. Madrasah negeri yang didirikan sejak 1980 dan dinegerikan pada 1993 ini tidak banyak dikenal orang.

Beberapa tahun kemudian MIN ini berubah. Saat masa penerimaan siswa baru, para orang tua sudah mengantri semenjak sebelum subuh untuk mendapatkan formulir. Jumlah formulir yang diedarkan hanya dua kali jumlah siswa yang dterima di madrasah ini. ”Biar tidak terlalu banyak calon siswa yang ditolak,” kata Jetty. Kapasitas gedung dan SDM yang ada hanya bisa menampung jumlah siswa yang terbatas.

Berangkat dari Ustazah Ibu-Ibu Pengajian

Saat kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat, tahun 1986, Jetty masih tinggal di komplek Pamulang Permai 2, di rumah orang tuanya. Kebetulan orang tuanya sedang menjalani tugas militer di Palembang. Ia tinggal sendiri. Maka ruangan tamu ia gunakan sebagai tempat mengaji. Sore untuk anak-anak itu dan maghrib untuk ibu-ibu.

Aktivitas pengajian itu ia berikan di sela-sela kuliah. Beberapa teman kuliahnya juga diajak mengajar. Ada yang membuatnya sangat bersemangat. Waktu itu buta huruf al-Quran di komplek itu masih tinggi. Tidak hanya mengajar, bersama remaja dan ibu-ibu pengajian, Jetty turut memfasilitasi pembanguna masjid At-Taqwa Raya di sana. Setelah masjid sudah jadi pengajian di rumahnya dipindahkan ke masjid.

Menurut ibu dua anak ini, ia menjadi Ustazah karena terpaksa, karena tidak ada yang membina warga. Sebenarnya ia tidak pernah belajar lama di pesantren. Pendidikan dasar agamanya diperoleh dari seorang Ustaz keluarga yang rutin dipanggil oleh ayahnya. Ia memanggilnya “Ustaz Kribo”. Berbekal keilmuan agama dari Ustaz itu ditambah apa yang ia peroleh dari IAIN itulah ia menjadi Ustazah di kompleknya. Di sela kuliah ia juga sesekali ikut belajar menjadi “santri kalong” di salah satu pesantren di daerah Bogor untuk menambah ilmu agamanya.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here