Mendirikan TK

Nah ketika akan lulus kuliah ibu-ibu pengajian memintanya mendirikan TK Islam. Mereka tahunya TK, bukan Raudhotul Athfal (RA). “Kasian anak-anak kami ini. Kalau sekolah di TK umum mereka tidak kenal agama,”kata Jetty menirukan ibu-ibu itu dan ia menyanggupi permintaan mereka.

Kebayangkan mahasiswa IAIN disiapkan untuk menjadi guru sekolah menengah, tingkat Tsanawiyah dan Aliyah. Jetty harus “banting setir” mengajar anak-anak. Akhirnya ia mulai belajar mengenai seluk-beluk TK. Ia berkeliling dan belajar ke beberapa TK di Jakarta. Ia membuat komparasi antara TK dan RA yang ia datangi.

Setelah ia yakin mengerti betul seluk-beluk TK ia mulai bekerja. Ia membuat pemetaan dan mulai menyusun perencanaan. Modal untuk mendirikan TK Islam waktu itu berasal dari ibu-ibu pengajian sebesar Rp 5 juta. Modal awal itu ia gunakan untuk penyiapan tempat belajar, pembelian alat-alat mainan dan lain-lain seperti lazimnya TK. Juli 1993 itu mulailah TK pertama. Namanya RA As Salamah. Lokasinya di Pamulang Permai 2, sekarang masuk wilayah Tangerang Selatan.

Murid pertama TK As Salamah ada 40 anak yang dibagi ke dalam tiga kelas. Waktu itu ia memanggil temen-temannya yang memang lulus PGTK, tapi karena ini TK Islam, ia mencari pengajar yang punya “ruh-ruh keislaman”. Anak-anak mulai ditanamkan ajaran keislaman. Anak-anak putri diajarkan memakai kerudung yang menunjukkan nuansa Raudhatul Athfalnya.

Mendirikan MI

Demikianlah. Setelah TK As Salamah meluluskan satu angkatan, ibu-ibu pengajian datang lagi meminta Jetty mendirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI). “Sayang anak-anak kalau masuk ke SD,” kata mereka. Waktu itu di daerah ia tinggal, madrasah masih tidak dikenal. Yang dikenal hanya MP (Madrasah Pembangunan). Bagus tapi mahal. Ibu-ibu pengajian itu tidak sanggup menyekolahkan anaknya ke MP. Akhirnya mereka menyerahkan dana 10 juta kepada Jetty sebagai modal awal mendirikan MI. Tahun 1994, dengan modal itu ia mengontrak rumah tipe 36 di daerah Pamulang 2 untuk menjalankan aktivitas pendidikan. Meja kursi dan papan tulisnya dipinjam sementara dari seorang dose IAIN.

Setelah berjalan satu tahun, beberapa calon siswa baru berdatangan. Jetty bingung karena berbeda dengan TK cepat meluluskan siswanya, masa belajar anak-anak MI ini mestinya enam tahun lamanya. Dimana lagi murid-murid baru akan belajar? Masaah lain, sampai sejauh itu, MI yang ia kelola belum mendapatkan izin.

Untungnya, tidak jauh dari MI As Salamah, ada satu MI di Ciputat yang sudah mati, tidak ada muridnya. Jetty diperbolehkan menggunakan perizinan MI mati itu.

“Tapi saya diminta harus janji kalau sudah empat tahun harus sudah punya bangunan. Saya bilang do`ain ya pak empat tahun punya gedung. Alhamdulillah, akhirnya belum empat tahun kita sudah mendapat gedung. Tanahnya di daerah vasum 1200-an m2 dan bangunnya ya masih memakai dana dari murid angkatan pertama dan sumbangan orang tua,” katanya.

Gaji guru MI waktu itu masih berasal dari dana infak seadanya, terutama dikumpulkan dari ibu-ibu pengajian. Jetty juga menghimpun dana dana zakat mal dari para aghniya untuk pembuatan lokal dan kesejahteraan guru. Trust masyarakat kepadanya menjadi salah satu kunci sukses bisa dipercaya menghimpun dana masyarakat.

Madrasah As Salamah terus berkembang dengan unit pendidikan RA dan MI. Pada tahun keempat, bangunan sudah bagus dan tahun keenam sudah bisa meluluskan siswanya. Pada 2005, madrasah ini menjadi madrasah berprestasi nasional yang memenangi berbagai kompetisi. MI ini menjadi yang terbaik di Provinsi Banten. MIN As Salamah menjadi salah satu madrasah rujukan.

“Para siswanya sekarang berasal dari daerah yang agak jauh. Sekarang (2015) sudah masuk generasi ketiga. Dan denger-denger sekarang As Salamah menjadi MI termahal di Banten,” kata Jetty.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here