Menjadi PNS, Mengelola Madrasah Negeri

Tahun 1999, Jetty Maynur diangkat menjadi PNS Kementerian Agama dan pertama ditugaskan di MTSN Pamulang. Ia mengampu mata pelajaran biologi. Waktu itu diriya meminta izin untuk tetap mengeola MI As Salamah karena masih dalam tahap perkembangan dan belum bisa ditinggalkan. Pagi hari ia berada di MI kemudian siangnya baru ke MTS.

Tahun 2007 ia dipindahkan ke MIN Cempaka Putih Ciputat. “Ada yang bilang ke saya, bu tolong dong perbaiki sekolah negeri,” katanya. Ia berpikir, sekolah negeri seharusnya sudah lebih baik pada masa itu. Namun ketika ia ke lokasi, ternyata MI yang akan ia kelola sangat berbeda dengan MTs Pamulang. Kondisinya masih memperihatinkan.

“Namun justru itu menjadi tantangan bagi saya. Kata kepala kantor, coba bu, ibu kan bisa menjadikan sekolah swasta yang tadinya tidak ada apa-apa menjadi sekolah yang bagus. Sekarang ibu bisa membuktikan bahwa ibu nggak cuman bisa membuat madrasah yang awalnya dari nol tapi juga bisa benahin madrasah ini,” katanya.

“Ketika saya ditempatkan di sini (MIN Cempaka PUtih) saya bilang ya Allah madrasah negeri tahun 2007 kog masih begini. Padahal saya bikin sekolah tahun 1993 dan tahun 2005 sudah bagus dan berhasil meraih prestasi tingkat nasional,” kenangnya.

Minggu Pertama Bertugas

Beberapa hari bertugas, ia hanya mengamati keadaan. Ia menyewa rumah kos yang paling murah di dekat madrasah sehingga memudahkannya pulang-pergi. Persoalan yang pertama ia amati adalah sampah. MI Cempaka Putih jauh dari dari kebersihan. Sampah di mana-mana.

Selanjutnya ia mengamati banyak guru yang tidak disiplin. “Minggu pertama itu saya cuman mengamati keadaan. Tapi saya bertekad kebaikan yang saya lakukan di As Salamah dulu akan saya coba tularkan di sini. Saya menyapa anak-anak setiap pagi. Saya berdialog dengan para guru.”

“Ada salah satu figur guru lelaki PNS, bertanya kenapa sih ibu datang ke sini pagi-pagi benar. Padahal kepala sekolah yang lama itu jam setengah sepuluh baru datang ke sini. Dia menyuci baju dulu, masak, dan segala macam dulu, tapi ibu jam 06.15 sudah ada di sini? Lalu saya bilang apa bapak nggak senang saya disambut oleh saya. Tugas saya kan melayani bapak dan ibu guru gitu kan? Dia kaget sekali saya mengatakan itu.”

“Tidak hanya datang telat, pada jam istirahat beberapa guru juga pulang. Biasanya saya turut mengisi kelas yang pada kosong. Nah pas gurunya masuk sekitar 15 menit, lalu saya bilang dari mana bu, dijawab abis pulang bu masak dulu. Saya bilang, Subhanallah ini sekolah negeri benar-benar asal-asalan. Para guru juga banyak yang tidak bisa membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran),” kata Jetty.

Termasuk yang ia amati adalah seragam yang dikenakan oleh anak MI. Seragam mereka tidak jauh beda dengan pakaian SD negeri. Anak-anak perempuannya tidak memakai kerudung dan memakai baju lengannya pendek karena waktu itu masih dibebaskan. Lalu akhlak anak-anak kepada guru juga tidak begitu baik. Semua ia catat menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. “Akhirnya PR itu saya petakan, mana yang bisa saya lakukan harian, mingguan, bulanan, semesteran, dan tahunan,” demikian Jetty.

Mulai dari Membereskan Sampah

Jetty memulai pekerjaannya dengan membereskan sampah. “Waktu itu saya bilang masya Allah, tempat sampah nggak ada,” katanya. Untungnya ia aktif di majelis taklim dan ia sampaikan kepada ibu-bu. “Ada yang mau infaq tempat sampah nggak? Jadi saya ditempatkan di tempat tugas baru banyak sampah berceceran di mana-mana,” katanya. Ada ibu yang menginfakkan 3 tempat sampah besar untuk MIN itu.

“Saya senang banget itu, dan saya bilang ke anak-anak, nak ayo kita buang sampah pada tempatnya. Jadi kalau istirahat saya melihat anak-anak dan mengajak ayo Nak buang-sampah pada tempatnya, buang sampah itu sedekah loh.Terus begitu setiap hari, sampai menjadi kebiasaan buang sampah pada itu hidup.”

Setelah memberesi sampah, ia meningkat ke seragam. “Saya kasihan. Anak-anak madrasah tapi kok nggak pake kerudung, nuansa islaminya nggak kelihatan. Akhirnya saya hitung anak-anak yang nggak memakai kerudung sekitar 30-an, lalu saya ke majelis taklim dan bilang, Bu apakah ada yang mau sedekah kerudung? Masalahnya banyak murid yang berasal dari keluarga nggak mampu, anak jadi buruh cuci dan lainnya. Saya kan nggak enak juga untuk meyuruh membeli kerudung akhirnya ya ke majelis taklim itu.”

“Lalu saya berikan kerudung titipan ibu-ibu majelis ta’lim dan bilang, Nak nanti kerudungnya kamu pakai ya! Kamu cantik deh kalau pake kerudung, saya puji.”

“Lalu saya bilang juga kepada orang tua mereka, Pak- Bu tolong nabung ya tolong karena ini kan roknya dan celananya masih banyak yang pendek. Jadi disosialisasikan dulu budaya menabung, September ke Juli kan lumayan tuh sekitar sepuluh bulanan itu. Jadi sepuluh bulan itu digunakan untuk menabung supaya awal pembelajaran tahun depan sudah bisa memakai pakaian seragam yang lebih rapi.” Akhirnya tahun baru itu kan sudah mulai rapi, murid barunya juga rapi.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here