Butuh 1 Tahun 8 Bulan

Setelah sosialisasi dan promosi madrasah dirasa sudah berhasil, berikutinya Sarkiah baru masuk kepada program-program penataan di dalam. “Saya butuh waktu sekitar 1 tahun 8 bulan,” katanya.

Selama 1,8 tahun itu ia memberi pengertian kepada siswa, guru dan para stakeholder, tentang bagamana menngelola sekolah yang bagus. Sarkiah mengaku banyak belajar dari “magnet school” MAN Insan Cendekia Gorontalo. Ia juga mengajak beberapa guru melakukan studi banding ke beberapa sekolah di Gorontalo, bahkan ke sekolah-sekolah unggulan di Jakarta.

“Biaya disihkan dari yang ada. Misalnya dari honor pengawas kita sisihkan dan kita kumpulkan untuk kita pakai studi banding,” kata ibu tiga anak itu.

“Kita sering menyelenggarakan rapat, kita sharing mau kita apakan sekolah ini? Banyak sekali masukan. Masing-masing kita memaparkan dari mulai bidang bidang laboratorium, perpustakaan, tata usaha, guru, sampai kepala sekolah sendiri menyampaikan rencananya ke depan. Kemudian yang lain memberikan tanggapan. Kita diskusi dan kita menghasilkan buku pintar dan SOP selama 3 bulan kita rapat.”

Menurut Sarkiah, selama 1,8 tahun itu madrasahnya baru bisa mengejar ketertinggalan dan menata semua bidang. “Kalau sekolah yang sudah stand by mestinya cukup 3 bulan beradaptasi dan mengejar program. Kalau kita butuh waktu satu tahun delapan bulan,” katanya.

Para guru juga dibuatkan portofolio, dan masing-masing portofolio telah ada di meja tugasnya sebagai kepala madrasah. Menurnya, waktu itu, tidak banyak sekolah yang tahu apa itu portfolio. Banyak guru yang tidak memperhatikan soal-soal penting seperti kehadiran, prestasi, dan nilai.

“Kalau ada portofolio saya tidak terlalu banyak menegur karena ada catatannya. Itu dari sisi kedisiplinan,” katanya.

Untuk para siswa juga dibutkan format-format yang berisi point-point yang harus dicapai. Jika siswa gagal mencapai target, pihak madrasah memberikan teguran secara administratif. Portofolio untuk para siswa yang isinya semacam “kartu kontrol” yang sudah berada di meja satpam ketika siswa keluar atau masuk madrasah.

“Semua itu saya rumuskan sendiri. Setiap malam saya merenung. Dari hasil  studi banding saya integrated, saya kombinasikan,” demikian Sarkiah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here