Centre School

Untuk membenahi sarana dan fasilitas, Sarkiah menyusun masterplan khusus. “Saya desain seperti ini,” katanya sambil menunjukkan gamba-gambar dalam buku masterplan yang dicetak dalam kertas yang lux.

“Saya lihat banyak sekolah itu yang penting asal jadi. Tidak memikirkan estetikanya. Tidak memikirkan bagaimana ke depannya. Jadi begitu ada anggaran lagi, ini bongkar lagi. Padahal bagunannya masih layak. Banyak sekolah yang perencenaannya tidak terpola, sembarangan, sehingga menghabiskan anggaran. Padahal ada sekolah lain yang masih butuh,” katanya.

Untuk menyusun masterplan itu, ia mendatangkan konsultan khusus. Ide utama berasal dari pihak madrasah, sementara konsultan membantu menyusun gambar tata ruangnya.

Saya berpikir, kenapa anak-anak lebih nyaman dia ke mall? Kenapa nuansa itu tidak kita tarik ke sekolah. Maka madrasah ini saya desain ini supaya anak-anak betah,” kata Sarkiah.

Ia menambahkan, masterplan juga desain sedemikian rupa agar semua siswa, baik dari keluarga kaya maupun dari kelas menengah ke bawah bisa ikut menyesuaikan diri. Para siswa dibuat tidak kaku dengan fasilitas dan sarana yang disiapkan di madrasah.

Melalui Masterplan, ditambah dengan Standar Acuan Penyelenggaraan Kegiatan dan Smart Book of Madrasah Aliyah Negeri Limboto yang tersusun dengan rapi, Sarkia mencanangkan madrasahnya sebagai “Centre School”, atau pusat kemajuan sekolah-sekoah yang ada di sekitarnya.

Memang benar, pada saat ramai-ramai program sertifikasi, para guru dari sekolah lain datang ke MAN Limboto untuk belajar mengenai portofolio dan lain-lain agar lolos sertifikasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here