Kondisi Berbalik, Madrasah Jadi Idola

Seperti disinggung di atas. MAN Limboto berada di tengah-tengah antara SMA dan SMK. Kedua sekolah di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini sudah mempunyai fasilitas yang memadai. Justru itulah yang membuat Sarkiah bersemangat. Apalagi MAN Limboto berada di pusat kota.

“Saya sampaikan ke guru-guru gimana ini kita ubah madrasah kita menjadi idola. Tapi kita harus kerja semua. Harus searah. Jangan saya ke sana kamu ke belakang. Kalau tidak searah sampai kapan pun tidak bisa,” katanya.

MAN Limboto sudah berdiri sejak tahun 1979. Sejak awal berdiri madrasah ini selalu dipimpin oleh bapak-bapak. Justsru pada saat dipimpin oleh Ibu Sarkiah itulah, madrasah mencapai puncak prestasi. Sarkiah sendiri sempat menjadi juara dalam kompetisi kepala SLTA tingkat nasional.

Di hadapan para guru dan pengelola MAN Limboto, Sarkiah dikenal sebagai sosok yang tegas. “Saya dianggap seperti hantu. Baru datang (terdengar) sepatu saya orang-orang sudah bubar,” katanya.

Sarkiah termasuk kepala sekolah yang sangat ketat dengan data. “Saya sampaikan, kalau kita bicara harus pakai data. Kalau tidak sia-sia saja. Awalnya tidak biasa, lama-lama mereka (para guru) sudah biasa,” katanya.

Masa-masa awal pembenahan madrasah adalah masa-masa yang berat. “Ada yang sampai menangis. Setiap hari kita bawa makanan secara bergantian, sekarang saya besok siapa, karena konsumsi untuk rapat tidak ada anggarannya. Sebelumnya, saya tanya semua, termasuk satpam, mau sekolah kita maju? Kita semua punya impian dan impian itu kita wujudkan. Kalau bicara pendidikan tapi hanya sekedar teori, jangan! Maka pendidikan itu butuh pengorbanan,” katanya.

Kini MAN Limboto sudah menjadi salah satu sekolah favorit di Gorontalo. “Dulu kita mendapat siswa sisa-sisa. Sekarang kita balik, kita yang membuka pendaftaran lebih dulu. Kita seleksi yang masuk. Sampai ada yang nangis anaknya tidak diterima,” katanya.

MAN Limboto hanya menerima separuh saja dari jumlah formulir yang diedarkan. Dari 3 kelas pada 2005, sekarang MAN Limboto mempuanya 12 kelas, masing-masing ada 4 kelas untuk kelas X, XI dan XII.

Sarkiah Hasiru, putri dari pasangan Ma’ani K Hasiru dan Amuri Abaidata kini sudah berusia hampir 50 tahun. Putrinya yang pertama sudah menempuh pendidikan S2. Namun parasnya masih terlihat segar dan cantik, serta penuh semangat.

Ia menjadi, CPNS sejak 1993. Pertama kali semenjak menjadi pegawai negeri sipil, ia ditugaskan di MAN Limboto, namun kemudian ia masih berpindah-pindah ke beberapa madrasah sesuai tugas yang diberikan oleh Kementerian Agama.

Pada saat ditugaskan sebagai Kepala MAN Limboto, waktunya habis untuk madrasah. Ia berangkat pagi dan sering pulang malam. Saat-saat musim banjir tiba, ia bahkan datang ke madrasah jam satu atau jam dua dini hari untuk melihat kondisi madrasahnya.

“Suami dan keluarga saya sempat protes. Awalnya mereka tidak begitu respek. Saya mengurusi madrasah sampai malam selama berbulan-bulan. Sudah dapat berapa miliar yang kau urusin sampai malam-malam, kata suami saya. Lalu bertahap keluarga saya libatkan. Saya ajak ikut kegiatan-kegiatan madrasah. Akhirnya mereka bisa memahami. Oh istri saya, ibu saya, begini pekerjaannya,” kata Sarkiah menirukan perkataan keluarganya.

Setelah sepuluh tahun menjabat, Sarkiah mengajukan surat pengunduran diri, dan ia kemudian ditugaskan sebagai Kasi Pendidikan Agama Islam oleh Kementerian Agama setempat. “Karena Limboto ke rumah saya itu dulu hanya 10 menit sampainya. Sekarang tidak bisa lagi secepat itu. Bagaimana saya menerapkan disiplin kalau saya sendiri terlambat,” katanya menjelaskan alasan pengunduran dirinya.

“Jadi ini sudah kita tinggalkan,” ujarnya sambil menunjuk buku Masterplan, Standar Acuan Penyelenggaraan Kegiatan dan Smart Book MAN Limboto yang dibawanya. “Kalau nawaitunya sama, ya tinggal diteruskan saja,” pungkasnya. [A. Khoirul Anam]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here