Siswa Madrasah Aliyah Pesantren Salafiyah Kajen, Pati
Siswa Madrasah Aliyah Pesantren Salafiyah Kajen, Pati

Guru Ekonomi Madrasah Aliyah Salafiyah Kajen, Pati Jawa Tengah ini meminta izin kepada kepala sekolah untuk mengajak para siswi untuk belajar di luar kelas. Ia tidak mau siswa-siswinya terkungkung di dalam kelas. Bagi dia, belajar di luar kelas sangat menginspirasi.

“Saya datang ke BPR Artha Huda Abadi untuk minta izin kunjungan ke sana. Semua anak saya ajak ke sana. Waktu itu saya mengajar ekonomi kelas III. Mereka takjub luar biasa. Baru kali itu masuk sebuah bank,” kata Widya Lestari.

Yang membuat dirinya tertegun, pertanyaan-pertanyaan para siswi ke pihak bank sangat mengagetkan sekaligus menyedihkan. “Ya Allah, pertanyaan kayak gitu kok ditanyakan,” katanya.

“Misalnya, syarat jadi pegawai bank itu apa? Lucu banget kan?! Saya prihatin sekali. Memang, akses mereka keluar sangat terbatas sekali. Maklum, anak pondok. Tapi sebetulnya nggak masalah. Yang penting itu kan wawasan. Nah, wawasan mereka itu minim sekali,” ujar Widya.

Setahun kemudian, Widya mengajak anak-anak ke BPR Artha Huda Abadi lagi. Tahun berikutnya lagi, ia mengajak mereka ke pabrik Kacang Dua Kelinci di kota Pati.

“Saat itu mereka senang sekali. Ke Kacang Dua Kelinci saja mereka senangnya luar biasa. Mereka bisa melihat langsung bagaimana kacang itu bisa berjalan sendiri mulai proses awal hingga pengepakan,” kenangnya.

Semenjak itu, setiap ada kegiatan yang bernama study excursion yang menggantikan study tour di Madrasah Salafiyah menjadi identik dengan dirinya.

“Jadi, tiap ada kegiatan belajar di luar itu pasti taunya dari saya. Sebab, yang menciptakan pertama kali di situ saya. Nah, sejak itu, tiap tahun kami mengadakan study excursion. Paling jauh, kami mengunjungi Bursa Efek Indonesia yang ada di Surabaya,” ujarnya bangga.

Ia mengajak siswanya ke alun-alun kota, lalu ke pasar menyaksikan aktifitas perekonomian. “Saya prihatin sekali dengan kondisi mereka. Karena apa, anak sini tidak pernah lihat kota Pati. Alun-alun Pati saja mereka belum pernah lihat. Bahkan, pasar juana pun tidak pernah,” ungkap Widya.

Siapa yang menginspirasi ide tersebut? Widya mengatakan, saat kuliah di Malang, Jawa Timur, ia pernah menjabat sebagai Ketua BEM Fakultas Ekonomi Widya Gama Malang. Sebagai aktivis kampus, ia sering melakukan kegiatan seperti itu.

Bahkan, aktivitas model itu sudah dimulainya sejak masih menjadi mahasiswa jurusan akhirnya menjadi Ketua BEM Fakultas.

“Saya pikir, itu merupakan satu langkah yang bagus yang menambah wawasan anak-anak. Daripada sekedar study tour, mereka kalau study excursion selalu ada ilmu yang dibawa pulang. Mereka harus bikin laporan, dan sesuai dengan materinya itu nanti mereka presentasi. Pada akhirnya tidak hanya materi ekonomi. Ada juga materi Bahasa Indonesia juga untuk penyusunan laporannya. Di dalamnya juga kimia, fisika, untuk anak IPA. Kalau untuk ada IPS arahnya ke ekonomi, sosiologi, dan geografi,” tuturnya. (Musthofa Asrori)

1 COMMENT

  1. KH. Bisri Syansuri
    K.H. Bisri Syansuri lahir di Desa Tayu, Pati, Jawa Tengah pada tanggal 18 September 1886. Ayahnya bernama Syansuri dan ibunya bernama Mariah. Beliau adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Beliau lahir dari keluarga penganut tradisi keagamaan yang sangat kuat, yang menurunkan ulama-ulama besar dalam beberapa generasi.

    Tayu, adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Pati terletak di pesisir utara Jawa, merupakan daerah yang memiliki budaya sosial keagamaannya sendiri. Penduduknya sangat teguh memegang tradisi keagamaan. Daerah kelahiran K.H. Bisri Syansuri adalah bagian dari daerah yang membentang dari Demak di timur Semarang sampai Gresik di barat laut Surabaya. Latar belakang geografis ini sangat mewarnai pandangan hidup K.H. Bisri Syansuri di kemudian hari dan turut membentuk kepribadiannya.

    Pendidikan

    Pada usia tujuh tahun KH Bisyri Syansuri mulai belajar agama secara teratur yang diawali dengan belajar membaca Al Qur’an secara mujawwad (dengan bacaan tajwid yang benar) pada Kyai Shaleh di desa Tayu. Pelajaran membaca Al Qur’ an ini ditekuninya sampai beliau berusia sembilan tahun. Kemudian beliau melanjutkan pelajarannya ke pesantren Kajen. Guru beliau bernama Kyai Abdul Salam, seorang Huffadz yang juga terkenal penguasaannya di bidang Fiqih. Kyai Abdul Salam ini adalah seorang yang hafal Al-Qur’an dan memiliki penguasaan yang mendasar atas fiqih. Kyai Abdul Salam ini sebenarnya masih termasuk keluarga dekat K.H. Bisri Syansuri dan membuka pesantren di desa itu. Di bawah asuhan Kyai Abdul Salam,K.H. Bisri Syansuri digembleng dengan keras, sehingga mewarnai corak kepribadiannya kelak.Dengan Kyai Abdul Salam ini K.H. Bisri Syansuri mempelajari dasar-dasar tata bahasa Arab, fiqih, tafsir Al-Qur’an dan hadits Nabi.

    Pada usia lima belas tahun KH Bisyri Syansuri berpindah pesantren lagi, belajar pada Kyai Khalil di Demangan Bangkalan. Kemudian pada usia 19 tahun beliau meneruskan pelajarannya ke pesantren Tebuireng Jombang. Di bawah bimbingan KH Hasyim Asy’ari beliau mempelajari berbagai ilmu agama Islam. Kecerdasan dan ketaatan beliau menyebabkan tumbuhnya hubungan yang sangat erat antara beliau dengan hadratus syaikh untuk masa-masa selanjutnya.

    Setelah enam tahun lamanya belajar di Tebuireng, pada usia 24 tahun beliau berangkat melanjutkan pendidikan ke Makkah. Beliau bersahabat dengan K.H. Abdul Wahab Hasbullah sejak di pesantren Kademangan sampai di tanah suci Makkah. Ketika Adik K.H. Abdul Wahab Chasbullah yang bemama Nur Khadijah menunaikan ibadah haji bersama ibunya pada tahun 1914, K.H. Abdul Wahab Chasbullah menjodohkan adiknya dengan KH Bisyri Syansuri, dan pada tahun itu juga beliau pulang ke tanah air.

    Kepulangan ke tanah air itu membawa beliau kepada pilihan untuk kembali ke Tayu atau menetap di Tambakberas. Atas permintaan keluarga Nur Khadijah, beliau menetap di Tambakberas Jombang.Setelah dua tahun menetap dan membantu mengajar di Pesantren Tambakberas, pada tahun 1917 beliau pindah ke desa Denanyar.Di tempat ini beliau bertani sambil mengajar, yang kemudian berkembang menjadi sebuah pesantren.Semula pesantren ini hanya mendidik santri laki-laki, tetapi pada tahun 1919 beliau mencoba membuka pengajaran khusus bagi para santri wanita.Percobaan ini ternyata mempunyai pengaruh bagi perkembangan pesantren, khususnya di JawaTimur.Karena sebelumnya memang tidak pernah ada pendidikan khusus untuk santri putri.

    Pengabdian

    K.H. Bisri Syansuri termasuk salah seorang Kyai yang hadir dalam pertemuan 31 Januari 1926 di Surabaya, saat para ulama menyepakati berdirinya organisasi NU. K.H. Bisri Syansuri duduk sebagai A’wan (anggota) Syuriah dalam susunan PBNU pertama kali itu.

    Pada masa perjuangan kemerdekaan, K.H. Bisri Syansuri bergabung ke dalam barisan Sabilillah dan menjabat sebagai Kepala Staf Markas Besar Oelama Djawa Timoer (MBO-DT) yang kantornya di belakang pabrik paku Waru, Sidoarjo.

    Sejak K.H.M. Hasyim Asy’ari wafat pada tahun 1947, jabatan Rais Akbar dihapuskan, diganti dengan Rais Am. Posisi itu dijabat oleh K.H. Abdul Wahab Chasbullah, dimana K.H. Bisri Syansuri ditetapkan sebagai wakilnya. Pada tahun 1971 K.H. Bisri Syansuri menggantikan Kiai Wahab sebagai Rais Am sampai akhir hayatnya.

    Karier Politik

    Dalam bidang politik, K.H. Bisri Syansuri pernah menjadi anggota BP KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) mewakili Masyumi. Hasil pemilu 1955 mengantarkan dirinya menjadi anggota Dewan Konstituante, sampai lembaga itu dibubarkan oleh Presiden Soekarno lewat dekrit Presiden 5 Juli 1959. Hasil Pemilu 1971 mengantarkan K.H. Bisri Syansuri kembali duduk sebagai anggota DPR RI dari unsur NU. Jabatan itu dipegangnya sampai beliau wafat.

    Ketika PPP dibentuk oleh pemerintah Orde Baru dari unsur-unsur partai Islam peserta pemilu 1971, K.H. Bisri Syansuri ditunjuk sebagai Rais Am majlis syuro partai tersebut. Dalam beberapa forum, sikapnya dikenal keras dan sulit diajak kompromi. Sebab sudut pandang yang dipakai lebih banyak pada kacamata fiqh ansich. Namun K.H. Bisri Syansuri selalu konsisten dengan sikapnya.Peristiwa dalam Sidang Umum MPR 1978 adalah salah satu contohnya.

    Selain berkakak ipar K.H.A. Wahab Hasbullah, K.H. Bisri Syansuri juga berbesan dengan K.H.M. Hasyim Asy’ari, gurunya. K.H.A. Wahid Hasyim, menikah dengan Hj. Solichah, putrinya. Dari merekalah lahir K.H. Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur, yang telah menjadi Presiden Republik Indonesia ke-4 (20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001).

    Sampai akhir hayatnya K.H. Bisri Syansuri masih menjadi anggota DPR, Rais Am PBNU, Rais Am Majlis Syuro DPP PPP, di samping aktif mengasuh Pondok Pesantren Denanyar yang didirikannya sejak tahun 1917. K.H. Bisri Syansuri wafat di Jombang pada tanggal 25 April 1980 dalam usia 94 tahun, dan dimakamkan di komplek Pesantren Denanyar.

    Ahli dan Pecinta Fiqih

    Karakter sebagai pecinta Fiqih terbentuk ketika K.H. Bisri Syansuri nyantri kepada K.H. Kholil Bangkalan, dan semakin menguat setelah nyantri di Tebuireng.K.H. Bisri Syansuri memang sengaja mendalami pokok-pokok pengambilan hukum agama dalam fiqh, terutama literatur fiqih lama.

    Tidak mengherankan jika K.H. Bisri Syansuri begitu kukuh dalam memegangi kaidah-kaidah hukum fiqih, dan begitu teguh dalam mengkontekstualisasikan fiqh kepada kenyataan-kenyataan hidup secara baik.

    Walaupun begitu, K.H. Bisri Syansuri tidak kaku dan kolot dalam berinteraksi dengan masyarakat.Hal itu setidaknya terlihat dari upayanya dalam merintis pesantren yang dibangunnya di Denanyar.

    Pertengahan Juni ini, Ponpes Mambaul Maarif Denanyar, Jombang, memiliki hajat besar.Ribuan orang diperkirakan memadati lokasi pesantren untuk menghadiri agenda acara tahunan Haul ke-31 wafatnya KH.Bisri Syansuri dan bersama-sama meneladani keteguhan prinsip dan kecintaannya kepada ilmu fiqih, Islam dan bangsa.

    Pembicarakan kisah hidup K.H. Bisri Syansuri berarti membicarakan kecintaan seorang ulama terhadap ilmu fiqih.Karena saking cintanya, K.H. Bisri Syansuri dikenal sebagai ulama yang tegas memegang prinsip.KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga cucunya sendiri, menyebut K.H. Bisri Syansuri sebagai “Pecinta Fiqih Sepanjang Hayat” yang ter-muat sebagai judul buku yang beliau tulis.

    Ada kisah menarik yang termuat dalam buku Gus Dur.K.H. Abdul Wahab Chasbullah sering sekali berbeda pendapat dengan K.H. Bisri Syansuri.K.H. Abdul Wahab Chasbullah, menurut Gus Dur, lahir sebagai anak kaya di Bibis, Kota Surabaya.Ibunya memiliki ratusan rumah di daerah tersebut yang disewa oleh orang-orang Arab pada paruh kedua abad ke-19 Masehi.

    Sebaliknya, K.H. Bisri Syansuri lahir beberapa tahun kemudian, di tengah-tengah keluarga miskin di kawasan Tayu Wetan, Pati, Jawa Tengah.Dia belajar di pesantren lokal dan kemudian di pesantren K.H. Cholil, Demangan, Bangkalan.Di sanalah dia bertemu dengan K.H. Abdul Wahab Chasbullah.

    K.H. Bisri Syansuri muda dapat terus menjadi santri karena beliau mencuci pakaian dan menanak nasi untuk kawan barunya itu, Kiai Wahab muda.Segera K.H. Bisri Syansuri muda menjadi orang kepercayaan K.H. Abdul Wahab Chasbullah muda karena jujur dan rajin.Jadi, urusannya sudah bukan lagi menyangkut pakaian dan makanan, tetapi sudah berkaitan dengan watak dan tempramen.Walaupun begitu, keahlian ilmu agama Islam kedua orang itu juga saling berbeda.

    Perbedaannya terletak pada bidang ilmu agama yang mereka senangi.K.H. Abdul Wahab Chasbullah senang pada ilmu ushul fiqh, sedangkan K.H. Bisri Syansuri menyukai tafsir dan hadits Nabi Muhammad SAW. Bidang itu juga dinamai kajian naqly, bertumpu kepada ayat-ayat Alquran dan hadits Nabi Muhammad SAW.

    Karena itu, K.H. Bisri Syansuri tidak banyak berkutat dengan penggunaan akal (rasio) sebagaimana K.H. Abdul Wahab Chasbullah.Pernah K.H. Abdul Wahab Chasbullah bertanya kepada Gus Dur; “Saya dengar kakekmu itu tidak pernah makan di warung?”Gus Dur menjawab, “Memang benar demikian.

    K.H. Abdul Wahab Chasbullah kembali bertanya, “Mengapa?”Gus Dur menjawab, “K.H. Bisri Syansuri tidak menemukan hadits yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah makan di warung.”K.H. Abdul Wahab Chasbullah mengatakan; “Ya, tentu saja karena waktu itu belum ada warung.”

    Tetapi pergaulan mereka, tokoh tekstual di satu sisi dan tokoh satunya yang senang menggunakan rasio, ternyata sangat erat.Hal ini tampak ketika ada bahtsul masail.Gus Dur pernah menyaksikan sekitar 40-an orang kyai berkumpul dari pagi hingga sore hari di ruang tamu K.H. Bisri Syansuri.Ternyata, keduanya berdebat seru, yang satu membolehkan dan yang satu lagi melarang sebuah perbuatan.

    Demikian seru mereka berbeda, hingga akhirnya semua kyai yang lain menutup buku/kitab mereka dan mengikuti saja kedua orang itu berdebat. Sampai-sampai, baik K.H. Abdul Wahab Chasbullah maupun K.H. Bisri Syansuri berdiri dari tempat duduk mereka sambil memukul-mukul meja marmer yang mereka gunakan berdiskusi.Muka keduanya memerah karena bertahan pada pendirian masing-masing.

    Akhirnya kemudian K.H. Abdul Wahab Chasbullah menyerang, “Kitab yang Sampeyan gunakan adalah cetakan Kudus, sedangkan kitab saya adalah cetakan Kairo.” Ini adalah tanda K.H. Abdul Wahab Chasbullah kalah argumentasi dan akan menerima pandangan K.H. Bisri Syansuri. Walau pada forum bahtsul masail itu mereka berbicara sampai memukul-mukul meja dengan wajah memerah, namun ketika tiba-tiba beduk berbunyi, K.H. Bisri Syansuri segera berlari ke sumur di dekat ruang pertemuan tersebut. Di sana, dia naik ke pinggiran sumur dan menimbakan air wudhu bagi iparnya itu. Beda pendapat boleh tapi harus tetap rukun.Demikian kira-kira pegangan mereka.

    Kisah menarik lainnya terdapat di buku “Menapak Jejak Mengenal Watak, Sekilas Biografi 26 Tokoh NU”.Dalam resepsi penutupan Kongres Gerakan Pemuda Ansor di Surabaya, April 1980, Pengasuh Pesantren Tebuireng K.H. Yusuf Hasyim (Pak Ud) membisiki seseorang, “Sakitnya K.H. Bisri Syansuri semakin parah.Beliau dalam keadaan tidak sadar siang tadi ketika saya tinggalkan berangkat kemari,” ujarnya.Orang yang diberitahu tersentak mendengar bisikan itu.Sebab tiga hari sebelumnya, dia ikut hadir di ruang tamu rumahnya, sewaktu pendiri dan pemimpin Ponpes Mambaul Maarif itu menerima Probosutedjo, pengusaha kenamaan dan adik Presiden Soeharto.

    Probosutedjo diundang untuk memberikan ceramah tentang kewiraswastaan dalam Kongres Ansor di Surabaya.Kehadirannya memenuhi undangan tersebut dimanfaatkan sekaligus untuk mengunjungi K.H. Bisri Syansuri yang sedang dalam keadaan sakit.Ketika itu K.H. Bisri Syansuri menjemput sendiri tamunya di teras tempat kediamannya.Bersarung putih dengan garis kotak-kotak kebiruan, mengenakan baju putih dan berkopiah haji.K.H. Bisri Syansuri mempersilakan tamu dari Jakarta itu memasuki ruang depan rumahnya yang tua dan berperabotan sederhana.

    Wajahnya, seperti biasa, tampak jernih.Dengan sabar penuh perhatian beliau mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh tamunya. Dan dengan suara lembut beliau menjawab setiap pertanyaan, menjawab salam dari Presiden Soeharto yang disampaikan oleh Probosutedjo dan dengan halus menolak tawaran berobat ke luar negeri.

    Terdapat pula kisah K.H. Bisri Syansuri dalam buku “Antologi NU; Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah” jilid I. Saat berlangsung Sidang Umum MPR tahun 1978 ada peristiwa luar biasa. Fraksi PPP tidak sepakat dengan keputusan fraksi lain. Setelah berkali-kali adu argumentasi mengenai rancangan ketetapan MPR tentang P4 namun tetap tidak membuahkan hasil.Sementara partai sudah menggariskan untuk memegang teguh amanat itu, mereka pun keluar sidang.

    Seluruh anggota Fraksi PPP segera berdiri. Dipimpin langsung oleh K.H. Bisri Syansuri, mereka beriringan walk out sebagai tanda tidak setuju terhadap hasil keputusan. Meski sudah berusia 92 tahun, kyai yang menciptakan lambang ka’bah bagi PPP itu malah berjalan paling depan.

    Ketegasan lain nampak tatkala DPR membahas RUU tentang perkawinan. Secara kesluruhan RUU itu dinilai banyak bertentangan dengan ketentuan hukum agama Islam.Maka, di mata K.H. Bisri Syansuri, menghadapi kasus itu, tidak ada alternatif lain kecuali menolaknya.

    Setelah itu amandemen RUU itu diajukan ke Majelis Syuro PPP dan diterima.DPP PPP memerintahkan Fraksi PPP DPR-RI agar menjadikan RUU tandingan itu sebagai rancangan yang diterima dan harus diperjuangkan. Setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan, serta lebih banyak dilakukan di luar gedung DPR-RI, akhirnya RUU itu disahkan setelah ada revisi dan tidak lagi bertentangan dengan hukum Islam.

    Pecinta Ilmu Sejati

    Di sisi pergerakan, K.H. Bisri Syansuri bersama-sama para kiai muda saat itu antara lain K.H. Abdul Wahab Chasbullah, K.H. Mas Mansyur, K.H. Dahlan Kebondalem dan K.H. Ridwan, membentuk klub kajian yang diberi nama Taswirul Afkar (konseptual)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here