Obesesi Menjadi Guru

Hasanain memperoleh pendidikan dasar di tanah kelahirannya. Tahun 1975 ia lulus Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Nahdlatul Wathan di Tanak Beak, Narmada, Lombok Barat, NTB. Tahun 1978 ia lulus Madrasah Tsanawiyah (MTs) di almamater yang sama.

Selanjutnya Hasanain Juaini merantau ke pulau Jawa. Ia belajar di Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur sembari mengikuti pendidikan tingkat SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) sampai tahun 1984. Dari Gontor, ia melanjutkan pendidikan S1 di Fakultas Hukum Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab atau LIPIA di Ibukota Jakarta sampai tahun 1995. Kemudian pendidikan S2 diperolehnya di Fakultas Hukum, Universitas Mataram di sela-sea kegiatannya. Ia memperoleh gelar magister di bidang ilmu hukum pada 2006 lalu.

Aktifitasnya mengajar sebenarnya telah dimulai sejak sejak ia tamat dari di Gontor tahun 1984. Dan sampai sekarang ia konsisten menjadi seorang sebagai seorang guru di sela kegiatannya sebagai aktivis sosial dan lingkungan, serta aktivitas di bidang bisnis. Menjadi guru adalah tuntutan hati nuraninya.

Mengapa ingin menjadi guru? Ia mengatakan, dengan menjadi guru ia akan memperoleh kepusan tersendiri, yaitu ketika ia bisa mengantarkan muridnya menjadi lebih maju. Dengan menjadi guru, ia berharap bisa membuat murid-muridnyanya penuh harapan menghadapi masa-masa depan.

Bagi para guru, masa depan sangatlah berarti. Para guru akan bahagia kalau muridnya itu optimis dalam menghadapi masa depanya, demikian kata TGH Juaini.

Pesantren Nurul Haromain

Tahun 1996 selepas pulang studi dari Jakarta ia mempimpin Pondok Pesantren Nurul Haramain Narmada di Lombok Barat. Pesantren ini merupakan peninggalan ayahnya Juaini Muchtar sejak 1952 yang tidak dikembangkan. Jumlah santri pada tahun 1996 dimulai dengan 7 orang, tahun berikutnya naik menjadi 14, berikutnya lagi 24 dan seterusnya.

“Saya kira ini penting untuk disadari bahwa kita harus bersyukur dengan kondisi yang seperti itu, dengan demikian kita menyadari bahwa sampai di sanalah keperacayaan yang diberikan Allah kepada kita,” kenangnya.

“Jadi kita tidak boleh minta melebihi dari kemampuan kita. Berdasarkan itu nanti kita bisa meniti, sesuai dengan kemampuan yang ada tentu akan bertambah.”

Kini Pondok Pesantren Nurul Haramain telah mempunyai ratusan santri yang mengikuti jenjang pendidikan Madrsah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).

TGH Juaini bercita-cita agar pondok pesantren Nurul Harmain ini menjadi sebuah pendidikan Islam yang modern. Menurutnya, fungsi pondok pesantren atau lembaga pendidikan itu harus bisa mencerdasakan manusia, mendidik dan mengajarkan mereka-mereka (murid) hikmah-hikmah ke depan dia baik, dia benar dan dia bermanfaat. “Inilah yang saya inginkan di pondok pesantren Nurul Haramain,” kata suami dari Hj. Runiati Ilarti ini.

Ada perasaan bangga tersendiri jika masyarkat merasa senang dengan hasil-hasil pendidikan di pesantrennya. “Kita merasa senang misalnya ketika bertemu dengan anak-anak yang baik, berperstasi. Kita juga senang ketika masyarakat menghargai kegiatan-kegiatan pesantren yang dilaksanakan di luar seperti kegiatan lingkungan dan kegiatan bakti sosial, membersihkan pantai, menamam pohon di hutan yang rusak, atau membersihkan pasar,” ujarnya.

Pesantren Nurul Haramain mempunyai beberapa program sosial. Setiap tahun pesantren ini mengagendakan program haflah kurban. “Kita sama-sama motong daging qurban, memberikan uang santunan, memberikan pengajian dan mengundang orang-orang untuk bertemu bersama,” kata TGH Juaini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here