Konsep Pendidikan Islam

Menurut TGH Juaini, pendidikan Islam itu harus sesuai dengan tuntunan dan ajaran Islam itu sendiri. Salah satu tuntutan pendidikan Islam adalah persiapkan anak-anak bangsa khususnya di Indonesia yang akan menampilkan Islam yang ramah bagi sekalian alam. Hal ini memerlukan manusia-manusia yang diistilahkan “insan kamil”.

“Insan kamil kalau mau lebih dielaborasikan adalah manusia-manusia yang baik, benar, indah bermanfaat, serta dia sendiri bisa makmur dalam hidupnya,” jelasnya.

Oleh sebab itu, perndidikan harus diupayakan sebuah lembaga pendidikan yang Islami dengan program-program yang komprehensif agar semua potensi dapat diimpelementasikan secara maksimal. Inilah menurut TGH Juaini maksud dari pada pendidikan Islam.

Menurut TGH Juaini, umat Islam wajib menjalankan Islam itu secara “kafah” baik zahiriyah maupun batiniyiah. Sekarang ini umat Isam pada umumnya cenderung mengapresiasi ajaran Islam hanya tataran batinyiahnya yang menyangkut persoalan iman dan Islam dalam pengertian yang sederhana.

“Kita percaya Islam mengajarkan kesabaran, kebersihan, keadilan dan sebagainya. Kita percaya bahkan kita sanggup bertaruh nyawa untuk mempertahankan keyakinan kita. Tetapi kita masih belum beranjak dari kondisi dan keberpihakan kepada tindakan-tindakan yang nyata terhadap masyarakat,” kata TGH Juaini menjelaskan maksud menjalankan Isam secarah lahiriyah.

Umat Islam saat ini cenderung masuk ke aspek batiniyah dari saja. Menurut TGH JUaini, mungkin hal itu terkait dengan shock karena peradaban Islam pernah dikalahkan. “Kita belum melembagakan (diri) dan membuat strategi. Tugas ke depan adalah belajar dan belajar lagi agar tahu caranya membumikan ajaran kita ini,” ujarnya.

Menghijaukan 33 Hektar Lahan

TGH Juwaini dikenal secara nasional sebagai seorang guru dan tokoh muslim di NTB yang telah berhasil mewujudkan pondok pesantren dan madrasahnya sebagai lembaga pendidikan yang ramah lingkungan.

Ia bercerita, semenjak awal bersama-sama dengan para aktivis lingkungan menerbitkan buku “Fiqih Lingkungan”. Ia juga membeli dan menyulap lahan gundul di kawasan hutan seluas lebih dari 33 hektar menjadi hijau dan berpohon lebat. Proses penghijauan itu memakan waktu lebih dari 9 tahun yang melibatkan santri serta warga sekitar. Dana yang dikeluarkannya tidak sedikit mencapai Rp 4,3 miliar lebih.

Terkait dengan berbagai langkah pelestarian  lingkungan sebenarnya ia ingin menyampaikan pesan bahwa melestarikan lingkungan itu adalah amanat, ciptaan manusia. Sama halnya dengan perintah untuk menyembah Allah. Jadi kita tidak akan bisa menyembah Allah, mengimplementasikan keimanan kita dalam kondisi lingkungan kita hancur. Apalagi kita dalam posisi masih bisa melakukan sesuatu, ajakan saya untuk melestarikan lingkungan itu semata-mata merupakan perintah Allah dan Rasulullah SAW.

Banyak yang bernggapan bahwa sebuah institusi pendidikan Islam umumnya hanya bergerak di bidang tafaqquh fiddin, atau pendidikan agama saja, dan acuh-tak acuh dengan kondisi lingkungan. Menurut TGH Juaini, ini tidak tepat. Menurutnya, melestarikan lingkungan adalah amanh ciptaan mansia. Kita sebagai individu pribadi baik sebagai kelompok sosial harus turut melestarikan lingkungan. Karena Rasulullah sendiri bersabda, Berhati hatilah dengan bumi ini sesungguhnya dia adalah ibumu.

Jadi kita perlakukan bumi ini seperti bagaimana memperlakukan ibu kita. Memuliakannya. Karena jasa-jasanya kepada kita,” tambanya.

TGH Juaini, tidak sepakat pondok pesantren Nurul Haramain dikategorikan sebagai “pesantren yang pro lingkungan”. Karena seharusnya semua pondok pesantren itu harus pro lingkungan. Setiap orang itu juga harus pro lingkungan, katanya.

“Saya mengatakan hal itu (pro lingkungan) adalah sesuatu yang harus khusunya pondok pesantren yang selama ini dikenal oleh masyarakat. Jangan hanya nyaman di menara gading tapi tidak mau tahui urusan luar. Saya kira ini suatu kesalahan dalam konsep pendidikan islam yang selama ini dipahami banyak orang,” tambahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here