Pemanfaatan Teknologi

TGH Juaini juga dicatat telah berhasil memanfaatkan teknologi untuk menunjang proses pendidikan pondok pesantren atau madrasah. Banyak hal yang sudah dilakukannya dalam memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran sejak tahun 1998.

Pemanfaatan teknologi computer misalnya. “Kita sudah merakit sendiri computer kita, kita punya program namanya Duku Sasak (satu guru satu santri satu computer) itu sudah lama tercapai dari tahun 1998 dan kita sudah melakukan ujian semester on line sudah berjalan 7 yang lalu hingga kini,” ujarnya.

Berbeda dengan beberapa pesantren dan madrasah yang merasa khawatir dengan akses negatif internet, TGH Juaini sudah melakukan pembentengan sejak awal kepada para santri-santrinya. Di lingkungan pesantren dan madrasah telah disiapkan belasan spot akses internet untuk keperluan belajar mengajar serta utuk santri yang menggunakan laptop.

Pesan untuk Guru

Menurut TGH Juaini segala sesuatu, termasuk pengabdan diri di dunia pendidikan harus diniatkan semata-mata karena Alah SWT. “Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil’alamin lasyarikalahu wabudza umirtu wa’ana ‘awalullmuslimin. Jadi kita sudah seranhkan perjuangan kita menjadi milik Allah. Nanti kita minta petunjuk kepada Allah bagaimana cara mengemban amanah,” katanya.

“Saya kira yang terpenting dan saya yakini adalah bahwa perjalan kita (mengelola pendidikan) ini sudah tepat. Kita banyak belajar dari orang lain dan selalu memberikan nasehat dan share pengalaman, diskusi-diskusi sehingga insyaallah Allah akan kita menyatukan dengan teman-teman yang lain,” tambahnya.

Ia berpesan kepada guru madrasah dan pesantren di  berbagai daerah di Indonesia bahwa guru adalah manusia yang paling bertanggung jawab terhadap kualitas pendidkan bangsa Indonesia. Maka guru harus terus-menerus meningkatkan diri.

“Teruslah membangunkan kesadaran bahwa sesungguhnya tugas guru belum akan memberikan kita kesempatan untuk tersenyum, saking beratnya. Marilah kita sama-sama bekerja keras,” katanya.

Menurut TGH Juaini, lembaga pendidikan harus mempunyai visi dan misi serta dilandasi dengan cita-cita. “Kalau sudah ada cita-cita, sudah ada harapan saya kira semua proses pendidikan itu tidak bisa dikatagorikan susah,” pungkasnya. [Red: Anam]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here