Ismail Z. Betawi
Ismail Z. Betawi
Ismail Z. Betawi

Sebelum menjadi Kepala MAN Kedang  Nusa Tenggara Timur (NTT) Ismail Z. Betawi dipercaya menjadi Kepala MTs Negeri Kalikur. Ia dinilai berhasil menyelesaikan persoalan internal antara kepala madrasah dan pegawai tata usaha. Persoalannya adalah saling memfitnah yang berujung dengan insiden perkelahian dengan menggunakan senjata tajam (parang). Selama sembilan bulan masa kepemimpinannya, MTs Negeri Kalikur sebagai wakil peserta Olimpiade Sains antar madrasah utusan Kabupaten Lembata berhasil masuk final pada mata pelajaran Matematika.

Setelah itu keluarlah SK Kanwil Kementerian Agama NTT untuk Menjadi Kepala MAN Kedang Tahun 2010. Madrasah ini beralamat di jl Pantai Utara Desa Kalikur Kecamatan Buyasuri Kabupaten Lembata.

MAN Kedang sebelumnya bernama MAS Uyelewun yang digagas oleh seorang Tokoh kampung yang bernama Bapa Guru Tuang Adonara pada tanggal 8 Bulan 8 Tahun 1988, sehingga tahun berdirinya ini dikenal sebagai Tahun kaca mata.

“Ada pesan moral yang dapat kami tawarkan adalah bahwa hadirnya Madrasah ini merupakan buah perjuangan dan cita-cita luhur masyarakat Kalikur sebagai pencetus berdirinya madrasah di Kedang sekaligus menunjukkan jati diri yang sesungguhnya bahwa madrasah  adalah bahagian dalam nafas kehidupan orang kalikur khususnya dan orang kedang pada umumnya,”kata Ismail.

Bagaimanapun kondisinya, ia sangat menghargai para perintis dan pendiri MAN Kedang. “Kegigihan untuk dapat mendirikan Madrasah di Kedang penuh dengan tantangan dan rintangan, bahkan secara faktual tokoh penggerak madrasah waktu itu seperti Bapak Muhammad Amin, Bapak Abdul Latif Hasan dan Bapak Adam Yusuf Riang Loyo sempat di jebloskan kedalam penjara selama 11 Bulan peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1968,” ujarnya.

Menuju Ideal

Menurut Ismail, secara fisik memang terkesan Madrasah di NTT belum ideal bila dipakai rujukan BNSP. Akan tetapi secara bertahap madrasah ini terus berbenah menuju titik ideal. Pembenahan dilakukan dari sisi akademik maupun fisik dan tampilan seperti kebersihan dan keindahan madrasah.

Sejak awal penegerian tahun 1997, jumlah siswa pada Madrasah Aliyah Negeri Kedang tercatat sebanyak 40 Siswa. Seiring dengan perkembangan waktu dan perubahan fisik bangunan serta beberapa prestasi yang diraih, pada awal Juli 2015 tercatat siswa MAN kedang sudah sebanyak 447 Siswa.

“Guru MAN Kedang pada tahun 2015 telah memenuhi syarat sesuai ketentuan Undang-Undang Guru. Rata-rata telah berpendidikan Strata satu (Sarjana),” kata Ismail. Ia telah mencatat kualifikasi para guru MAN Kedang dalam bentuk tabel yang rapi.

Proses pembelajaran di MAN Kedang di mulai sejak Pukul 07.00-14.14 waktu setempat dilanjutkan dengan bimbingan kelompok 16.00- 18.30. Pembelajaran pada Zona integratif pada Pukul 20.00-23.00 pada 4 wilayah yaitu Desa Kalikur, Desa Bareng,Desa Leuwohung dan Desa Normal.

Pendekatan dalam pembelajaran bervariasi yakni pendekatan teoritis 40 %, tugas mandiri dan terstruktur 60% dari total waktu secara keseluruhan.

Masing-masing guru yang terbagi dalam zona integratif mengkawal aktifitas para siswa dan siswinya. Ke empat zona itu dibagikan lampu gas minyak tanah masing-masing satu dengan biaya operasional dan pemeliharaan peralatan tersebut dibebankan pada DIPA MAN Kedang.

Prestasi yang diraih oleh MAN Kedang pada saat pertama kali Ismail menjabat kepala madrasah lebih dominan pada kegiatan keagamaan saja, karena memang madrasah ini dibentuk untuk merespon keinginan dan kebutuhan masyarakat pendirinya dan juga merupakan Pusat dakwah Islam di Wilayah Kedang. Setelah Tahun 2010 barulah madrasah ini mulai dibenahi akhirnya hampir semua sektor kompetisi MAN Kedang tidak pernah absen untuk mengirimkan utusanya baik mewakili kabupaten ke Tingkat Propinsi maupun mewakili Propinsi NTT ke tingkat nasioanal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here