Membangun Kepercayaan Diri

Sejak pertama menjabat sebagai Kepala Madrasah, upaya yang dilakukan oleh Ismail Z. Betawi adalah membangun semangat memiliki madrasah. Pelepasan siswa dan siswi kelas XII yang Lulus ujian dilakukan dengan menyeleggarakan acara wisuda resmi. Semua stakeholders diundang dalam moment yang sangat berharga dan cukup megah untuk ukuran masyarakat pedesaan.

Target yang diharapkan dari kegiatan dimaksud adalah membangun rasa kepercayaan masyarakat Kedang bahwa yang dapat melakukan kegiatan akbar seperti wisuda hanyalah madrasah. Padahal sekolah tidak mungkin mengadakan acara seperti itu. Ternyata dampak positif yang diperoleh dari kegiatan tersebut sangat luar biasa. Jumlah murid mulai meningkat, kompetisi internal antar guru dan murid mulai nampak dan terakhir semangat untuk memiliki madrasah mulai tinggi. Disinilah awal dari sebuah strategi membangun kepercayaan diri. Sederhana memang.

Menurut Ismail, niat untuk menata dan membangun madrasah dalam harus menjadi niat bersama. Maka visi dan misi seorang Kepala madrasah itu dibicarakan dan dipahami bersama.

“Langkah yang kami lakukan adalah menyadarkan seluruh elemen penggerak setiap saat untuk melakukan apa saja dalam memajukan madrasah dalam satu visi. Di sisi lain, kami juga mengkaji orientasi apa saja yang dipunyai guru dan murid dalam sistem kelembagaan tersebut,”ujarnya.

Terkait dengan pengelolaan guru, menurut Ismail, guru dipandang sebagai elemen yang memiliki pengaruh terbesar dalam kemajuan sebuah madrasah, apalagi madrasah negeri. Penempatan guru baru melalui seleksi yang berdasarkan kuota perlu harus melalui investigasi, baik langsung maupun tidak langsung. Jika madrasah hanya dilihat sebagai jembatan untuk memperoleh penghasilan atau pekerjaan, hal ini sangat berbahaya. Maka perlu dilakukan upaya mengembalikan orientasi pada semangat membangun madrasah.

“Cara yang kami lakukan adalah menelusuri latar belakang kehidupan awal dari guru yang ada termasuk kebiasaan-kebiasaan sebelumnya kemudian kami masuk dalam budaya kehidupanya terakhir barulah kita mengajak untuk mengikuti keinginan-keinginan kita dalam artian menyahuti visi dan misi madrasah. Rasa dihargai dan aktivitas kegiatan yang selalu menyertakan pemikiran guru adalah kunci dari kesuksesan. Tanamkan rasa mencintai madrasah secara santun dan sadarkan kehidupannya dengan pendekatan iman dan takwa serta kearifan lokal,” kata Ismail.

“Bahasa sederhana yang sering kami ungkapkan adalah jadikanlah kehidupan yang singkat ini dengan nilai-nilai yang bermanfaat dan bimbinglah generasi kita dengan sungguh-sunguh, karena yang kita bentuk hari ini adalah merupakan bayangan yang paling dekat tatkala pada masanya mereka membimbing-putra dan puti kita tatkala kita sudah tidak berdaya.”

“Kalimat do’a yang sering kami ajarkan kepada semua elemen pendidik dan tenaga pendidikan kami adalah ‘Ya Allah sekiranya hambamu ini diperkenankan untuk menghadapi-Mu maka janganlah  hamba-Mu ini dalam keadaan yang tidak berfaedah bagi kehidupan ini. Perkenankan hamba-Mu meghadap keharibaanmu dalam keadaan yang masih dibutuhkan oleh kehidupan ini,” demikian disampaikan Ismail.

Mengembangkan konsep pendidikan agama yang benar harus disertai dengan perilaku dan kebiasaan-kebiasaan baik seperti yang disampaikan dalam firman Allah dan tradisi kehidupan Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya. Ketauladanan menjadi rujukan keberhasilan MAN Kedang, tiada kekuatan yang melebihi tradisi ketauladanan dan itu guru atau tenaga kependidikan yang ada harus memulai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here