Muhammad Assad bersama mantan perdana menteri Malaysia, Mahatir Muhammad

Masa kecil Muhammad Assad dihabiskan di lembaga pendidikan Islam. Kini ia mengukir kesuksesan di usianya yang masih muda. Perjuangannya yang tak mudah kini telah berbuah. Pria kelahiran Jakarta, 16 Januari 1987, ini mendapat full scholarship untuk studi S1 dan S2. Beasiswa S1 diberikan oleh Petronas dan S2 dari Emir (Raja) Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani. Karirnya meroket. Assad kini adalah seorang wirausahawan muda yang sukses, praktisi keuangan syariah, pembicara internasional, dan penulis buku-buku national bestseller.

Assad lulus S1 Program Business Information Systems dengan predikat first-class student honours dari University of Technology Petronas, Malaysia, dan meraih tiga penghargaan saat kelulusan: Rector’s Gold Award, The Best International Student Award, dan Chancellor Award, penghargaan tertinggi dari Universitas yang diberikan langsung oleh Mantan Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohamad. Ia melanjutkan studi S2 Program Islamic Finance di Hamad bin Khalifa University, Doha-Qatar. Assad lulus S2 (Msc) dengan predikat summa cum-laude pada tahun 2012. Saat kelulusan S2 inilah Assad mendapat penghargaan dari First Lady Qatar, Her Highness Sheikha Moza bint Nasser.

Selain produktif menulis, Assad sekarang juga sibuk sebagai CEO Rayyan Capital, perusahaan yang didirikan bersama temannya Edwyn Rahmat yang bergerak di bidang investasi dan keuangan serta menjadi Chairman NFQ Group, yang fokus dalam membuat program-program edukatif dan inspiratif bagi anak muda. Lima buku telah lahir dari tangannya dan semuanya menyandang predikat terlaris nasional, antara lain Notes From Qatar 1, Notes From Qatar 2, Sedekah Super Stories, Good Morning Qatar, dan 99 Hijab Stories.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here