Pendidikan Yang Membebaskan
Pendidikan Yang Membebaskan
Pendidikan Yang Membebaskan
Pendidikan Yang Membebaskan

Judul Buku : Pendidikan Pembebasan Dalam Perspektif Barat & Timur
Penulis : Umiarso, M.Pd.I & Zamroni, M.Pd.
Penerbit : Ar-Ruzz Media, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal : 212 halaman

Oleh: Supriyadi

Pendidikan merupakan kebutuhan manusia yang harus terpenuhi. Kebutuhan manusia akan pendidikan tersebut bisa disetarakan dengan kebutuhan manusia untuk makan, berpakaian, dan bertempat tinggal. Dengan demikian, pendidikan menjadi kebutuhan primer bagi manusia. Tidak hanya demikian, dengan pendidikanlah manusia akan menemukan hakikatnya sebagai manusia. Oleh karenanya, pendidikan harus menjadi media pembebas manusia.

Pendidikan adalah aksi pembebasan manusia dari belenggu kebodohan baik itu berupa kebodohan secara intelektual maupun moral-spiritual agar menjadi manusia yang seutuhnya. Dengan demikian, pendidikan adalah hak setiap manusia, bahkan kewajiban setiap manusia untuk mendapatkan pendidikan. Karena jika manusia itu tidak berpendidikan, maka manusia akan terbelenggu dalam kubangan kebodohan.

Umiarso, M.Pd.I dan Zamroni, M.Pd dalam buku yang berjudul “Pendidikan Pembebasan dalam Perspektif Barat & Timur” menguraikan bagaimana pendidikan itu menjadi media pembebasan manusia. Pada dasarnya, pendidikan itu adalah pembebasan, oleh karenanya pendidikan tidak boleh menjadi ajang untuk melestarikan doktrinasi, pemaksaan, keterkekangan berpikir, dan pembunuhan kesadaran kritis manusia.

Berpijak pada pemikiran pendidikan Paulo Freire yang berpendapat bahwa pendidikan merupakan praktik pembebasan. Freire mengemukakan bahwa pendidikan dapat digunakan sebagai alat pembebasan yang meletakkan manusia pada fitrah kemanusiaannya. Secara konsisten, pendidikan harus ditempatkan dalam konfigurasi memanusiakan manusia, yang merupakan proses tanpa henti dan berorientasi pada pembebasan manusia melalui aktualisasi kesadaran kritis yang ia miliki (hlm. 188).

Jika kita refleksikan pemikiran tersebut pada praktik pendidikan di Indonesia saat ini belumlah sesuai. Pendidikan di Indonesia masih mendoktrin, tidak jarang juga mengekang tumbuhnya kesadaran kritis, bahka sering terjadi kekerasan dalam pendidikan, serta normatifitas di dalamnya membuat peserta didik seolah menjadi robot yang terprogram untuk suatu kepentingan. Hal itu merupakan warisan dari pendidikan represif masa orde baru yang bertujuan untuk melahirkan kuli-kuli sehingga mampu melancarkan program penguasa, yakni pembangunan.

Pendidikan di Indonesia di masa kini harus direkonstruksi dan didekonstruksi sekaligus untuk menghapus status quo dalam pendidikan yang telah ada sebelumnya. Orientasi pendidikan Indonesia harus tepat pada titik pembebasan. Meski demikian, kebebasan di sini bukan berarti bebas secara ekstrem dan radikal serta tidak bertanggunjawab, melainkan kebebasan untuk berpendidikan, berpikir kritis, dan beradab sehingga terjadi keharmonisan dalam kehidupan yang bermartabat.

Dengan demikian, pemikiran Freire tersebut harus dibumbui dengan pemikiran dari Timur (salah satunya Islam) yang tidak hanya membebaskan kemanusiaan manusia di muka bumi secara horizontal. Pendidikan juga harus ditegaskan secara vertikal untuk mengenal dimensi transenden sehingga terjadi keseimbangan. Dimensi transendental dalam pendidikan tersebut adalah guna memungkinkan manusia mengenali Yang Maha Tak Terhingga, Tuhan semesta alam.

Orientasi pembebasan bagi manusia harus ditempatkan pada posisi yang integral antara dimensi sekuler dan transenden. Kebebasan sebagai potensi dasar harus dimanifestasikan dengan bertanggungjawab karena ia merupakan amanat dari Tuhan, Pencipta alam semesta dan realitas kehidupan (hlm. 190).

Dengan mengkombinasikan paradigma pendidikan horizontal dan vertikal tersebut tidak lain adalah untuk membentuk manusia yang terbebas dari ketertindasan dan kebodohan serta beradab. Hal ini sebagaimana tujuan pendidikan yang tidak hanya sekedar transfer of knowledge (transfer ilmu pengetahuan) akan tetapi juga transfer of value (tranfer nilai).

Secara sederhana, fungsi pendidikan adalah untuk menjadikan manusia yang tidak mudah dibodohi dan tidak mau membodohi. Tidak mudah dibodohi artinya bahwa manusia itu memiliki kecerdasan intelektual yang dengannya manusia mampu berpikir kritis. Sementara tidak membodohi adalah bahwa manusia yang berpendidikan itu memiliki moral dan etika yang mulia sehingga menjadi manusia yang mulia pula serta mampu mengenal Tuhannya.

Akhirnya, dengan membaca buku yang berjudul “Pendidikan Pembebasan dalam Perspektif Barat & Timur”, para pembaca diajak untuk menelusuri konsep pendidikan pembebasan yang terkombinasi dari perspektif Barat (Paulo Freire) dan Timur (pendidikan Islam) untuk menuju pendidikan yang membebaskan kemanusiaan manusia. Dengan kebebasan kemanusiaan manusia, manusia akan menemukan hakikat kemanusiaannya dan bertanggungjawab atas kebebasannya serta mampu mengenak Tuhannya.

Supriyadi,  pengamat sosial pada Fak. Tarbiyah & Keguruan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

2 COMMENTS

  1. Akhirnya, dengan membaca buku yang berjudul “Pendidikan Pembebasan dalam Perspektif Barat & Timur”, para pembaca diajak untuk menelusuri konsep pendidikan pembebasan yang terkombinasi dari perspektif Barat (Paulo Freire) dan Timur (pendidikan Islam) untuk menuju pendidikan yang membebaskan kemanusiaan manusia. Dengan kebebasan kemanusiaan manusia, manusia akan menemukan hakikat kemanusiaannya dan bertanggungjawab atas kebebasannya serta mampu mengenak Tuhannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here