Para Pejuang Kemanusiaan Dunia
Para Pejuang Kemanusiaan Dunia

 

Para Pejuang Kemanusiaan Dunia
Para Pejuang Kemanusiaan Dunia

Judul : Para Pejuang Kemanusiaan
Penulis : Najamuddin Muhammad
Penerbit : Divapress, Yogyakarta
Tebal : 237 Halaman
Cetakan : November, 2014

Para pejuang yang melampaui sekat suku, agama, ras, bendera, golongan, dan bahkan negara namanya layak dikenang serta diabadikan.

Mereka telah mampu memandang hakikat manusia secara hakiki dan mampu menerjemahkannya dalam kemesraan untuk saling bertegur sapa, mengisi, dan membantu dalam bungkus kemanusiaan.

Ikatan kekeluargaan atas dasar kemanusiaan akan melahirkan desa global di mana antara yang satu dan lainnya dijauhkan dari sifat fanatisme golongan. Yang akan tercipta justru saling bergandengan tangan untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan melawan segala bentuk penindasan yang memberangus nilai-nilai insani.

Buku Para Pejuang Kemanusiaan adalah salah satu cara untuk mengenang dan mengabadikan para pejuang kemanusiaan universal. Buku ini mengandung biografi, hidup, pemikiran, dan perjuangan-perjuangan yang dilalui lewat jalan terjal dan berliku penuh tanjakan.

Meski banyak rintangan mengadang, mereka tetap mempertaruhkan hidup untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Di Indonesia mereka diwakili antara lain Abdurrahman Wahid (Gusdur), Romo Mangun Wijaya, Munir, dan Kartini.

Mereka sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Gusdur terbukti menjadi pejuang kemanusiaan dan pembela hak-hak minoritas baik sebelum menjadi presiden maupun setelah pansiun dari dunia politik (hal 146).

Sosok Munir sejak kecil mulai respek pada hak-hak kaum buruh hingga terus menjadi aktivis kemanusiaan yang selalu hadir memperjuangkan keadilan bagi kaum lemah.

Meskipun harus berakhir dengan kematian yang tak disangka-sangka, dia akan selalu dikenang dan mencari keadilan untuk Munir. Romo Mangun adalah sosok yang mampu mengasihi dan menyentuh setiap manusia dengan penuh ketulusan.

Cinta kasihnya terpancar dari keimanan sehingga mampu merangkul manusia dengan penuh keakrapan tanpa pandang bulu. Mereka yang malang ataupun beruntung, gembira atau sedih, Islam atau Kristen atau agama lain, miskin ataupun kaya, baginya sama saja (hal 115).

Buku ini juga banyak memuat kisah perjalanan panjang penuh tantangan untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dengan cara berbeda-beda dari tokoh dunia. Ada Nelson Mandela dengan kebijakan politiknya yang humanis.

Muhammad Yunus yang menggerakkan ekonomi kerakyatan. Kemudian Rabindranath Tagore yang berkarya lewat tulisan dan tindakan edukatifnya. Di Amerika Latin dikenal Che Guevara sebagai revolusioner sejati. Che adalah aktivis yang melampaui sekat-sekat perbedaan.

Dia berjuang bersama untuk menantang penindasan tanpa membedakan golongan. Dia berujar, “Jangan hiraukan bendera karena kita berjuang menegakkan masalah suci penyelamatan kemanusiaan sehingga mati di bawah bendera Vietnam, Venuzuela, Guatemala, Laos, Ghana, Kolombia, Bolivia, Brasil, bukan persoalan” (hal 174).

Buku yang dikemas dengan naratif ini akan memudahkan pembaca mengenal perjalanan hidup para tokoh secara lebih nyaman, tanpa harus kehilangan aspek kajian-kajian pemikiran tiap tokoh.

Bacaan ini harus mampu mendorong reaktualisasi nilai-nilai kemanusiaan di negeri yang masih penuh baku hantam, saling cerca, dan sikut antargolongan ini atas alasan-alasan yang sempit. n

Diresensi Fitri Wijayati, alumna Fakultas Ilmu Budaya UGM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here