Kitab Taisir al Ijtihad, as Suyuthi
Kitab Taisir al Ijtihad, as Suyuthi

Madzhab Syafii memiliki seorang intelektual besar dan disegani dalam dunia Islam. Yaitu Jalâl ad-Dîn Abd ar-Rahmân as-Suyûthî, ia lahir di Kairo bulan Rajab 849 H dan meninggal 911 H. Sejak kecil ayahnya telah mengjarinya ilmu agama dan menyuruh untuk menghafalkan Al-Quran. Menginjak umur lima tahun sang ayah menghadap Sang Pencipta. Ia dijuluki ibn al-kutub, karena konon katanya ia lahir di atas tumpukkan buku.

Kitab Taisir al Ijtihad
Kitab Taisir al Ijtihad

Saat ayahnya meninggal si kecil Jalâl ad-Dîn as-Suyûthî baru hafal Al-Quran sampai surat At-Tahrîm. Tetapi karena kecerdasannya, tak sampai umur delapan tahun ia sudah selesai menghafal Al-Quran. As-Suyûthî belajar pada banyak ulama yang tekenal pada zamannya. Di antaranya ia belajar fikih pada ‘Alam ad-Dîn al-Balqînî dan tafsir pada Muhyî ad-Dîn al-Kâfîjî.

Dari tangannya lahir lebih dari tiga ratus buku. Sedang karya yang sanpai pada kita di antaranya ialah Tafsîr al-Jalâlain, al-Itqân fi ‘Ulûm al-Qur’an, Mu’tarak al-Aqrân, ad-Dur al-Mantsûr fi at-Tafsîr al-Ma`tsûr, Lubâb an-Nuqûl fi Asbâb an-Nuzûl, al-Iklîl fi isthimbâth at-Tanjîl, al-Jâmi’al-Kabîr, al-Jâm’ ash-Shagîr, al-Asybâh wa an-Nadhâir, Taisir al-Ijtihâd, dan masih banyak karya lainnya.

Kitab yang disebut terakhir, yaitu Taisir al-Ijtihad merupakan sebuah buku kecil yang mengkupas tentang ijtihad. Ijtihad sebagaimana yang kita ketahui ialah mengerahkan segala kemampuan nalar untuk menghasilkan hukum Allah. Namun apakah setiap orang wajib melakukan ijtihad? Di sinilah as-Suyûthî tampil memberikan jawaban yang sangat memuaskan, bahwa ijtihad adalah kewajiban kolektif (fardh al-kifâyah). Jadi, ketika sudah ada orang yang melakukannya maka gugurlah kewajiban setiap orang.

Untuk mendukung pendapatnya as-Suyûthî menyebutkan beberapa pendapat ulama. Di antaranya pendapat az-Zarkasyî yang menyatakan bahwa ijtihad adalah kewajiban kolektif [H. 21].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here