Guru sedang memfasilitasi diskusi siswa

Dalam proses pembelajaran, seorang guru sering dihadapkan dengan keheningan siswa di kelas setelah pembahasan materi. Mereka seolah tidak memahami apa yang mau ditanyakan, ditanggapi, maupun dikritisi dari penjelasan guru. Kondisi ini juga tak jarang memperlihatkan tidak percaya diri (pede) siswa untuk berupaya mengemukakan pertanyaan dan argumen di kelas.

Persoalan tersebut harus dicairkan oleh guru karena kerap kali pertanyaan dan argumentasi siswa mendapat olok-olok dari siswa lain dikarenakan kesederhanaan pertanyaan dan tidak menyambungnya argumentasi. Di titik inilah pengahargaan (reward) seorang guru dari sekecil apapun prestasi siswa harus dilontarkan agar motivasi belajar tetap membuncah. Hal ini juga akan berdampak kepada siswa lain untuk mengemukakan unek-unek dalam materi pelajaran.

Dari beberapa kondisi tersebut, para siswa harus dipacu oleh guru sebagai fasilitator untuk bersama-sama mengeluarkan pendapatnya atas pembahasan suatu materi pelajaran. Di sinilah pentingnya mengoptimalkan berbagai metode, terutama meotde diskusi. Karena perasaan takut, malu, dan tidak pede mungkin muncul di kelas jika para siswa tidak terbiasa mengutarakan pendapat mereka. Di titik inilah peran guru diharapkan mampu membantu para siswa agar lebih aktif dalam memberikan pendapat di kelas.

Metode diskusi juga diterapkan agar tidak terjadi dominasi siswa pintar. Artinya, semua siswa mendapat proporsi yang setara untuk mengemukakan pendapatnya sehingga kapasitas mental siswa terbangun melalui sikap percaya diri dari proses diskusi ini.

Secara teoritik diskusi adalah proses tukar pikiran antara guru dan siswa atau antara siswa dengan siswa lainnya. Menurut Hendrikus (1991), diskusi dapat terjadi dalam kelompok kecil maupun kelompok besar. Dalam diskusi, hasil akhir tidak harus sebuah kesimpulan atau keputusan, tetapi dapat pula untuk memperjelas permasalahan. Dalam diskusi di kelas, pada umumnya gurulah yang menentukan tujuan diskusi. Siswa dan guru bersama-sama menyimpulkan atau merumuskan informasi di akhir diskusi.

Manfaat diskusi tidak hanya mencakup kemampuan kognitif tingkat dasar, melainkan juga kemampuan kognitif tingkat informasi lebih tinggi di antaranya, pertama membahas materi, permasalahan atau ide-ide agar siswa mengetahui dan memahami pokok masalah. Kedua, mencari jalan keluar atau alternatif penyelesaian atas masalah agar siswa mempertimbangkan, mengevaluasi, merancang, menyimpulkan atau merumuskan pokok pikiran atau tindakan.

Diskusi dapat dirancang oleh guru dalam bentuk kelompok besar atau diskusi kelas maupun kelompok kecil yaitu siswa satu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Untuk bahan diskusi, guru menyususn berbagai pertanyaan dari persoalan atau permasalahan yang akan dibahas. Seperti yang telah dijelaskan terdahulu, diskusi bisa diarahkan untuk merumuskan solusi dari persoalan yang dibahas. Selain itu, diskusi juga bisa dilakukan untuk menemukan hal-hal baru, baik berupa persoalan baru, tantangan, kelemahan, potensi, dan lain-lain. Oleh karena itu, permasalahan yang digagas oleh guru dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan dapat diarahkan ke semua prinsip tersebut.

Diskusi yang paling efektif adalah yang menghasilkan berbagai ide dan gagasan dari para peserta didik yang terbentuk dalam kelompok-kelompok. Dengan demikian, dalam satu kelas, guru bisa menerapkan double technic (teknik ganda) yaitu diskusi kecil sekaligus diskusi kelompok besar. Diskusi kecil dilakukan siswa dengan kelompoknya masing-masing dan didampingi oleh guru dengan cara berkeliling ke setiap kelompok. Aktivitas keliling yang dilakukan oleh guru ini penting agar proses diskusi berjalan dengan efektif dan tidak banyak membuang waktu karena siswa akan serius dalam menyelasaikan materi-materi diskusi.

Setelah memastikan masing-masing kelompok telah selesai berdiskusi, guru kembali membentuk kelompok besar dengan cara membahas bersama dari persoalan-persoalan yang telah ditemukan oleh setiap kelompok. Masing-masing kelompok mewakilkan ketua dan sekretaris kelompoknya untuk memaparkan hasil temuan diskusinya kemudian ditanggapi serta dikritisi oleh kelompok-kelompok lain dan begitu seterusnya.

Dalam proses diskusi besar tersebut, peran guru sebagai fasilitator masih sangat diperlukan agar diskusi tetap berjalan kondusif dan fokus pada materi. Pada bagian akhir diskusi, guru mengompilasi hasil maupun temuan dari masing-masing kelompok untuk kemudian dijelaskan secara mendalam. Dengan demikian, pemahaman para siswa terhadap materi yang didiskusikan akan makin mengkristal dan utuh.

Adapun pada bagian akhir pembelajaran, guru perlu mengevaluasi setiap kelompok bahkan setiap siswa agar ke depan proses pembelajaran yang dilakukan oeh siswa semakin lebih interaktif. Selain itu, guru juga perlu memberikan reward kepada suatu kelompok yang mampu menjalani proses diskusi dengan baik dan aktif. Reward ini akan memunculkan motivasi dari kelompok lain agar ke depan juga lebih baik dalam menjalani diskusi kelompok. Selamat menerapkan! (Fathoni Ahmad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here